Jembatan Bahteramas, Proyek Penghancuran Situs Sejarah Kota Tua Kendari



SULTRANESIA, Kendari - Peristiwa tragis dan sangat menyedihkan terjadi di Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. Tepatnya di Kota Tua Kendari, yang oleh warga Kendari dan masyarakat Sulawesi Tenggara fasih menyebutnya sebagai Kota Lama (Kolam) Kendari. Beberapa bangunan djaman doeloe, yang bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara menganggapnya hanya sebagai sebuah peninggalan sejarah sahaja, tanpa arti dan nilai sama sekali. Proyek pembangunan jembatan bahteramas yang bertujuan untuk menghubungkan dua Kecamatan dalam satu wilayah kota Kendari. Yaitu Kecamatan Kendari dan Kecamatan Abeli. Menghabiskan anggaran fantastik sebesar 540 milyar rupiah. Dana tersebut bersumber dari sharing APBD dan sebagian besar bersumber dari APBN.

Wilayah Kecamatan Kendari berpusat di Kelurahan Kandai yaitu Kota Tua Kendari, sedangkan wilayah Kecamatan Abeli berpusat di Kelurahan Lapulu, yang merupakan daerah pesisir laut teluk Kendari. Dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian dari hasil laut dan transportasi laut. Untuk di Kelurahan Lapulu, demi keinginan untuk mewujudkan megah proyek pembangunan jembatan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara membutuhkan area seluas setengah hektar lebih, sehingga diharuskan untuk melakukan pembebasan lahan warga yang ada disekitar kawasan lokasi proyek tersebut. Sebuah profesi ojek perahu (istilah lokal papalimbang) yang sudah turun temurun, bahkan sebelum masuknya bangsa Portugis, Belanda dan Jepang di kota Kendari sudah duluan ada.

Papalimbang sudah ada dan menjadi aktifitas harian dari warga Lapulu dan sekitarnya sebagai alat transportasi utama, serta bagian dari sejarah penamaan kota Kendari. Dimana oleh orang Portugis yang pertama kali menemukan teluk Kendari bertemu dengan Papalimbang, kemudian menanyakan nama teluk ini dan dijawab dengan sebutan Kandai (alat gayuh sampan). Dikiranya oleh Papalimbang, orang Portugis tersebut menanyakan aktifitas apa yang sedang dilakukannya. Kandai adalah nama awal kota teluk ini, yang kini di abadikan sebagai sebuah nama kelurahan di wilayah kota tua. Karena adanya pergeseran kata akhirnya menjadi Kendari. Sejarah itu pastinya akan punah karena adanya jembatan bahteramas.


Sebenarnya akses menuju ke seberang di daerah Kecamatan Abeli sudah ada dan sangat representatif. Dengan melewati by pass jalan raya besar dua jalur menyusuri pesisir laut dengan panorama teluk dan sinar mentari yang menawan. Perjalanan menuju kesana hanya menempuh waktu sekitar ±20 menit dari Kota Tua Kendari. Selain melalui jalan by pass, akses menuju ke Kelurahan Lapulu dapat pula melalui jalan utama, yaitu lewat jalan poros wua-wua menuju andounohu yang merupakan kawasan pengembangan menjadi kota metropolitan, serta sebagai cluster bisnis dan pusat perdagangan modern di Kota Kendari. Untuk di Kelurahan Kandai, akibat dari proyek pembangunan jembatan bahteramas. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara membutuhkan area seluas 1,5 hektar khusus dikawasan Kota Tua Kendari, sehingga mewajibkan dilakukannya pembebasan lahan warga kota dan menghancurkan sedikitnya 81 bangunan djaman doeloe.

Lebih ironis lagi, di wilayah Kelurahan Kandai yang merupakan pusat dari Kota Tua Kendari. Dimana dalam kawasan ini, seluruh bangunan djaman doeloe adalah situs sejarah peninggalan Belanda dan Jepang serta peninggalan Kerajaan Laiwoi. Bahkan jauh sebelum kedatangan orang Portugis, Belanda dan Jepang. Bangunan rumah dan toko warga serta pelabuhan niaga di Kota Tua Kendari sudah berdiri. Selain sebagai peninggalan sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Kota Tua Kendari juga menjadi pusat peradaban pertama dan sejarah terbentuknya kota Kendari yang ditandai dengan peristiwa pembangunan Istana Kerajaan Laiwoi yang kini juga telah musnah tak tersisa. Istana Laiwoi berganti menjadi kantor syahbandar dan pelabuhan kecil tempat berlabuh kapal kayu transportasi antar pulau pada tanggal 9 Mei 1832 oleh Vosmaer (orang Belanda) yang pertama kali membuat peta Kendari. Peristiwa tersebut oleh Pemerintah Kota Kendari dijadikan sebagai hari peringatan dirgahayu kota Kendari setiap tahunnya. Baca: http://www.kendarikota.go.id/index.php/beranda/sejarah-kendari

Bioskop Kota Tua Kendar yang Kini Telah Dibumi Hanguskan

Kota Lama Kendari adalah saksi bisu yang menjadi bukti dari perjalanan panjang terbentuknya suatu kawasan perkotaan, bukan sebuah miniatur bagi Pemprov Sultra. Dari kehidupan warga asli yang sampai sekarang masih dapat kita jumpai, adanya bentuk penjajahan dari bangsa asing, kisah Kerajaan Laiwoi, kota niaga dengan aktifitas perdagangan yang aktif dan menguntungkan sehingga mengundang banyaknya para pedagang dari Arab dan Cina untuk menetap menjadi penduduk Kendari. Hingga awal masuknya modernitas di Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara, ditandai dengan adanya bangunan theater atau bioskop pertama yang ada dengan segala kecanggihan alat serta mesin pemutar film layar lebar, dan menjadi bangunan termegah di zamannya. Membuat kota Kendari sebagai salah satu kota modern dipulau Sulawesi pada waktu itu.

Sebagian besar bukti peninggalan sejarah tersebut kini telah dihancurkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Dengan menurunkan perangkat kekuasaan dan menggunakan alat beratnya, operasi penghancuran bangunan djaman doeloe hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. Bangunan peninggalan sejarah di Kota Tua Kendari telah musnah dan rata dengan tanah. Yang anehnya dan sangat menyedihkan, Pemerintah Kota Kendari telah mengizinkan dan memberi dukungan penuh kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara untuk dilakukan pembongkaran bangunan yang merupakan satu-satunya kawasan yang menjadi situs sejarah di kota Kendari. Seharusnya itu dirawat dan dilestarikan sebagai ciri khas dan sebuah icon serta identitas dari kota Kendari. Perlakuan yang tepat buat Kota Tua Kendari sebaiknya dijadikan sebagai spot wisata sejarah, tempat aktifitas dan kreatifitas komunitas serta sebagai pusat industri kreatif. Baca: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2014/04/02/kota-teluk-lama-bersejarah-adalah-potensi-pariwisata-dan-pusat-industri-kreatif-646085.html

Proyek jembatan bahteramas jika dikaji dengan baik, tepat dan jujur. Hampa akan nilai ekonomis, minim untuk menjadi sumber PAD yang menguntungkan, jauh dari nilai etika dan estetika serta menghasilkan dampak sosial, budaya dan sejarah yang buruk. Ungkap Roem Saktiawan Manaba pembina “Kendari Heritage” yang juga merupakan tokoh masyarakat Kendari. Jika menghitung jumlah kendaraan di kota Kendari yang masih minim dan jumlah penduduk sebesar ±315 ribu jiwa, dari itu tentunya dapat pula dikalkulasi pengguna kendaraan yang nantinya akan melintasi jembatan tersebut sangat tidak efektif dan kurang efisien untuk keberadaan sebuah jembatan bahteramas. Hubungan aktifitas, jaringan bisnis dan kehidupan masyarakat antar dua wilayah pun tidak membutuhkan adanya jembatan penghubung. Jalur yang sudah ada dengan dua akses melalui jalan by pass dan jalan poros utama kota Kendari itulah yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sangat menguntungkan bagi aktifitas perdagangan dan bisnis serta kehidupan masyarakat antar dua wilayah tersebut, Lanjut Roem Manaba.

Pemerintah pusat di Jakarta harusnya lebih jeli serta menyikapi secara utuh dan menyeluruh atas proyek pembangunan jembatan bahteramas, yang merupakan program dari Gubernur Sulawesi Tenggara. Membuang anggaran APBN hingga ratusan milyar rupiah hanya untuk sebuah jembatan penghubung antar dua Kecamatan, sangat tidak relevan dan mengancam kehidupan masyarakat serta menghilangkan bukti peninggalan sejarah. Kota Tua Kendari adalah situs sejarah yang menjadi Benda Cagar Budaya dan dilindungi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Jangan sampai peraturan perundangan tersebut hanya sekedar sebagai aturan yang tidak memiliki kekuatan hukum. Kalau Kota Tua Kendari hanya dianggap sekedar peninggalan sejarah, berarti Keraton Buton yang merupakan benteng terbesar di dunia juga bisa dihancurkan demi pembangunan modern. Setiap kota membutuhkan adanya pembangunan, namun jangan sampai menghilangkan nilai sejarahnya. Negara yang besar adalah negara yang menghargai sejarahnya dan mengingat jasa-jasa pendahulu. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, pesan Soekarno.


Lampiran:

Laporan : Rendra Moe
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar