Novel (T)apel Adam : Anggur #19 ~ Selesai!


#Anggur#


Setelah selesai membeli nasi goreng untuk hidangan makan malamnya Adam beranjak menyusuri jalan raya arah pulang kerumah, tepat disamping penjual kebab dan roti Maryam ada ceceran kaca botol yang bening, terlihat sisa air yang berwarna merah hati bercampur cokelat tua, dari aromanya tertangkap sudah apa yang ada didepannya, botol air penghilang rasa jemu dan obat provokasi petualangan hayalan. Dilanjutkanlah langkahnya menuju gang sebelum masuk perkampungan, digang tersebut ada sekumpulan remaja tanggung yang sedang mencekik botol ramping yang berisi air berwarna tawar cair.

“apa penyebab kesemuanya ini?”

“masalah apa yang melarikan mereka menuju persenggamaan dengan air yang bisa memuntahkan kata-kata lepas dan fatamorgana angan, hayalan panjang tak bertepi, juga syair yang tak beraturan bahasanya.” Tanda tanya semakin membuat langkah Adam pelan, detak jantung yang tak beraturan memenuhi dada sehingga seakan-akan sesak.

Segera dia teringat sesuatu, teringat dengan salah satu penyair unik, sekarang namanya harum semerbak diseluruh penjuru dunia, tubuhnya diabadikan terpahat halus terlukiskan patung yang mencengkeram botol anggur,

“iya, Abu Nuwas murid Walibah juga sering disebut sebagai penyair Anggur”, mahasiswa Bashrah.

“penyair lucu nan unik, yang kadang menggelitik juga tak jarang membuat sengit pendengarnya, apalagi dengan imajinasinya dia selalu tampil nyeleneh di hadapan publik”. Sambil jalan dia terus menerka-nerka ingatannya tentang sosok penyair istana (sya'irul bilad) yang bernama asli Abu Ali Hasan ibn Hani al-Hakami tersebut.

Janganlah kiranya kita menghakimi akan sesuatu yang dilakukan orang lain sebelum mengetahui sebab-musababnya, apalagi memfonis salah maupun benar dalam akhir hipotesa kita. Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Sampai sekarangpun syairnya menjadi wirid harian kita.

Dewi-Dewi Anggur,

Mabuk dan terlena teringat engkau wahai Sukaynah-Walibah & Abu Nuwas.....

Rindu meradang sosok Umar bin Abd aziz dan Harun Al Rasyid....

Gelora membara ketika terbayang Umar Faruq & Al hajjaj

Panjang tangan tak cukup utk memegang, apalagi mengambil....

Akal fikiran tak cukup tanpa keberanian....

Kenekatan akan membuat lubang jurang terdalam....

Hati-hati menjadi awal untuk berdiri....

Memang benar, anggur dan perasannya mngandung sari yang patut kita cari!

yang mentah,untuk kafilah pedagang saja....

Jangan masuk hutan itu, sekarang bersihkan tubuhmu dulu di sendang itu.

Esok, shubuh barulah engkau beranjak pergi.....

Segila Itu,

Dunia itu memang benar-benar ada

Perempuan itu benar-benar menarik dalam lamunan

Cita-cita dan janji itu memang sungguh memberi harapan

Rebahkan saja tubuh layumu dalam peraduan!!!

Lihatlah abu Nuwas dan Walibah

Yang sedang memegang kertas syair dan botol anggurnya

Juga ingatlah kholid bin walid dalam orasi perangnya,

Sungguh membuat hati terperanjak dan tubuh menggigil

Lihatlah kelakuan kita dalam renungan malam tanpa pelita

Sungguh lebih gila lagi!!!

Dewi anggur adalah seseorang perempuan yang akan meluncur dari dari botol yang tercekik, seperti hayalan Jin yang akan keluar dari lampu atau botol yang sekian lama tertutup. Dewi itu dengan segala upaya akan merayu pencekiknya agar ia segera bebas dan melepas diri dari kurungan beling tersebut. Setelah keluar maka aroma tubuhnya akan ikut meluncur menusuk hidung, jika dewi tersebut cantik maka aromanya akan semerbak harum, jika badan dewi kurang terawat maka aromanya busuk sekali.

Benarkah kekecewaan, kekesalan, prustasi, hilang harap, musnah cita, juga sekian beban yang dipanggulnya didunia menyeret langkah menuju dewi anggur, bukan. Pasti senang-senang, suka-suka, maupun lebihan harta juga menjadi keinginan, untuk hiburan. Bukankah hiburan banyak sekali, ah.tak begitu penting dengan adanya hiburan, masyarakat sedang sakit, ditodong segala keserakahan industri, mendidik para pelanggan, menjadi customer tetap, dengan dalih pendidikan, mengesampingkan moral juga etika, memburu persekot, menghabisi kemurnian cita-cita suci anak-anak juga bayi, menghardik dengan mencekoki ideologi sesat dan sesaat, masyarakat lapar, butuh makan, butuh kesehatan juga rumah tinggal. Beruntung para gadis desa tak melakukan mogok seks seperti pada pementasan-pementasan teater klasik. Juga tak mogok kerja para rakyat, sekali mogok kerja seantero Nusantara maka perekonomian dunia lumpuh seketika, para cukong dan tengkulak gigit jari, meratapi kebangkrutan pabrik industri pribadi. Semua peminum anggur akan disulap oleh anggur menjadi pengangguran. Bukan tempat untuk penyulingan anggur, tetapi benar-benar menjadi korban dari dampak kedzaliman dalam ekonomi, menganggur.

Kita berkirim surat saja kepada seluruh pemimpin Negara, untuk meminta mereka menghentikan pasokan-pasokan gizi, juga atribut berlabel apapun yang merusak moral juga mental yang menyebal, membuat bebal.

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar