Sejarah Tolaki: Masihkah Punya Arti?

Sejarah Tolaki: Masihkah Punya Arti?

Oleh: Idaman
Mahasiswa S3 Ilmu Filsafat, Universitas Gadjah MadaYogyakarta

Kalosara.
Foto by Adhy Rical

Beberapa waktu lalu, seorang putra Tolaki, Basrin Melamba, menerbitkan sebuah buku yang cukup prestisius, “sejarah tolaki Konawe”. Karya kesejarahan orang Tolaki ini telah cukup jeli dan komplit menguraikan seluk-beluk ketolakian dari aspek sejarah, sejak mula kedatangan orang-orang Tolaki di Dataran Konawe, membentuk imperium kerajaan Konawe, penyebaran agama-agama di negeri ‘para sangia’ ini, hingga keadaan Konawe kontemporer. Penelusuran jejak sejarah Konawe sejak dahulu hingga saat ini, merupakan langkah yang sangat positif untuk memperkenalkan atau mementaskan kembali (re-enactment) sekumpulan kisah masa lalu agar menjadi pembelajaran masa kini, khususnya bagi masyarakat Konawe yang hidup saat ini.

Satu hal yang menarik, bahwa karya kesejarahan saudara Basrin Melamba ini telah menguak misteri mengenai keberadaan kerajaan Konawe di masa lalu. Bahkan menegaskan, bahwa ternyata orang-orang Tolaki di masa lalu pernah membentuk imperium ‘besar’ yang bernama kerajaan Konawe. Buku ini, bagaimanapun, telah menciptakan sebentuk kebanggaan bagi masyarakat Tolaki saat ini, bahwa ‘kita memiliki sejarah dan peradaban masa lalu yang dapat ditransformasi dari generasi ke generasi, dan diceritakan kepada orang lain di negeri ini.

Karya saudara Basrin ini, selain memanfaatkan kisah-kisah lisan, wawancara dengan beberapa tokoh adat dan masyarakat Tolaki, juga memanfaatkan sumber-sumber tertulis orang-orang Belanda yang pernah dating dan bermukim di Konawe. Di sinilah kekuatan buku ini, bahwa ternyata banyak sumber-sumber tertulis tentang Konawe dalam bahasa Belanda yang belum diungkap dan dikenal oleh publik Konawe.

Bagi pembaca umumnya, termasuk saya, mengakui dan menganggap bahwa karya Basrin ini sangat informative dan membukakan pintu untuk menyelami masa lalu orang Konawe dan menjadikan masalalu itu sebagai pembelajaran penting untuk menjalani hidup di masa kini.

Hukum Popper

Para sejarawan telah berupaya memberikan penjelasan memadai dan obyektif terhadap fakta. Tetapi, para filsuf sejarawan memandang bahwa upaya apapun itu, sejarawan selalu terjebak ke dalam sikap subyektif ketika membeberkan fakta. Metode kerja para sejarawan bermula dari mendeskripsikan fakta dan akhirnya memberikan penilaian. Pada tingkat deskripsi dan penilaian, para sejarawan satu dengan yang lain seringkali berbeda. Hal inilah yang kemudian memunculkan pandangan, utamanya dari kalangan filsuf sejarah kritis, bahwa para sejarawan seringkali tidak satu bahasa dan penilaian.

Menurut saya, cara kerja yang dilakukan oleh sejarawan, pertama-tama, harus diapresiasi, sebagai upaya mereka mendekatkan masa lalu terhadap masa kini. Di samping itu, apapun yang dilakukan oleh para sejarawan, mereka telah melakukan kerja maksimal berdasarkan data-data sejarah yang ada dan menformulasikannya dalam kerangka bahasa dan pengetahuan yang akan menjadi panduan bagi pembaca memahami dan mengenal masalalu. Karena itu, sejarah, dan tentu saja berbeda dengan seni, memiliki metode dan cara kerja sendiri.

Umumnya, praktik para sejarawan menekankan pada pembatasan mengenai obyektivitas dalam sejarah dan esensinya yang berbeda dari diskursus ilmiah. Sementara para filsuf lebih menekankan pada kemungkinan sebuah pengetahuan yang obyketif di dalam sejarah yang analog dengan disiplin ilmiah.

Terkait dengan karya saudara Basrin Melamba, pertanyaan penting yang harus diajukan adalah, apakah sejarah orang Tolaki konawe masih punya arti di masa kini? Pertanyaan ini seseungguhnya didasarkan kepada gugatan Karl Raimund Popper tentang sejarah dan sejarawan sebagaimana termuat dalam beberapa karyanya, antara lain, Gagalnya Historisisme (Das Elend Des Historisismus), Jakarta:LP3ES, 1985; The Open Society and ItsEnemies, Vol.I, Princeton, N.J: Princeton University Press, 1950, hlm.449-63.

Di antara para filsuf sejarah kritis, mungkin Popper adalah tokoh yang sangat tajam dan bombastis mengeritik metode, teori, dan karya para sejarawan. Dalam esai ini, Popper menyatakan, bahwa penting untuk melihat bahwa beberapa ‘teori sejarah’ (barangkali lebih baik digambarkan sebagai ‘quasi-teori) dalam karakterinya sungguh berbeda dengan teori-teori ilmiah. Misalnya, di dalam sejarah seringkali fakta-fakta dengan sederhana dibatasi dan dan tidak bisa diulangi dan diimplementasikan pada kehendak kita. Dan para sejarawan juga telah mengoleksi fakta berdasarkan pada sudut pandang pra pemahaman, yakni ‘sumber’ sejarah hanya merekam fakta-fakta tersebut sebagaimana Nampak mencukupi yang menarik untuk direkam, jadi sumber-sumber itu hanya akan mengandung fakta-fakta yang cocok dengan teori pra-pemahaman. Dan karena tidak ada fakta selanjutnya yang tersedia, maka ia tidak akan mungkin bisa diuji atau beberapa teori berikutnya.

Teori-teori sejarah yang tidak bisa diuji itu selanjutnya bisa diisi dengan sesuatu yang sirkuler dengan alasan bahwa pengisian ini dengan tidak adil telah digiring bertentangan dengan dengan teori-teori ilmiah. Popper menyatakan, bahwa teori-teori sejarah yang demikian itu disebut ‘intepretasi umum’ (general interpretation).

Bagi Popper, intepretasi itu penting karena mereka merepresentasikan sebuah sudt pandang. Tetapi kita telah liihat bahwa sudut pandang selalu tak terelakkan, dan bahwa, di dalam sejarah, sebuah teori yang bisa diuji dan karena itu karakter ilmiah bisa diperoleh dengan jarang. Dengan demikian, bagi Popper, kita tidak seharusnya memikirkan bahwa interpretasi umum bisa dikonfirmasikan dengan persetujuannya bahkan dengan semua rekaman kita. .

Hal penting yang hendak dicatat oleh Popper, bahwa pertama, selalu terdapat interpratasi yang tidak secara sungguh-sungguh sesuai dengan catatan yang diterima. Kedua, ada beberapa hal atau kurang yang membutuhkan hipotesis tambahan yang masuk akal jika mereka mengindari falsifikasi melalui rekaman. Selanjutnya, ada beberapa hal yang tidak bisa menghubungkan jumlah fakta dimana interpretasi yang lain bisa terhubung, dan sejauh ini ’penjelasan’.

Ada hal yang mungkin sesuai dengan sejumlah perkembangan yang bisa dipertimbangkan bahkan didalam area interpretasi historis. Selanjutnya, mungkin terdapat bentuk-bentuk tahap menengah di antara lebih atau kurang ‘sudut pandang’ universal dan hipotesis sejarah yang spesifik dan singular yang telah disebutkan di atas, dimana penjelasan peristiwa sejarah memainkan peran kondisi awal hipotesis daripada hukum-hukum umum. Seringkali hal ini cukup bisa diuji secara adil dan karena itu bisa diperbandingkan dengan teori-teori ilmiah.

Ringkasnya, tidak akan bisa ada sejarah ‘dimasa lalu yang betul-betul terjadi’; yang ada bisa ada hanya interpretasi sejarah, dan tidak satupun dari mereka itu final. Dan setiap generasi memiliki hak utuk menyusun sejarahnya sendiri. Bahkan bukan hanya memiliki hal untuk menyusun intepretasinya sendiri, ia juga memiliki sebentuk kewajiban untuk melakukan hal demikian; karena itu ada yang sungguh membutuhkan desakan untuk dijawab sebagai pengganti pengakuan bahwa interpretasi sejarah seharusnya menjawab sebuah kebutuhan yang memunculkan problem-problem dan keputusan-keputusan praktis yang kita hadapi, ahli sejarah meyakini bahwa di dalam hasrat kita terhadap intepretasi sejarah, terdapat ekspresi intuisi yang mendalam bahwa dengan kontemplasi sejarah kita bisa menemukan rahasia, esensi takdir manusia. Historisisme, dengan demikian, tidak menemukan arah dimana manusia ditakdirkan untuk berjalan, bakan historisisme juga tidak menemukan petunjuk kepada sejarah, atau makna sejarah.

Karena itu, bagi Popper, sejarah sungguh tidak memiliki makna (history has no meaning), ‘sejarah’ dengan alasan karena kebanyakan orang membicarakannya betul-betul tidak ada.

Terkait dengan ‘historisisme teistik’, yang menganggap bahwa peran kesejarahan manusia yang ditulis oleh Tuhan, Popper mengungkapkan bahwa pernyataan tersebut betul-betul sebagai bentuk pemfitnahan atau penghujahan (blasphemy). Menurutnya, permainan atau peran kesejarahan manusia tidaklah ditulis olehTuhan, tetapi dibawah petunjuk atau supervisi para jenderal dan dictator, oleh professor sejarah.

Bagi Popper, manusialah yang menentukan nasibnya sendiri, bukan yang lain. Kita harus belajar melakukan sesuatu yang kita bisa, dan menekukan kesalahan kita. Dan ketika kita menurutnkan ide bahwa sejarah kekuasaan akan menjadi hakim kita, dan ketika kita telah menghentikan kekhawatiran apakah sejarah akan membenarkan kita, selanjutnya suatu hari barangkali kita bisa berhasil medapatkan kekuasaan di bawah kendali. Dengan cara ini pada gilirannya kita bahkan mungkin membenarkan sejarah, ini sangat membutuhkan justifikasi.

Terkait dengan esai Popper, Meyerhoff dalam The Philosophy of Histori in OurTime: An Anthology Selected, and With an introduction and Commentary by Hans Meyerhoff,Doubleday Anchor Books, Doubleday & Company, Inc. Garden City, New York, 1959, mencatat, pertama, pandangan Popper mengenai sejarah sungguh-sungguh memperoleh kemasyhuran dalam kalangan yang luas, dan kemasyhuran itu seharusnya direpresentasikan di dalam contoh representatif pemikiran kontemporer tentang sejarah. Kedua, pernyataan Popper yang merupakan versi ekstrem dengan tesis bahwa ‘sejarah tidak memiliki makna’ disebabkan oleh selain adanya hukum umum yang dicampurkan atau petunjuk yang tidak bisa ditawar-tawar terhadap akhir moral di dalam sejarah.

Meyerhoff mencatat, bahwa Popper telah mengadopsi terminologi yang idiosinkretik. Dia mencatut label ‘historisisme’ pada beberapa teori, seperti pada kecenderungan siklisnya Plato, dialektika Hegel, dan evolusi Marx dalam sejarah yang sejalan dengan determinisme universal di alam ini. Dalam petikan esai di bawah ini, Popper berbicara tentang sebuah ‘historisisme teistik’ yang dia maksudkan sebagai sebuah konsepsi sejarah dalam tradisi Agustinian, yakni kepercayaan bahwa jalan sejarah telah diatur dan ditentukan oleh kehendak Tuhan.

Meyerhoff, selanjutnya mencatat bahwa Popper telah menyebabkan sebuah image kesalahan historisisme. Apa yang diakritik sebagai ‘kemiskinan historisisme’ merupakan sebuah parodi historisisme. Tidak ada sesuatu yang dilakukan terhadap pergerakan historisisme sebagaimana didefinisikan dan dianalisis di dalam karya klasik Friedriech Meinecke atau terhadap historisisme modern Dilthey dan para pengikutnya. Malahan, ini adalah sebuah kritik terhadap interpretasi agama dan filsafat terhadap sejarah, sebagaimana yang direpresentasikan oleh Plato, St. Agustinus, Hegel, Marx, atau Comte yang secara radikal berbeda dari historisisme; metode dan kesimpulannya.

Popper, sebagaimana dicatat oleh Meyerhoff, mengakui, bahwa sejarah selalu ditulis dari posisi sekarang; bahwa ‘setiap generasi memiliki kepentingannya sendiri, pandangannya sendiri; bahwa sejarah selalu merupakan sebuah jawaban terhadap kebutuhan akan ‘kemunculan problem-problem dan keputusan-keputusan praktis yang kita hadapi’; bahwa tidak ada sejarah yang betul-betul terjadi; bahwa tidak ada ‘intepretasi final, tetapi hanya sekedar perspektif yang berbeda; bahwa sejarah bukanlah ilmu dan bahwa keputusan-keputusan moral kita, dan penilaian-penilaian, selalu bermuatan subyektif, komponenen-komponen emosi. Singkatnya, Popper mengakui tipe tesishistorisisme relativistik yang terkait dengan pengetahuan dan nilai.

Penting dicatat, bahwa pengingakaran Popper terhadap desain makna agama, rasional dan teleologis dalam sejarah bersamaan dengan afirmasi makna seorang aktivis, eksistensialis: “meskipun sejarah tidak memiliki makna, kita dapat memberinya makna”. Dan formula yang sama diaplikasikan pada “makna kehidupan”.

Sejarah Tolaki sebagai Titik Tolak

Esai Popper tentang ‘apakah sejarah memiliki makna’ hendak menegaskan bahwa seringkali sejarah itu tidak memiliki makna. Di samping itu, Popper mengeritik dengan tajam pengaruh ‘historisismetistik’ sebagaimana dikembangkan oleh St. Agustinus dan pengikut-pengikutnya belakangan. Dengan pola ini, Popper ingin menafikan muatan-muatan agama, politik dan ideologi dalam studi sejarah.

Bagaimanapun, tidak bisa diingkari bahwa sejarawan tidak bisa melepaskan dirinya dari keterkaitan masa lalu dan ide-ide bawaan ketika mengelola dan memberikan deskripsi terhadap fakta atauperistiwa sejarah. Obyektivitas sejarawan selalu mengandung pada dirinya subyektivitas. Karena itu, mungkin agak tepat ketika Michael Foucault menyatakan bahwa pengetahuan selalu memiliki episteme-nya, memiliki kebertautan dengan ide-ide atau kekuasaan. Relasi kuasa-pengetahuan sangat mempengaruhi dan mengikis obyektivitas ilmuwan, termasuk sejarawan. Sejarah atau ilmu pengetahuan lain yang memproduksi makna, diproduksi untuk kepentingan atau ideologi, apakah itu kepentingan penguasa, atau bahkan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan. Produksi sejarah untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan, ketika telah menjadi ideologi, maka ia tentu berhubungan dengan kuasa dan menguasai.

Sejarah Tolaki Konawe karya Basrin dengan mengikuti wacana Foucaultian, tentu tidak bisa dilepaskan dari episteme-nya ketika karya ini ditulis. Kepentingan ideologi dan politik-ekonomi tentu tidak bisa dipisahkan dari karya Saudara Basrin dan maksud saudara Basrin menulis karya ini. Tetapi paling penting, adalah karya saudara Basrin ini hendak meruntuhkan tesis Popper yang menyangsikan ‘keartian’ atau ‘kebermaknaan’ sejarah.

Sejarah Tolaki Konawe memiliki arti penting bagi seluruh elemen masyarakat Tolaki, termasuk pemerintah daerah Konawe. Karya ini sesungguhnya ingin menegaskan, bahwa pertama, untuk mengenal konawe saat ini sejatinya harus mengenal masa lalunya. Kedua, pada tataran nilai, masyarakat Konawe saat ini, tidak boleh tidak, harus mengaitkan dirinya dengan masa lalu mereka. Dengan cara ini, masyarakat Konawe boleh berbangga bahwa mereka memiliki peradaban, lalu dengan langkah tegap menatap masa depan dengan optimis dan jauh dari rasa minder. Selain itu, identitas ‘ketolakian’ dapat ditemukan dan diidentifikasi melalui pembelajaran dan penggalian sejarah masa lampau orang Tolaki.
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

4 komentar :

  1. asyik..Dosen saya tuh..
    bangga pernah jadi anak didikannya beliau adalah orang yg peduli terhadap sejarah/asal usul suku tolaki yg kian hari mulai tergerus oleh peradaban zaman..teruskan pak kenalkan suku kita ke dunia mancanegara maupun lokal

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum
    Kira2 dimana ya saya bisa mendapatkan buku beliau tentang sejarah suku tolaki?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa langsung hubungi beliau di facebook: Basrin Melamba

      Hapus