"BELENGGU"

Bercorak hitam, abstra memikat, teretak, mengkusam, mulai memudar, samar agak pucat berani tampil memikau.Cakrawala takjub, terbata-bata biru melatari, raba-rubu burung camar mengicaukan kabar
Jabang surya telah membias berai menawarkan pesona.Tabiat perabotan langit berotasi pera bintang dan sang kekasih telah gugur terombak cabang sinar merajak dan berakar tertancap merubuhkan taazur lelap adam.

Para malaikat bertualang ketat beradu dengan waktu menebar rejeki di balik pondasi nabatah.Ayam jantan berkokok sedikit bergurau sedangkan betinanya mesra mengerami calon anak mereka.Serigala gemetaran, kemarau di tenggororkannya, mencoba bersembunyi dalam bayang gua yang tak berpintu.

Yahudiah gencar dengan strategi hitler, memborbardir setiap kaum dengan teknologi masa depan.Menyerang setiap celah logika agama dengan karya setannya. Mengharapkan pujaan, mereka terus berwacana.

Di cumbui oleh isi kepalanya yang terus berkecamuk liar, masih beronani dengan ilmu pastinya, sambil membaca mantra, berkomat-kamit, deras mengalir dari punggung bibirnya, menciptakan mendung berkesinambungan gerimis pada pagi itu.

Dengan tubuh yang basah, mereka menjepit zabarjad pengetahuan umat manusia diantara katiaknya.Kami menyaksikan, memberikan pujian berlanjut tepukan tangan yang begitu keras untuk karya tuhan mereka yang sebentar lagi kami akan puja.

Malang, 14 Maret-2014

Author: Afif  Novaldy
Twitter: @afifnovaldy
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar