Dongeng Kedewasaan



Dunia ini begitu indah. Saat tangan kanan tidak mampu meraih telinga kiri melalui pucuk kepala. Dunia pada masa itu terlihat penuh warna dengan gradasi yang abstrak. menjadikan kita bebas untuk memadukan berbagai warna sesuka hati. Masa dimana kedewasaan merupakan sesuatu yang sangat mahal harganya, sampai segala mainan kesukaan tak lagi dapat ditukarkan untuk mendapatkan sebuah kedewasaan.

Waktu terus menggerus masa kecil hingga mendekati kedewasaan, yang seharusnya membuat hati lebih riang. Dimana dimasa itu impian atas kedewasaan dapat digenggam. Riang, karena mainan baru berada didepan mata. Entah simbol kedewasaan atau suasana kedewasaan yang menjadikan Perasaan terasa resah dan pikiran bergejolak ketika kedewasaan coba berbaik hati untuk menyapa. Sapaan kedewasaan tiba-tiba saja menjadikan dunia terlihat menjadi dua warna yang menjemukan, warna penindasan dan kemunafikan.

Kedewasaaan menyapa melalui pentas pongah panggung awan, dan meniupkan aroma bunga raflesia yang menyengat. Pentas yang diperankan pemimpin kerajaan langit yang enggan menyapa bumi. Seandainya pentas itu beralaskan tanah, tentu saja rakyat kolong langit akan berpesta bersama dengan menghirup angin surga yang dihembuskan kekayaan alam nusantara.

Dewasa dulu baru jadi pemimpin, ataukah memimpin dulu baru jadi dewasa. Kedua pilihan yang bermain pada wilayah idea dan realitas. Bila ide dan realitas disatukan kedalam dunia yang diberi nama nusantara, terkadang terasa absurd. Dan ketika dipisahkan menjadi dongeng dan kemunafikan. Dewasa dulu baru memimpin, seharusnya menjadi sebuah ide yang menghasilkan sesuatu yang mensejahtrakan ketika diaplikasikan didunia realitas. Tetapi fakta di nusantara justru mengatakan lain. Pemimpin yang mengklaim dirinya dewasa dan santun dalam kata dan perbuatan, malahan mengeluarkan kebijakan dan kebijaksanaan yang tidak pernah dirasakan oleh masyarakat kolong langit.

Sebuah perjalanan semasa ataupun sesudah memimpin seharusnya menjadikan para pemimpin memetik pelajaran yang berguna bagi diri dan lingkungannya. Kumpulan pelajaran yang akan menjadikan seorang pemimpin menjadi dewasa, dan dimasa depan akan menghubungkan langit dan bumi dalam harmonisasi garis yang lugas dan tegas. Serta Idealnya menghasilkan kesejahtraan untuk masyarakat kolong langit. Mungkin inilah sebuah idealitas “Memimpin dulu baru jadi dewasa”.

Kerajaan-kerajaan langit yang didiami oleh pemimpin yang menganggap diri dewasa dalam sebuah dunia angan, Menjadikan pemimpin-pemimpin tak menyentuh tanah nusantara dengan nuraninya. Kedewasaan yang menjadikan masyarakat nusantara enggan menjadi dewasa, dan lebih memilih menjadi kanak-kanak yang bebas bermain dengan alam tanpa mengubah alam nusantara. Lebih memilih membunuh harapan dan mempertahankan fisik serta mental untuk tetap hidup. Harapan hanyalah sebuah candu yang lambat laun akan menggrogoti fisik dan mental, serta menenggelamkan dalam gelombang kedewasaan pemimpin kerajaan langit yang utopis. Harapan tidak lagi sebagai doa, tetapi menjadi sebuah ilusi yang seolah-seolah nyata karena telah melompat dari tempat bersemayamnya. Bahkan terkadang membunuh Tuhan, karena harapan telah menjadi tuhan yang baru.

Kedewasan bukanlah suatu tindakan mengumpulkan sumberdaya sebanyak-banyaknya, akan tetapi kedewasaan adalah suatu sikap mengurangi berbagai hal yang tidak dibutuhkan, termasuk sumber daya. Kedewasaan adalah sebuah pilihan rasional yang disertai oleh gerak tubuh, yang nantinya membentuk sebuah kehidupan yang madani. Kedewasan seharusnya membentuk garis dinamis yang linear, bukan sebuah garis kaku yang dalam perjalannya berulang-ulang.

Author: Denny Arditya
Twitter: @denny arditya
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar