Novel (T)apel Adam : Apel #2



#Apel#

Simak Bab 1 Novel (T)apel Adama disini : Novel (T)apel Adam : Syahadat #1

Selain itu Pak Nur Cahyo juga mengatakan bahwa konon Apel budidaya berasal  dari Asia Tengah, dengan nama latin Malus Domestica, keturunan dari Malus Sieversii, leluhur liarnya, yang bisa ditemui hidup secara liar di pegunungan Asia tengah, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Xinjiang, Tiongkok.  Sebagian genomnya dari Malus sylvestris (apel hutan /apel liar) yang mungkin juga bisa ditemui di daerah itu.

Biasanya Apel dikonsumsi langsung mentah mentah, atau dimasak sampai lembek dibuat saus tomat, atau diambil sarinya untuk minuman sari buah.

Pohon apel merupakan pohon yang kecil berdaun gugur, mencapai ketinggian 3 hingga 12 m, dengan tajuk lebar biasanya sangat beranting. Daun berbentuk lonjong dengan panjang 5-12 cm, lebar 3-6 cm. Bunga apel mekar di musim semi, bersamaan dengan percambahan daun. Bunganya putih dengan baur merah jambu yang berangsur pudar. Pada bunga, terdapat lima kelopak, dan mencapai diameter 2,5 hingga 3,5 cm. Buahnya masak pada musim gugur, dan biasanya berdiameter 5 hingga 9 cm. Inti buah apel memiliki 5 gyneocium yang tersusun seperti bintang lima mata, masing masing berisi satu hingga tiga biji.

Pada tahun 2010, sebuah konsorsium pimpinan Italia mengumumkan bahwa mereka telah menafsirkan seluruh genom apel(varietas golden Delicious ). Menurut mereka, apel  memiliki sekitar 57.000 gen, merupakan jumlah tertinggi genom tumbuhan yang telah dikaji sejauh ini oleh para ahli, dan lebih banyak dari genom manusia, yang berkisar sekitar 30.000 gen.

Pohon apel mungkin merupakan tumbuhan awal yang menjadi tanaman pertanian, buah buahannya diperbaiki melalui proses seleksi selama ribuan tahun. Iskandar Agung dihargai karena menemukan tumbuhan kerdil di Asia kecil pada tahun 300 SM. Apel musim dingin yang dipetik pada akhir musim gugur dan disimpan dalam suhu yang sedikit melebihi titik beku, telah menjadi makanan penting di Asia dan Eropa selama ribuan tahun, dan juga di Argentina dan Amerika Serikat sejak kedatangan bangsa Eropa.

Apel dibawa masuk Amerika Utara bersama kolonis pada abad ke 17. Pada abad ke 20, proyek irigasi di negeri Washington dilancarkan untuk memacu pembangunan industri buah dengan nilai ribuan juta dollar.

Dalam mitologi Nordik “Idunn” digambarkan dalam prosa Snorra Edda karya Snorri Sturluson abad ke 13, sebagai penyedia apel yang memberikan kemudaan abadi kepada dewa dewi. Cendekiawan inggris, H.R. Ellis Davidson, mengaitkan “apel” dengan praktik keagamaan dalam paganisme Jermanik yang kelak melahirkan agama Nordik. Ia menunjukkan hipotesa, bahwa “keranjang berisi apel” yang ditemukan di situs pemakaman kapal oseberg di Norwegia, dan “apel dan biji” (Idunn dikisahkan berubah menjadi biji dalam Skaldskaparmal ) yang ditemukan di pekuburan lama orang Jermanik di Inggris dan benua eropa, mungkin membawa arti simbolik, dan kelak mengilhami , “ biji” merupakan lambang kesuburan yang penting di Inggris barat daya hingga saat ini. Davidson juga memperhatikan hubungan antara apel dan Vanir, suku dewa-dewi yang dikaitkan dengan kesuburan dalam mitologi Nordik, dengan mengutip contoh kisah Skirnir utusan Freyr, dewa Vanir utama yang menggunakan sebelas biji “apel emas” untuk memikat Gerar, seperti yang tertulis dalam stanza 19-20 Skirnismal. Davidson juga memperhatikan lagi hubungan antara kesuburan dan apel dalam bab 2 Saga Volsunga, ketika dewi Frigg mengirim apel ke raja Rerir yang berdoa memohon anak kepada Odin. Utusan Frigg yang berupa burung gagak menjatuhkan apel itu di pangkuannya ketika beliau duduk di atas gundukan. Setelah memakan apel itu, permaisuri Rerir hamil selama 6 tahun, lalu melahirkan seorang anak yang bernama Volsung.

Frasa “Apel Hel” yang digunakan dalam puisi abad 11 buatan skald Thorbiorn Brunarson, mungkin sebuah frasa yang menceritakan  bahwa apel  menjadi makanan  favorit bagi orang yang sudah  mati, begitu kata si penyair.

Apel juga kadang penggambarannya disandingkan dengan keberadaan dewi Jermanik Nehallennia, penggambaran ini sepertinya paralel dengan kisah-kisah kuno dari Irlandia. Sementara penanaman apel di Eropa utara telah ada semenjak masa kekaisaran Romawi.

Yang unik adalah, penyebutan “apel” digunakan sebagai istilah umum untuk menamai segala buah asing di Eropa sebelum abad ke 17. Misalnya dalam mitologi Yunani, konon Herakles dalam salah satu misinya, diharuskan pergi ke kebun Hesperides untuk memetik buah apel emas dari Pokok Kehidupan yang berada di tengah-tengah kebun itu.

Dewi perselisihan Yunani, Eris, didorong oleh rasa kecewa karena disisihkan, melemparkan apel emas di upacara pernikahan Peleus dan Thetis.  Apel itu dituntut oleh tiga dewi, yaitu Hera, Athena, dan Aphrodite. Paris dari Troy diangkat untuk memilih penerimanya. Setelah disuap oleh Hera dan Athena, Aphhrodite memikat Paris dengan perempuan paling cantik di dunia, yaitu Helen dari Sparta. Paris memberikan apel itu ke Aphrodite, maka buah apel, secara tidak langsung memicu Perang Troya.

Di Yunani kuno, apel adalah buah suci dewi Aphrodite, maka tindakan melempar buah apel ke arah seseorang adalah simbol pernyataan cinta kepadanya, begitu juga, orang menyambut apel itu, merupakan lambang penerimaan cinta.

Meski buah terlarang dalam kitab kejadian tidak teridentifikasi dengan jelas, namun banyak penganut kristen percaya bahwa buah itu adalah buah apel. Hal ini mungkin akibat dari para pelukis jaman Renaissans yang menambahkan unsur mitologi Yunani kedalam karya-karyanya bila melukiskan adegan dalam Injil. Mungkin dipengaruhi kisah apel emas dari kebun Hesperides. Justru itu, dalam kitab kejadian, apel menjadi lambang pengetahuan, hidup abadi, godaan, kejatuhan manusia karena dosa, dan apel kadang juga menjadi lambang dari kata “dosa” itu sendiri. Dalam bahasa latin kata “apel” dan “kejahatan” adalah serupa dalam bentuk tunggal ( malus-apel, malum-jahat ), dan identik dalam bentuk jamak “mala”, dan mungkin semua ini juga mempengaruhi gagasan apel sebagai buah terlarang dalam Alkitab.

Apakah Malus itu Malangus, kebetulan Kota Malang dekat dengan kota Batu penghasil apel. Bisa jadi kan? Bagaimana mungkin. Apakah Adam diturunkan disini, di kota ini? 

Rasa kagum Adam kepada Pak Nur Cahyo semakin menggunung.


Siang pun bergerak pelan tak terasa matahari condong merendah ke barat, sore pun bergegas mengambil waktu. Adam pun berpamit ke Pak Nur Cahyo untuk segera meninggalkan kerumun semak pepohonan, setelah menyodorkan lembaran hasil cetakan Bank Indonesia Adam pun pamit.

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.


Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar