Di antara Sekat Masjid dan Gereja

13903086551728750715

Yang hijau sebelah kanan pada foto di atas adalah mesjid di daerah saya, gak begitu jauh dari rumah. Sebelah kirinya itu gereja, hanya terpisah sekat dinding. Entah kapan bangunan unik ini mulai berdiri, yang pasti sudah ada sejak jaman saya masih peperin ingus ke lengan baju.

Sampai saat ini alhamdulillah gak ada masalah. Masing-masing umat gak ngurusin peribadatan umat lain. Padahal kalo mau pake logika, ingar-bingar musik dari gereja tentu saja mengganggu orang sholat. Begitupun suara adzan dan ngaji dari speaker mesjid yang hampir pasti membuyarkan khidmatnya ibadat di gereja. Tapi kekuatan iman toh ternyata gak butuh sekadar logika.

Kalo mau dicari-cari masalahnya, ini pasti jadi masalah. Gak etis lah, gak sehat lah. Tapi karena udah terbiasa, puluhan tahun bertahan tanpa masalah. Orang yang berpikir positif akan menduga-duga toleransi sudah terbina dengan baik sejak dulu, sementara orang yang berfikir negatif akan sibuk dengan pikirannya sendiri berspekulasi soal konspirasi.

Sorry to say, saya kadang iba dengan teman sesama muslim yang berkoar-koar soal Islamophopbia dunia barat, ngambil sampel jauh amat, sementara hanya sejengkal dari kepala mereka sendiri, di dada mereka bersemayam Kristenophobia yang akut. Padahal kalo yakin pondasi akidah dibangun lebih kokoh dari sekadar pondasi cakar ayam, ngapain takut isu kristenisasi? ini kan isu basi..

Di kompleks perumahan saya, tetangga samping rumah saya Kristen. Kalo ada acara biston, biasanya bagi-bagi kue ke tetangga dekat, dan rumah saya pasti kebagian. Awalnya saya ragu dan kuatir syubhat, tapi setelah nanya-nanya ustad, dan talabul ilmi wal googling, makanan pemberian ahlul kitab hukum asalnya halal, ya saya embat. Malah kadang saya nagih nasi bambunya.

Begitu juga di kantor, gak jarang saya joinan kopi satu gelas atau mie semangkuk dengan teman beda agama. Ruang redaksi kantor saya memang asli plural. Ada tukang IT yang Salafy berjanggut panjang dan celana cingkrang, redaktur senior yang aktivis gereja, Cina Nasrani, semuanya bersatu dalam kekhusyukan jika mengeroyok gorengan.

Menurut saya yang awam, inilah bagian dari indahnya toleransi muammalah sebagai sesama manusia. Yang paling seru, pengalaman tahun lalu saat jadi peserta ASEAN Blogger di Solo, saya sekamar bertiga dengan blogger Bali yang Hindu taat, dan blogger Kupang yang Katolik alim. Kamar hotel berasa jadi miniatur Indonesia. Sudah pernah saya ceritakan hal ini di postingan yang lain.

Kadang saat saya sholat di kamar, dengan kesadaran sendiri mereka mengecilkan bunyi-bunyian gadget-nya. Kita bertiga akrab ke mana-mana udah kayak sodara. Ini keren banget. Sesekali sempat menyerempet isu terorisme dan bom Bali, tapi gak pake urat, dan tetap gak menyentuh wilayah kepercayaan masing-masing. Gak lupa saya utarakan ketidaksetujuan saya dengan bomber konyol yang mencederai kedamaian dengan alasan apapun itu.

Dari yang saya tangkap, baik yang omongan langsung atauapun dari blog-blognya, mereka sahabat-sahabat baru saya itu masing-masing tentu saja menganggap agamanya paling benar, ya silahkan. Itu hak mereka. Kekuatan agama memang layaknya dibentuk atas dasar prinsip kepercayaan yang ngotot. Makanya, mohon biarkan saya juga ngomong “├»nnaddina indallahil islam”. Itulah esensi agama. Kalo semua agama kita anggap bener dan setara kedudukannya dengan agama yang kita anut, ya labil namanya. Ngapain mesti repot-repot beragama kalo gitu?

Pengalaman saya, teman-teman saya yang beda agama rata-rata punya pemahaman toleransi yang cukup bijak dan ngerti posisi pentingnya keakidahan kita umat muslim.
Ironisnya, intoleran justru kadang datang dari sesama muslim sendiri. Saya malah pernah lihat orang debat bawa-bawa “lakum dinukum waliadin” padahal sesama muslim. Ketahuan suka bolos ngaji waktu kecil nih.

Pada akhirnya, toleransi rentan dibuat jadi isu yang sensi, tapi sebenarnya bisa juga dibuat jadi keren dan seksi, selama ada batasan-batasan yang bisa kita kalkulasi dengan hati-hati.
Bagi muslim, jelas takarannya halal haram, bukan enak gak enak. Hidup ini sementara, maka marilah reguk kenikmatannya dengan perbanyak toleransi dalam hal MUAMMALAH. Catet, muammalah loh ya. Jangan sampe kebablasan. Hehe..

Siapa bilang gak boleh mengkapling surga? surga bisa dikapling kok dengan mencicil DP mulai dari sekarang, mulai dari amalan-amalan kebajikan kepada sesama manusia tanpa kenal agama. Perbanyak mikir positif, kurangi suudzon.

Author : @arhamkendari
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar