MENTARI PAGI INI

Mentari pagi ini membuat Pulan berlinang air mata.
Saat Aku bertanya kenapa?
Ia semakin terisak

Aku heran pada si Pulan
Ia sobatku

Lho, ada apa? kataku seperti sedikit marah
Ia tak bergeming, hanya suara isakan yang terdengar

Sebenarnya pagi ini mentari tiada nampak di Timur
Ia bersembunyi di balik awan

Seperti marahku pada Si Pulan pagi ini
Aku merasa mentari juga marah

Kenapa Ia tak keluar dari persembunyiannya

Yang Aku heran Si Pulan kok sampai terisak begitu
padahal menurutku Aku dan Dia seharusnya hanya bersedih hari ini

Memang perasaan ini galau
Empat hari Aku dan Si Pulan menanti mentari pagi nampak
tapi tiada juga Ia nampak

Sesaat Aku berpikir
Mungkin mentari memang lagi sibuk bersinar di belahan bumi manusia yang lain
Hingga Ia tiada sempat mengunjungi Aku dan Si Pulan

Malam di hari ini pun datang melewati siang yang juga tanpa sinar sang mentari
Si Pulan menguap
Capai menghalau matanya
Yang sudah kering air mata
Menyisakan merah dan sembab

Tiada Ia sempat berdo'a
Kemudian terlelap

Aku bersukur karena nikmat tidur menghinggapinya
Tanpa pamit sedih yang hinggap sejak pagi  pun pergi
Digantikan senyum yang mengembang di bibirnya mungilnya

* * *

Esok menjemput subuh
Azan mengegema mengisi bumi manusia

Aku terjaga
Mengambil air
Membasuh wajah
Mengusir ngantuk
Menghadap sang Khalik
Doaku memohon mentari pagi berkunjung ke tanah pijakku dan Pulan

Aku melihat langit tiada mendung
Aku Melihat langit tiada cerah
Mentari hilang entah kemana
Aku berlari menyusuri bukit
Aku berlari ke tepi pantai

Tapi mentari tetap tak disana

Langit gelap
TIada mega
Tiada mentari

Kembali ku ke titik Pulan
Ia masih lelap
Senyumnya tak berubah
masih mengembang di bibir mengilnya

Aku heran pada si Pulan
Ia sobatku

Aku sedih pada si Pulan
Ia sobatku

Pulan tak bergerak
Nafasnya tak berhembus
Pulan meninggalkanku

Tubuhnya kaku
Pucat tanpa aliran darah

Tangisku tak tertahan
Terisak seperti Pulan

Kenapa Pulan?
Aku bertanya seperti marah

Sadarku berucap
Pulan menjemput mentari di alam yang lain
Senyumnya menjadi tanda perjumpaannya

Air mata membanjiri Pemakaman Pulan
Aku juga ingin mentari yang sama dengan Pulan

Mentari tak datang lagi
Mentari masih menyanari belahan bumi manusia yang lain

Mentari, Aku rindu padamu


Author : @zarrybannong
Fb : https://www.facebook.com/zarry.bannonk
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar