Ekspedisi Benteng Bersejarah Kabaena yang Berada di Dalam Awan


Desa Tangkeno merupakan wilayah Kecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara. Desa Tangkeno berada di ketinggian ± 650m dpl, tepat berada dilereng salah satu gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara yaitu gunung Sabampolulu yang memiliki ketinggian 1500 m. Jarak dari Tangkeno ke ibukota Kecamatan Kabaena Tengah di Lengora adalah ± 10 km, jarak dari Dongkala yang merupakan wilayah pesisir laut masuk dalam Kecamatan Kabaena Timur yang rutin disandari oleh kapal menuju Kota Baubau berjarak ± 19 km menuju Tangkeno, sementara jarak dari Sikeli Kecamatan Kabaena Barat yang menjadi jalur utama kapal dari Rumbia ibukota Kabupaten Bombana ke Tangkeno ± 17 km.

Tangkeno merupakan pemekaran dari Desa Enano. Pada awal pemekaran, Desa Tangkeno bernama Desa Enano di Tangkeno, sedangkan Desa induk disebut Desa Tangkeno di Enano. Perubahan nama Desa dari Desa Enano di Tangkeno menjadi Desa Tangkeno terjadi pada tahun 2013. Penetapan Desa Tangkeno sebagai Desa Wisata tentunya tidak lepas dari keberadaan potensi pariwisata yang ada di Tangkeno yaitu berupa pemandangan alam, situs sejarah, air terjun, lokasi tracking dan kearifan lokal. Wilayahnya merupakan daerah pegunungan yang berada diketinggian hingga bersatu dengan awan yang selalu menghiasi langit disetiap matahari mulai terbit kemudian terbenam kembali.


Pemerintah Kabupaten Bombana menetapkan Desa Tangkeno sebagai Desa Wisata dengan mengangkat tagline “Negeri Di Awan”. Ini merupakan upaya nyata dari seluruh warga pulau Kabaena untuk mendorong pengembangan industri pariwisata sekaligus pelestarian situs sejarah, seni budaya, adat istiadat dan kearifan lokal yang masih terjaga dengan sangat baik di Tangkeno, yang merupakan daerah resapan air pulau Kabaena. Negeri Di Awan bukan hanya sekedar tagline ataupun istilah belaka, Desa Tangkeno merupakan wujud nyata dimana posisinya benar-benar berada di dalam awan yang memberikan kesejukan alamiah membendung teriknya sinar matahari dengan beragam keindahan alam yang menakjubkan.

Disini terdapat beberapa spot wisata yang sungguh memukau mata, hati dan rasa. Tercatat ada delapan spot pariwisata, diantaranya: Bantea Ponahuagola (pondok pembuatan gula aren), Pintu Gerbang Desa Wisata Tangkeno “Negeri di Awan”, Benteng Tawulaagi, Bantea Mpogurua (rumah belajar), Anjungan Tangkeno, Benteng Tuntuntari, Tondopano (air terjun) dan Puncak Gunung Sabampolulu. Dari sini dapat terlihat jelas puncak gunung Sangiawita yang cukup unik, berupa batu besar berbentuk tanduk ataupun mahkota Mokole/Sangia/Raja tepat berada diatas kepala gunung Sangiawita.


Di Desa Wisata Tangkeno terdapat Benteng Tuntuntari yang memiliki letak sangat strategis, karena dari sini dapat terlihat jelas wilayah Kabaena bagian timur, selatan, barat maupun utara. Benteng ini dibangun pada zaman Kerajaan Moronene Tokotua/Kotua masih dalam satu kekuasaan yang diyakini dibangun pada tahun 1600-an. Di dalam benteng tersebut terdapat beberapa makam leluhur penduduk Tangkeno. Benteng Tuntuntari memiliki peranan penting bagi seluruh warga pulau Kabaena, karena benteng ini merupakan tempat teraman dan menjadi pelindung terakhir bagi segenap rakyat Tokotua/Kotua dari marah bahaya ataupun serangan musuh.

Lokasi Benteng Tuntuntari sangat tersembunyi dan letaknya sangat berliku walaupun berada tidak terlalu jauh dari perkambungan warga Desa Tangkeno sekitar ± 3 km. Untuk menuju ke sana melewati lembah dan beberapa bukit naik turun, naik turun. Dahulu hingga di masa pemberontakan DI/TII Benteng ini sangat sulit untuk dicari ataupun didapat, karena tempatnya tertutupi oleh pohon bamboo diseluruh bagian benteng baik depan, belakang maupun samping kiri dan kanan.. Menempuhnya dengan berjalan kaki, satu-satunya kendaraan yang dapat digunakan untuk menuju ke Benteng tersebut adalah dengan berkuda tanpa kereta.


Namun sekarang benteng yang hingga kini masih tertutupi oleh pohon bamboo disekelilingnya, dapat dilalui dengan kendaraan roda dua ataupun roda empat dan dapat parkir dibawah gerbang masuk benteng. Tuntuntari terbagi atas dua kata, dalam bahasa Moronene Tuntu berarti Diketinggian/Ujung dan Tari berarti Bambu, Tuntuntari berarti “Ketinggian/Ujung yang sejajar dengan Bambu”. Letak benteng yang berada diketinggian disisi gunung Sabampolulu tidak akan terlihat dari bawah perkampungan warga Desa Tangkeno, juga dari puncak Tangkeno maupun dari puncak gunung Sabampolulu. Begitupun jika mencarinya lewat maps dan google earth tak akan terlihat bentuk benteng, melainkan di dapat hanya hutan gunung yang lebat dipenuhi oleh pohon bambu. Lokasi Benteng Tuntuntari tertutup sangat rindang namun rapi oleh pohon bambu yang tumbuh secara berlapis.

Penglihatan, pengamatan dan pemandangan akan berbanding terbalik jika sudah berada di dalam Benteng Tuntuntari. Dari dalam benteng kita dapat menyaksikan pulau Kabaena secara keseluruhan disegala arah, dapat sangat jelas melihat perkampungan warga Desa Tangkeno, puncak Tangkeno maupun gunung Sabampolulu hingga dipuncaknya serta lautan yang mengelilingi pulau Kabaena. Ini merupakan bentuk keunikan dan ciri khas tersendiri dari benteng Tuntuntari dibandingkan dengan benteng-benteng yang ada di dunia. Sungguh sebuah keajaiban dan bukti kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa.


Konstruksi dinding benteng unik ini, hanya berupa susunan-susunan batu gamping namun tersusun dengan rapi dan terarah tanpa perekat apapun. Berbeda dengan benteng-benteng situs sejarah lainnya yang menggunakan telur sebagai perekat untuk memperkuat susunan batu yang menjadi dinding benteng. Pembangunan Benteng Tuntuntari dikerjakan oleh rakyat Tokotua/Kotua diseluruh wilayah pulau Kabaena secara gotong royong. Tinggi dinding benteng sekitar 2 m, Ketebalan dinding rata-rata 1,5 m dan ada beberapa titik yang ketebalan dindingnya mencapai 3 m sebagai tempat kontrol dan monitor keadaan diluar benteng hingga ke laut melihat kapal-kapal asing yang masuk ke pulau Kabaena.

Ukuran benteng yang diselimuti oleh pohon bamboo ini tidak luas dan besar seperti benteng-benteng yang melindungi istana. Tujuan benteng yang sangat tersembunyi ini bukan sebagai pangkalan militer, pusat pemerintahan dan tempat politik praktis ataupun sebagai benteng yang dapat memancing terjadinya peperangan. Disini tidak terdapat persenjataan baik meriam ataupun senjata serbu lainnya, Benteng Tuntuntari adalah Benteng Kedamaian. Tuntuntari dijadikan sebagai tempat persembunyian warga pulau Kabaena dari serangan perompak dan penjajah.


Benteng Tuntuntari berbentuk lingkaran lonjong seperti bentuk perahu (katinting). Dengan luas bagian tengah sekitar ± 30 m,  dibagian depan dan belakang sekitar 5 – 10 m dan panjang benteng sekitar ± 70 m. Dibagian dalam benteng terdapat makam leluhur penduduk Desa Tangkeno yang berada digerbang masuk benteng. Makam tersebut ditandai dengan adanya susunan batu berbentuk persegi empat dan dilindungi oleh pohon beringin besar yang batang dan rantingnya tersebar disekitar dalam benteng. Didalam Benteng Tuntuntari ditumbuhi beberapa pohon beringin, pohon jeruk purut dan beberapa pohon lainnya yang tumbuh subur.

Keberadaan Benteng di Tangkeno membuktikan bahwa peradaban suku Moronene sejak dahulu kala memiliki tingkatan intelektualitas, memiliki kekayaan seni budaya, serta pesona alam yang eksotik dan kearifan lokal yang masih terjaga dengan baik hingga kini nyaris tanpa adanya perubahan berarti, walaupun peradaban sekarang semakin maju dan canggih. Di wilayah Desa Wisata Tangkeno “Negeri Di Awan” selain Benteng Tuntuntari juga terdapat empat benteng lainnya yaitu Benteng Tawulaagi, Benteng Tandowatu, Benteng Ewolangka dan Benteng Doule. Ke empat benteng tersebut mengelilingi perkampungan warga Tangkeno, seakan menjadi ujung tombak yang melindungi penduduk Tangkeno.


Benteng Tawulaagi berada tak jauh dari gerbang masuk kampung Tangkeno. Berbeda dengan Benteng Tuntuntari, Benteng Tawulaagi adalah benteng pertahanan yang berperan sebagai pangkalan militer dan pasukan perang. Dulunya benteng itu dijaga oleh Tamalaki (pasukan ksatria perang Moronene). Dibenteng itu terdapat sebuah meriam yang mengarah tepat ke lautan. Alkisah keberadaan meriam di Benteng Tawulaagi diceritakan oleh Abdul Majid Ege, seorang tokoh adat Kabaena dan mantan Kepala Desa Tangkeno. Mengisahkan bahwa meriam itu diambil dari kapal VOC milik Belanda ditahun 1907 yang karam diperairan pulau Sagori dalam perjalanan menuju Ternate - Maluku.

Meriam peninggalan kapal VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Belanda itu sengaja disimpan di Benteng Tawulaagi untuk berjaga-jaga dan dijadikan sebagai tambahan alutsista pasukan Tamalaki. Nama Tawulaagi diambil dari nama seorang ksatria komandan pasukan Tamalaki yang gagah perkasa. Namun sejak adanya meriam tersebut sampai saat ini belum pernah sama sekali digunakan, walau beberapa kali telah terjadi penyerangan dipulau Kabaena oleh pasukan bajak laut Tabelo yang berasal dari Maluku. Kawasan Tangkeno dipercaya sebagai pusat Kerajaan Moronene Mokole Kotua, tutup Abdul Majid.

Setiap tahun dan setiap hari libur, para wisatawan baik lokal, domestik maupun mancanegara berdestinasi ke Desa Tangkeno untuk merasakan Ditengah Pulau Eksotik, Ada “Negeri Di Awan” Yang Berbenteng. Mereka dapat merasakan suasana berada di dalam awan, serta berkunjung ke beberapa benteng batu yang ada dipegunungan dan menikmati pemandangan alam yang memberikan kesejukkan. Tahun ini dibulan Agustus - September akan diselenggarakan Sail Indonesia dengan spot destinasi pulau Sagori, Desa Wisata Tangkeno, Pulau Komodo dan Teluk Tomini. Pemerintah Kabupaten Bombana telah melakukan persiapan untuk menyambut rombongan turis asing tersebut. Hari ini dilapangan dan anjungan Tangkeno telah dilakukan latihan tari kolosal sebanyak 50 orang penari lokal Moronene.


Jangan lupa tinggalkan kenangan baik selama anda berada di Tangkeno, bawalah pulang sampah anda sekecil apapun”.

Author: Rendra Manaba
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

7 komentar :

  1. Penasaran banget lihat wisata negeri diawan

    BalasHapus
  2. iya tangkeno memberi kepuasan berdestinasi

    BalasHapus
  3. Saya tertarik dengan tulisan anda,saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Pariwisata yang bisa anda kunjungi di Informasi Seputar Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih atas atensinya. Jika ingin tulisan Anda termuat dalam sultranesia.com silahkan berkirim ke sultranesia@gmail.com
      Salam Redaksi

      Hapus
  4. Saya tertarik dengan artikel yang ada di website anda yang berjudul " Ekspedisi Benteng Bersejarah Kabaena yang Berada di Dalam Awan ".
    Saya juga mempunyai jurnal yang sejenis yang bisa anda kunjungi di Pariwisata Indonesia . Mari bersama-sama kita memperluas ilmu kita. :)

    BalasHapus
  5. mantap.. terus explore keindahan sulawesi tenggara.. akhir2 ini sultra mulai terkenal dimata mancanegara maupun lokal..

    BalasHapus