Nasib Mangrove Mangrove Kendari

Salah satu bakau diteluk Kendari (Foto: www.azizmukhsinmarine.com)




Umurku tengah masuk pada masa produktif, likukan otot dibadanku membentuk bulatan roti, kekar kaku memperlihatkan tanda kekuatan. Tubuh yang kuat memberiku semangat dan kesempatan untuk membantu manusia agar terhindar dari bencana banjir. Mungkin untuk itulah aku dilahirkan dan dikuatkan oleh Tuhan. Kelak, ketika aku tengah lanjut usia dan generasiku telah tumbuh merambahi Teluk Kendari, aku akan mengemis pada manusia agar datang menebangku. Apa daya hidupku jika tak lagi bisa membantu manusia. Hidupku hanya akan merampas lahan generasiku yang lebih bermanfaat hidupnya bagi kedamaian hidup manusia. Tapi, sebelumnya aku ingin menceritakan dulu bagaimana perjalanan hidupku hingga bisa kuat seperti ini.

Masa Kecil
Senior saya pernah bercerita: ”Dahulu ada seorang bapak tua berumur 66 tahun, pekerjaannya adalah nelayan pengejar ikan kerapu, ia mengais rejeki di sekitaran Teluk Kendari. Pada waktu itu, beliau ketiban rejeki mendapatkan ikan yang lebih dari biasanya. Kala itu, dia memarkir sampannya di tubuh seniorku yang sedang dikelilingi oleh sampah rumah tangga. Atas tindakan tersebut, badan seniorku menjadi kaku dan mengeluh tajam pada bapak tua itu”. Dalam hati ia berkata: “Kenapa kau tidak mengikat saja tali sampanmu di tubuh temanku yang lebih kekar itu, atau setidaknya kau bersihkan dulu sampah yang mengitari tubuhku agar aku bisa bernafas legah dan memiliki sedikit tenaga untuk menahan sampanmu agar tak terhembus ombak". Tapi bapak tua itu cuek. Setelah mengikat sampannya, beranjak saja ia menuju daratan sembari mengangkat hasil pancingannya dan kemudian menuju ke palelangan untuk menjual hasil tangkapannya”.

Setelah dua minggu menikmati hasil tangkapannya didarat, si bapak tua lalu kembali turun ke pinggir teluk berniat mengadu nasib di sekitar Teluk Kendari. “Eh!”--terkejut bapak itu--hendak niat menginjakkan kaki di becekan, kepanikan mengitarinya, pandangannya hampa. Hanya bakau lapuk, patah, dan deburan ombak lautan didepannya. Perasaan buruknya pun muncul, ia penuh curiga. Gumamnya: “Ini ulah pencuri”. Ia bergegas mengelilingi sekitaran hutan bakau tempat ia markir sampannya. 
3 jam waktu yang ia habiskan namun tak ketemu jua yang dicarinya. Akhirnya ia kembali ke darat mencari rumah ibadah untuk mengambil wudhu dan mengadu pada Tuhannya. Akal sehatnya mengatakan hanya tuhanlah tempat peraduan yang nyaman. Berurusan dengan aparat itu ribet dan menyita waktu serta perlu memakai ongkos pelican kalau mau disungguhi peraduannya.

Setelah melakukan penyembahan, dengan gegap gempita bergegas lagi ia melanjutkan pencariannya. Semangatnya kembali. Lama mencari dengan perasaan emosi, sedih, penuh harap dicampur bau badan yang menyelingat, dia berjalan lesuh menuju rumahnya yang berada di atas bukit Kendari. Kejadian itu hanya ia bagi dengan istrinya. Istrinya pun hanya berkata: “Tabahlah menghadapi cobaan ini, toh kita masih punya kesediaan pangan sampai 7 hari kedepan, masih ada waktu 4-7 hari untuk mendapatkan sampan itu. Istirahatlah engkau, besok saja mencarinya lagi”.

2 hari lagi persediaan pangan akan segera habis, bapak tua itu ditemani secangkir kopi hangat dan gepulan rokok gulser duduk ia di beranda rumahnya memandang teluk yang seperti biasa melakukan aktifitas pasang surut. Dia kemudian mencoba mengingat-ingat kejadian beberapa pekan lalu. Sekilas, ia mendapatkan gambaran kalau bakau tempat dia menggantungkan tali sampannya itu adalah bakau uzur dimana batangnya tengah lapuk. Penyesalan yang terjadi. Tanpa memberitahu siapapun, bapak tua langsung saja membuat surat wasiat yang dituju pada istrinya. Bunyinya demikian : “Jangan tangisi kepergianku, sesungguhnya saya hanya akan tenang di akhirat ketika engkau menjual emas yang kita beli dari hasil tangkapan kemarin dan carilah bibit mangrove sebanyak 100 buah, tanamlah bibit mangrove itu di sekitar Teluk Kendari dengan tangan dan keringat kamu sendiri beserta anak sulung kita”. Setelah menulis wasiat itu, bapak tua menyimpannya di beranda, menindisnya selembar kertas itu dengan krikil dua biji dan segera berlari ia ditengah hutan untuk menghentikan nafasnya. Bagi beliau, itu adalah tindakan adil. Ia memilih menghentikan nafas selamanya sebagai upaya untuk berperilaku adil pada alam. Hasil renungannya menyatakan, selama ini ia tak pernah merawat tempat ia mengais rejeki dan menggantungkan hidup. Menyesal penuh sesalan . Itulah saya salah satu dari 100 bayi bakau tersebut.

Remaja-Dewasa
Untuk mendapatkan body ideal seperti saat ini, mangrove juga membutuhkan latihan yang disiplin. Mau tau duka cita proses pendewasaan dan latihan bakau seperti apa? Pada musim tertentu, setahun sekali saya bersama teman-teman harus bergelut menahan air pasang yang ingin naik ke daratan. Belum kemudian angin laut yang menghempas menuju by pass sebelum ke jalan poros, angin menghinggapi saya dulu. Dingin adalah sarapan kami. Bukan itu saja, saya dulu juga sering di gelitik ikan bontiti, kepiting, kalandue, biawak dan aneka satwa yang mengelantungkan hidup ditubuh mangrove. Tapi itu dulu, mangrove di zaman modern ini bertemannya dengan sampah rumah tangga, softeks bekas, atau baliho bekas calon kepala daerah, legislatif, dan iklan dari perusahaan besar.

Aktivitas saya pada malam hari penuh dengan dunia hitam. Pasti Anda mungkin keheranan, adakah mangrove bisa menggeluti dunia hitam? Saya pada malam hari, sering melihat dua pasang manusia bermesraan dipinggir teluk. Terkadang, ketika suasana sunyi, mereka saling colek mencolek tubuh hingga kearea sensitive dari pasangannya. Malah saya pernah melihat mobil yang diparkir di pinggir by pass lalu didalam mobil itu terdapat dua pasang manusia yang saya seolah tidak tahu mereka berbuat apa, hingga mobilnya tergoyang bak papalimbang yang mengarungi derasnya ombak. Semua aktivitas manusia itu sangat menggoda imanku. Tapi apa daya, saya kan tak punya kaki seperti manusia, dengan terpaksa nikmati sajalah ulah manusia itu. ini juga kesempatan saya untuk memberitahukan pada Anda, bahwa sebab mangrove di Teluk Kendari tumbuh subur dan pesat bukan karena suburnya tanah dan segarnya bibit yang tertancap ditelukan, tapi karena proses rangsangan dari manusia dimalam hari.

***

Telah dibebankan dipudakku amanah dari Tuhan untuk membantu manusia agar terhindar dari bencana. Mau tidak mau, ketika tuhan berkehendak maka sebagai hamba sahaya, dengan menegakkan dada dan penuh turut, tentunya menerima hal tersebut. “Kau sengaja kucipta, selamanya hanya akan jadi pahlawan bagi manusia dan ekosistem lain yang bergantung hidup padamu”. Begitu kata Tuhan.

Pada bulan Agustus 2013, seorang demonstran (manusia) yang tidak lain merupakan anak sulung dari almarhum bapak tua datang membisiku: “Hidupmu tak akan lama lagi, sebentar lagi teluk ini akan dirombak, akan ada mesjid megah ditengah teluk ini, akan ada jembatan penghubung dari Kota Kendari ke Bungkutoko sana, dan akan ada pihak asing yang sudah berkedip mata dengan pemerintah untuk menjadikan teluk ini sebagai icon Kota. Sayangnya kau dan kaummu yang akan jadi tumbal atas segalanya. Ketika datang buldoser menghampirimu, langsunglah mengucap 2 kalimat syahadat. Jangan bersedih, karena kau akan menjadi sejarah dalam peradaban Kota Kendari menuju Kota Metropolitan. Maafku yang sedalamnya karena perjuanganku dalam membela kaummu terhenti sampai disini. Aku tengah berusaha bersama kawan-kawan aktivis lainnya. Maaf! Maaf! Maaf!...”

Mendengar ucapan itu, tubuhku merinding cemas. Mulai malam ini saya harus bertobat. saya tak mau lagi melirik orang bermesraan di pinggir by pass. Baik di dekat akarku maupun didalam mobil.

“Jin Afrut atau Indo Jin, masuklah dalam tubuhku, mari kita bersama-sama melawan pihak asing yang hampir tidak menghiraukan ummatnya. Kasihan manusia nantinya kalau saya dan kawan-kawan ditebang apalagi mau dianggap sampah dan di cebok agar hilang dari bokong Teluk Kendari. Siapa lagi yang mau menahan banjir dan angin badai lainnya kalau kami tak ada”.

“Hey sekawan Jin, datanglah! karena hanya sinergitas kita yang bisa menghentikan semua itu. Kita paham otak pihak asing dan kontraktor itu masih kuno. Ketika mereka nanti menebangku dan kau teriak serta mengeluarkan darah, pasti mereka langsung terbirit-birit untuk menghentikan penebangan. Pun kalau mereka memaksa kehendak, biarlah teluk ini berlumur darah dan getah agar kita menjadi tranding topic di Socmed serta dilirik oleh media nasional yang jarang memberitakan kota ini”.

Author : Riqar Manaba
Twitter : @riqarmanaba
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar