Bidadari Kecil

Ilustrasi

Mentari pagi. Sinarnya lembut memenuhi hamparan pepohonan Anggur yang terbentang berjajar bagai barisan tentara Nippon Jepang yang siap tempur. Rapih dengan keteraturannya. Sungguh hasil karya cipta dari sang maha Teratur. Tengoklah ranting yang meliuk-liuk indah itu. Luwes, cantik, pula lembut menenangkan hati yang galau. Rindang dedaunan yang melindungi buah buah merah menyala, menyatu dalam cinta yang tak terpisahkan. Sebuah kebebasan alam raya tanpa batas.

Seperti kebebasan yang aku rasakan pagi ini. Bebas menikmati cakrawala pagi di tengah pepohonan anggur milik Tuan.

Sesaat waktu berjalan lambat saat seorang bidadari tiba tiba hadir begitu saja, badanku merinding, ia berdiri tepat di hadapanku. Aku kaget tak terkira. Gerakan tubuhnya seperti membawa pesan dari surga. Surga yang jauh entah dimana. Aku tak tahu.

Parasnya cantik. Sekulum senyum tersembul dari mungil bibirnya. Pembawaannya riang tampak dari gemulai tubuhnya yang menari-nari gembira mengikuti gemulai kepakan sayapnya.

Sadar, angin yang menerbangkan dedaunan kering yang jatuh tadi rupanya berasal dari kepakan-kepakan sayap itu. Sayap putih kapas, seputih kain yang membalut sebagian tubuhnya.

Mungkinkah ini mimpi.

Sesaat pandanganku bertatap dengan kedua bola matanya yang bening kebiruan. Tak sadar tubuhku terangkat ke udara. Aku melayang terbang ke atas langit bersamanya. Membebaskan tubuhku ke angkasa. Tinggi dan semakin tinggi ke atas. Menjauh dari bumi.

Aku merasakan tubuhku bebas dari kemurkaan dan kemunafikan. Nilai yang telah membungkus bumi manusia. Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang hanya dapat dinikmati di alam para bidadari. Bidadari yang memang hidupnya di alam surga. Alam yang sangat berbeda dengan bumi manusia. Tempat hidup orang-orang yang bebas dari rasa sangka prasangka. Bebas nilai.

Jauh Aku pergi meninggalkan pagi dan pepohonan anggur di ladang milik Tuan menyadarkanku akan sesuatu yang berbeda. Kegalauan dan keresahan yang menghinggapi hidup tiba-tiba sirna. Pun realitas kepalsuan dari opera banyolan para Tuan yang penuh amarah dan tawa tanpa makna telah pergi tak berbekas dalam pikiranku.

Hanya indah yang Aku lihat saat benar-benar berkeliling memutari rotasi putaran bumi.

Dari atas sini. Pandanganku seperti meneropong virus kebiadaban. Tampak jelas. Wajah-wajah manusia digenangi tangisan penderitaan karena jeratan tali-tali para Tuan penguasa yang mencekik leher-leher kaum papa. Nista. Menafikan fitrah kemanusiaan. Meruntuhkan relasi hubungan agama dan kehidupan bermasyarakat. Mengganti Sang Tuhan dengan harta kekayaan dan uang. Murtad.

Sekarang Aku tahu kenapa Nietsche tak menemukan Tuhan di bumi manusia. Karena Tuan ingin menjadi Tuhan di tanah kekuasaan Tuan. Tidakkah Tuan sadar bahwa bumi milik Sang Pencipta yang dititipkan pada Tuan. Tuan hanya terlena dengan gelutan jaminan kemahsyuran martabat Tuan. Candu kuasa atas kaum yang Tuan anggap budak itu telah menguasai Tuan tidak abadi. Suatu saat nanti Tuan juga akan kembali ke Tanah asal datangnya Tuan, dan tahu bahwa harapan yang Tuan puja, bukanlah Tuhan.

Aku terus berkeliling terbang melintas dari satu cakrawala ke cakrawala yang lain. Aku mersakan sejuk dalam hirupan nafasku. Ide perubahan memenuhi otakkku. Ciptaan keagungan ciptahan Tuhan terekam dalam hati dan sungguh mengispirasi. Ke-ada-anNya

Waktu berjalan cepat. Tak ada satu kata pun yang dapat terucap saat menjejakkan kakiku kembali ke tanah milik Tuan. Tanah yang dijejali pepohonan anggur manis nan merah.

Tuan. Begitulah yang terjadi. Saat Aku sedang menikmati sinar mentari pagi bersama ribuan pepohonan anggur di tanah milikmu. Buah anggur yang hanya dalam hitungan jam akan segera Aku petik dan membawanya ke pasar untuk dijual kepada para penikmat buah anggur yang telah lama menanti hari ini. Buah buah anggur akan dipetik. Bidadari dengan perangai lembut mendekatiku.

Mendekatiku dengan perangai yang tak akan mungkin dimiliki oleh makhluk dunia manapun. Lembut pancaran kedua bola matanya. Membisiku berbagai petuah hidup yang telah lama terkubur di alam manusia: Kejujuran, tanggung jawab, integritas serta loyalitas dan dedikasi tinggi dalam menjalani hidup merupakan sebuah perjalanan menuju pada satu makna kesempuranaan hidup insan kamil.

Itulah setitik pencerahan dari sang Bidadari tadi Tuan!

Wahai Bidadariku, tetaplah meng-ada dan jangan tinggalkan kami. Teruslah menari di tengah kegundahan. Terbanglah hingga rasa lelah memelukmu. Hinggaplah pada hati manusia setiap saat dan cerahkanlah jalannya atas kehedak Tuhanmu. Beristirahatlah wahai bidadari yang ayu jika rasa lelah menghampirimu. Bebaskan dirimu dari keterasingan nilai-nilai dunia, agar mimpimu tetap indah.

Senyuman dan tetesan air matamu adalah kelemahan mereka. Senyumanmu menjadikan mereka melupakan keindahan ciptaan Tuhan lainnya. Tanggisanmu membuat mereka menafikan penderitaan makhluk yang sangat menyedihkan. Engkau bukanlah candu, tapi sebuah inspirasi yang selalu ada dalam setiap nafas. Ada, dan tiadanya engkau sangat mempengaruhi putaran sebuah roda keteraturan.

Author: Denny Arditya
Twitter: @denny arditya
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar