Rahasia Berdarah Di Sulawesi Tenggara

Perjalanan saya keliling Maluku Utara dan Sulawesi akibat rejeki nomplok dari sebuah perusahaan kecap terkemuka. Sebagai seorang fotografer, saya diminta mengabadikan foto seluruh kuliner tradisional atau khas di seluruh wilayah tersebut. Ditemani seorang rekan penulis, kami berdua memulai perjalanan darat dari Ternate, Jailolo, Bitung, Lembeh, Manado, Gorontalo, Palu, Mamuju, Kendari dan berakhir di Bau-bau. Selama hampir dua minggu lebih sejak pertengahan Agustus kami menemukan beragam kuliner khas masing-masing daerah.

Tidak habisnya saya mengucapkan syukur bahwa saya dilahirkan di negeri sejuta budaya asli terutama kuliner yang kaya produk nusantara. Hitung-hitung jenuh dengan tembok beton dan aspal ibukota, peliknya berita politik dan orang-orangnya, keindahan alam menggantikan penglihatan saya selama beberapa minggu tersebut. Setelah selesai menapaki Mamuju, pada awal September kami melanjutkan perjalanan ke Kendari, Sulawesi Tenggara. Kota yang masih dibayangi oleh budaya Kerajaan Buton, saya tidak sabar ingin mengungkap kuliner apa yang ada disini.



Seperti biasanya, jadwal harian yaitu ke pasar tradisional, ke pelelangan ikan, rumah makan khas atau rumah penduduk yang bisa memasak kuliner khas setempat. Namun ketika saya sampai di Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Kota Kendari, wajah saya berubah dari takjub menjadi terkejut bercampur marah.

Beberapa ekor hiu segar yang sudah tidak bernyawa dililit dengan tali diatas sebuah sepeda motor. Darah segar masih mengucur dari ekor yang dipotong dan mata hitam mereka hanya tinggal tatapan kosong. Dengan kamera yang selalu saya ajak serta, momen ini tidak boleh ketinggalan saya abadikan! Antara kesal dan sedih, saya terus memotret hiu-hiu tersebut sementara dikelilingi warga di pelelangan ikan itu. Saya menahan rasa kesal saya dan berniat menyelidiki singkat di sela-sela waktu saya di Kendari.

Keluar dari Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Kota Kendari, saya melanjutkan perjalanan dengan motor seorang teman yang kebetulan tinggal disana. Di pertengahan jalan, emosi yang sudah agak reda kembali bergolak melihat seorang pengemudi motor dengan santai membawa beberapa ekor hiu lainnya! Mungkin ada sekitar dua atau tiga hiu dewasa yang diangkut diatas motor tersebut. Saya kembali mengeluarkan kamera dan mengabadikan moment tersebut. Pengemudi mengacungkan keatas jempolnya kearah saya, namun saya membalasnya dengan jempol kearah kebawah sebagai bentuk kekecewaan.


Sesampainya saya di sebuah rumah makan, saya iseng bertanya kepada teman saya disana apakah perburuan hiu memang umum di Kendari? Ia menjawab memang umum dan juga warga lokal biasa mengkonsumsi penyu, Anoa, Jonga (sejenis rusa) dan telur burung Maleo. Jawaban yang sebetulnya tidak ingin saya dengar namun sedih jadinya. Foto hiu yang saya temukan di Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Kota Kendari saya unggah di media sosial dan mendapatkan banyak respon negatif atas perburuan hiu di Kendari. Usut punya usut, hiu yang saya lihat itu adalah hiu dewasa jenis thresher (Alupias Vulpinus) yang mempunyai ekor panjang.

Menurut informasi tambahan yang saya dapat, perburuan hiu di Kendari selain umum, tidak melihat usia hewan tersebut. Hiu yang ditangkap kemudian dijual di Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Kota Kendari dengan harga Rp. 600.000/ 50 kilo. Betapa harga yang sangat tidak sepadan dibandingkan melihat populasi mereka yang semakin habis di lautan. Perburuan hiu kerap terjadi di laut Lapulu, tidak jauh dari tepian teluk Kendari. Walaupun bukan untuk santapan sehari-hari namun bukan berarti menjadi sebuah pembenaran. Ketika saya tanya apakah perdagangan hiu ini legal di Kendari, saya belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Padahal secara faktual semua hiu jenis thresher sudah dianggap hampir punah oleh International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (www.iucn.org) pada tahun 2007(1).

Mungkin di dalam pikiran orang pada umumnya, hiu diburu untuk dimakan siripnya (shark finning) karena terkenal akan kandungan gizi untuk manusia. Kenyataannya berkata sebaliknya. Kandungan merkuri yang tinggi yang terkandung dalam sirip hiu berbahaya terutama bagi otak manusia. Bahkan β-N-methylamino-L-alanine (BMAA) yang merupakan neurotoxin penyebab penyakit Alzheimer's dan Lou Gehrig's disease mengancam manusia yang mengkonsumsi hiu. Hal ini didukung oleh Deborah Mash, seorang peneliti dari University of Miami Brain Endowment Bank(2). Belum lagi untuk jenis thresher shark sendiri hanya mereproduksi populasi mereka beberapa ekor saja dari setiap pasangan dengan pertumbuhan yang sangat lambat(3). Jadi apakah fakta yang saya sampaikan dan juga peristiwa yang saya lihat langsung di Kendari akan menyurutkan perburuan hiu terutama di lautan Indonesia? Semoga saja banyak pikiran yang terbuka dan nurani akan alam ikut terketuk. (btr/2014)


(1) http://www.threshersharkproject.org/TSRCP/Conservation.html
(2) http://www.livescience.com/18636-shark-fin-soup-neurotoxin.html
(3) http://www.fishwatch.gov/seafood_profiles/species/shark/species_pages/atl_common_thresher_shark.htm


Author : 
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar