Nestapa

Foto: Doc. Iin

sayang . . . 
setelah matahari terpenggal badik sang malam 
setelah jejakmu hilang diantara denting waktu 
setelah bayanganmu lebur bersama partikel hujan

aku mencari jejakmu dibawah pohon oak
aku mencari bayanganmu pada kaca yang dibawa dingin
aku mencari suaramu dikuburan 
barangkali ada kau diantara mereka 

tapi . . . sayang 
atas nama malam yang menjadi saksi bisu 
gincu merah dan kecupanmu di bibirku 
ragaku meraung kesakitan, jiwaku meracau
air mataku berderai, satu persatu gugur
dari kelopak mata. kau tiada. kau dimana  ? 
kembalilah sayang. lukaku mengangah,
mengeluarkan banyak darah dan nanah.
aku lemah, rapuh, dan terluka 
aku hanya ingin kamu. bukan dia, mereka dan siapapun.

aku berlari dari hingar bingar 
dan gemerlap dunia, aku ingin sepi, 
aku mendambakan sunyi, aku disini.
terjaga menantimu tsnpa lengah
tak ada sesiapapun, hanya aku.

aku dan rasa rindu tak berkesudahaan 
aku dan nestapa berkepanjangan 
aku dan sejuta tanya menyiksa 
aku dan buaian ilusi yang menawarkan madu
aku dan sendiri, aku dan sunyi 

hanya aku dan airnya air mata 
hanya aku, hanya aku, hanya aku
dan senyuman yang telah lama mati





Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar