Novel (T)apel Adam : Blawong #9



#Blawong#

Klik tautan judul untuk menyimak Bab 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 Novel (T)apel Adama disini : Novel (T)apel Adam : Syahadat #1, Apel #2Ijab Qobul #3Gema lonceng #4Surat dari Pastor #5Lurah Bondronoyo #6Kembara #7, Blawong #8

Pak Gunawan Siswoyo merupakan pensiunan pegawai yang dulu pernah menjabat Dekan Fakultas Ilmu Sejarah, dalam masa udzurnya beliau menyibukkan diri dengan rutinitas dirumah, yakni menanam bunga, memelihara ikan, merawat burung, dan sesekali diundang mengisi seminar maupun pelatihan.

“Selamat pagi Pak Sis?” Adam lewat depan rumahnya sembari menyapa.

“Pagi juga…silahkan mampir kesini nak, ada Pala Kependem ini masih hangat, sambil kita gantang burung yang gacor”

“Iya Pak, saya tertarik dengan burung Anis Merah milik bapak itu, kelihatan gagah dan meyakinkan, merdu plus nyaring suaranya”

“Iya, itu termasuk burung kicauku yang nomor wahid urutannya, kalau sedang teler dia bisa hampir jungkir balik ”

“Itu yang di teras perkutut bapak kelihatan anggun, bersahaja, namun penuh wibawa”

“Blawong namanya,”

“Kok aneh begitu namanya, apakah ada maksud terpendam dari nama tersebut Pak?”

“Sebenarnya tidak ada yang aneh nak, itu hanya sebuah sebutan saja, tetapi memang nama atau sebutan ini punya kaitan yang erat dengan asal-usul burung ini,”

Sambil mencicipi teh hangat Pak Siswoyo pun melanjutkan ceritanya.

“Burung Perkutut ini 2 tahun lalu aku peroleh di daerah Prajurit Kulon-Mojokerto, ketika kami dari rombongan dinas kebudayaan sedang menuju daerah yang dulu menjadi tapel batas barat kota raja majapahit. Ditengah sebuah area persawahan, didekat makam Mbah Jimat saya melihat anak burung Perkutut yang sendirian, kemungkinan ditinggal pergi induknya untuk mencari makanan, ketika ku dekati burung tersebut diam seakan merelakan untuk dipungut paksa. Akhirnya si Blawong junior pun aku ambil dan kubawa pulang.”

“ itu ubinya dimakan, mumpung masih hangat nak,” sambil Pak Sis mencontohkan.

“Iya Pak, saya makan…”

Sambil memamah ubi jalar Cilembu Adam melanjutkan pertanyaannya.

“Kenapa Blawong menjadi nama yang bapak sematkan untuk seekor burung Perkutut ini?”

“Apa ada maksud dari nama tersebut?”

P.Sis sambil membersihkan kandang burung Perkututnya dan bersiul-siul layaknya segerombolan burung yang nangkring  di dahan, seperti tidak menggubris pertanyaan dari Adam, ia lanjutkan bersiul-siulnya.

“Blawong adalah nama dari burung Perkutut milik Prabu Brawijaya V.” sambil menoleh ke Adam.

“Burung yang menjadi rajanya para burung, meskipun zaman burung sudah terlewati jauh jutaan tahun lalu”

“Oo…Blawong itu burung Perkutut milik Prabu Brawijaya V, maksud dari zaman burung itu apa? Apa memang benar adanya zaman tersebut?” Adam pun menjadi penasaran.

“Iya lah, tau burung Hudhud kamu? Kamu mengimani kisah Sulaiman?”

“Memang benar adanya tentang zaman burung-burung, atau disebut Kala Kukila.”

“Pernah mendengar Jangka Jayabaya Nak?

“Pernah, sebuah ramalan kan?”

“Sebenarnya itu bukan sebuah ramalan. Dulu, Maha Raja dari Kerajaan Dahana Pura yang bernama Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya dalam karyanya Jayabaya Pranitiradya dan Jayabaya Pranitiwakyo. Sering juga disebut dengan  “Jangka Jayabaya” atau oleh masyarakat sekarang dikenal dengan nama “Ramalan Jayabaya”, sebetulnya istilah ramalan kuranglah begitu tepat, karena “Jangka Jayabaya” adalah sebuah Sabda, Sabda Pandhita Ratu dari Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya, yang artinya adalah akan terjadi dan harus terjadi.

”Pak Sis diam sejenak sambil memandangi langit yang mulai agak mendung.
 Seperti takut kalau ada petir yang akan menyambar.

“Lanjutkan Pak ceritanya,”

“Sebentar, saya turunkan dulu burung-burung yang di gantangan, sekalian saya masukkan ke teras rumah.” Sambil bergegas berjalan keluar rumah.

Adam pun ikut mengambil satu persatu burung yang sedang di gantang,

“Burung Cendet ditaruh dibagian mana pak?”

“Pokok yang barisan gantangannya di paling depan taruh di teras terluar, disitu ada Punglor, Cucak Hijau, Cucak Jenggot, Jalak Kopi, dan Tledek’an. Untuk Kenari bawa ke belakang rumah, untuk Murai Medan bawa ke dalam rumah. Untuk Parkit dan Love Bird biar kutangani sendiri.”

“Awas ya, jangan terburu-buru bawanya, nanti takut pojok kandangnya terbentur tembok.”

Sambil dipandanginya Adam yang lalu lalang keluar masuk rumah membawa burung.

“iya Pak, jangan khawatir.”

“Sudah semua, akhirnya selesai.” Ucap P.Siswoyo sembari duduk kembali di kursi Goyangnya.

“Mari pak dilanjutkan kuliahnya, kuliah tentang Jangka Jayabaya”

“Tadi sampai mana aku bercerita?”

“Masih terkait ketidak sepakatannya bapak mengenai Jangka Jayabaya yang disebut ramalan.”

“Baik. Jangka Jayabaya, telah mempetakan periodesasi terciptanya bumi sampai ke titik Akhir menjadi tiga Zaman Kali (Zaman Besar) atau Tri Kali, dan setiap zaman besar atau Kali terbagi menjadi tujuh Kala (Zaman Sedang) atau Sapta Kala, dan satu Zaman Sedang (Kala) terbagi menjadi tiga Mangsa Kala (Zaman Kecil), serta berhasil mengurutkan sejarah kerajaan-kerajaan induk yang ada di Nusantara/Nuswantara yang mayoritas telah dihilangkan dari sejarah resmi.”

“Berarti ada Kali, Kala, dan Mangsa ya Pak?, Kerajaan-kerajaan induk itu seperti apa pak? Seperti Majapahit itu ya?”

“Iya, ada Kali, Kala, dan Mangsa, kerajaan induk itu kerajaan yang memimpin seluruh kerajaan-kerajaan yang menginduk. Untuk kerajaan induk nanti dulu penjelasannya.”

“Tri Kali atau 3 Zaman Besar itu terdiri dari : Masing-masing Zaman Besar berusia 700 Tahun Surya, suatu perhitungan tahun yang berbeda dengan Tahun Masehi maupun Tahun Jawa, perhitungan tahun yang digunakan sejak dari awal peradaban. Konversi setiap Zaman Besar (Kali) masing-masing berbeda, itu dikarenaka perputaran bumi tidak linear, perhitungan masa dalam satu Tahun Surya di Zaman besar Kali Yoga lebih lama dari perhitungan masa dalam satu Tahun Surya di Zaman Besar Kali Sangara, dan perhitungan masa dalam satu Tahun Surya di Zaman Besar Kali Swara lebih lama dari perhitungan masa dalam satu Tahun Surya di Zaman Besar Kali Yoga.”

“Kali Swara, Kali Yoga, dan Kali Sangara itu zaman apa Pak?”

“Kali Swara adalah Zaman Penuh Suara Alam, Kali Yoga adalah Zaman Pertengahan, Kali Sangara adalah zaman Akhir.”

“Kira-kira berapa perhitungan zaman tersebut jika dikonversikan dengan zaman sekarang Pak?”

Kira-kira jika dikonversikan penghitungan setiap Kali (Zaman Besar) itu adalah 700 Tahun Surya, sedangkan setiap Kala (Zaman Sedang) ada 100 Tahun Surya, untuk Mangsa Kala (Zaman Kecil) terdapat 33-34 Tahun Surya, di mana setiap satu Tahun Surya setara dengan tujuh Tahun Wuku, satu tahun Wuku terdiri dari 210 hari yang berarti satu Tahun Surya itu sama dengan 1.470 hari.”

“Terkait Kerajaan Besar tadi seperti apa Pak penjelasannya?”

“Pada Zaman Kali Swara memiliki tujuh zaman sedang, yaitu Kala Kukila (burung)pada tahun 0-100 Tahun Surya memiliki tiga zaman kecil, Mangsa Kala Pakreti (mengerti)-Mangsa Kala Pramana (waspada)-Mangsa Kala Pramawa (terang). Pada Kala Kukila terdapat  enam kerajaan besar yaitu: Keling,  Purwadumadi, Purwacarita / Purwakandha, Magadha, Gilingwesi, dan Kerajaan Sadha Keling. Kala Budha (mulai munculnya kerajaan) 101 - 200 Tahun Surya memiliki  Mangsa Kala Murti (kekuasaan)- Mangsa Kala Samsreti (peraturan)- Mangsa Kala Mataya (manunggal dengan Sang Pencipta). Pada zaman tersebut terdapat delapan kerajaan besar: Gilingwesi, Medang Agung, Medang Prawa,  Medang Gili / Gilingaya, Medang Gana, Medang Pura, Medang Gora, Grejitawati, dan Medang Sewanda. Kala Brawa (berani/menyala) 201 - 300 Tahun Surya  memiliki Mangsa Kala Wedha (pengetahuan)-Mangsa Kala Arcana (tempat sembahyang)- Mangsa Kala Wiruca (meninggal). Pada zaman tersebut terdapat tiga  kerajaan besar: Medang Sewanda, Medang Kamulyan, dan Medang Gili / Gilingaya. Kala Tirta (air bah) 301 - 400 Tahun Surya memiliki Mangsa Kala Raksaka (kepentingan)- Mangsa Kala Walkali (tamak)- Mangsa Kala Rancana (percobaan)- Kala Rwabara (keajaiban). Pada zaman tersebut terdapat empat  kerajaan besar: Purwacarita, Maespati, Gilingwesi, dan Medang Gele / Medang Galungan. Kala Rwabara (keajaiban) 401 - 500 Tahun Surya memiliki Mangsa Kala Sancaya (pergaulan)- Mangsa Kala Byatara (kekuasaan)- Mangsa Kala Swanida (pangkat). Pada zaman tersebut terdapat lima  kerajaan besar: Gilingwesi, Medang Kamulyan, Purwacarita, Matswapati, dan Wiratha Wetan.  Kala Rwabawa (ramai) 501 - 600 Tahun Surya memiliki Mangsa Kala Wibawa (pengaruh)- Mangsa Kala Prabawa (kekuatan)- Mangsa Kala Manubawa (sarasehan/Pertemuan). Pada zaman tersebut terdapat tiga kerajaan besar: Galuh, Purwacarita, dan Wirata Anyar. Kala Purwa (permulaan) 601 - 700 Tahun Surya memiliki Mangsa Kala Jati (sejati)- Mangsa Kala Wakya (penurut)- Mangsa Kala Mayana (tempat para maya/ Hyang). Pada zaman tersebut terdapat dua kerajaan besar: Wirata Kulon, dan Hastina Pura.

“Itu zaman Kali Swara ya Pak, sedangkan untuk zaman Kali Yoga  seperti apa Pak penjelasannya?, saya tertarik dengan penjelasan bapak, soalnya saya belum pernah mendengarnya dan tidak pernah diberi pelajaran tentang ini ketika sekolah maupun kuliah.”

“Pada Zaman Kali Yoga memiliki tujuh zaman sedang (Sapta Kala) yaitu Kala Brata (bertapa) 701 - 800 Tahun Surya memiliki tiga zaman kecil: Mangsa Kala Yudha (perang)-Mangsa Kala Wahya (saat/waktu)- Mangsa Kala Wahana (kendaraan). Kala Dwara (pintu) 801 - 900 Tahun Surya memiliki tiga zaman kecil: Mangsa Kala Sambada (sesuai/ sepadan)- Mangsa Kala Sambawa (ajaib)- Mangsa Kala Sangkara (nafsu amarah). Kala Dwapara (para dewa) 901 - 1.000 Tahun Surya memiliki tiga zaman kecil: Mangsa Kala Mangkara (ragu-ragu)- Mangsa Kala Caruka (perebutan)- Mangsa Kala Mangandra (perselisihan). Kala Praniti (teliti) 1.001 - 1.100 Tahun Surya memiliki tiga zaman kecil: Mangsa Kala Paringga (pemberian/kesayangan)-Mangsa Kala Daraka (sabar)-Mangsa Kala Wiyaka (pandai). Kala Teteka (pendatang) 1.101 - 1.200 Tahun Surya memiliki tiga zaman kecil: Mangsa Kala Sayaga (bersiap-siap)-Mangsa Kala Prawasa (memaksa)-Mangsa Kala Bandawala (perang). Kala Wisesa (sangat berkuasa) 1.201 - 1.300 Tahun Surya memiliki tiga zaman kecil: Mangsa Kala Mapurusa (sentosa)-Mangsa Kala Nisditya (punahnya raksasa)-Mangsa Kala Kindaka (bencana). Dan Kala Wisaya (fitnah)  1.301 - 1.400 Tahun Surya memiliki tiga zaman kecil: Mangsa Kala Paeka (fitnah)-Mangsa Kala Ambondan (pemberontakan)-Mangsa Kala Aningkal (menendang).

“Kerajaan mana saja kiranya yang menjadi Kerajaan Induk di zaman Kali Yoga?”

“Di zaman Kali Yoga beberapa kerajaan induk sudah sering disebutkan oleh sebagian orang, diantaranya kamu mungkin juga pernah mendengar. Zaman Kala Brata hanya ada satu Kerajaan besar yaitu Hastina Pura. Zaman Kala Dwara ada enam Kerajaan besar, yaitu: Malawapati, Dahana Pura, Mulwapati, Medang Penataran, dan Kertanegara. Zaman Kala Dwapara ada lima Kerajaan besar, yaitu: Pengging Nimrata, Galuh, Prambanan, Medang Nimrata, dan Grejitawati. Zaman Kala Praniti ada delapan Kerajaan besar, yaitu: Purwacarita, Mojopura, Pengging, Kanjuruhan, Kahuripan, Kedhiri, Jenggala, dan Singasari. Zaman Kala Teteka ada empat Kerajaan besar, yaitu: Kedhiri, Galuh, Magada, dan Pengging. Zaman Kala Wisesa ada tiga Kerajaan besar, yaitu: Pengging, Kedhiri, dan Majapahit. Zaman Kala Wisaya ada tiga Kerajaan besar, yaitu: Majapahit, Demak, dan Giri.

“Wah, hebat sekali,,, sepengetahuan saya tentang kerajaan hanya Hastina Pura, Majapahit, ataupun Demak, itupun berkat tayangan setiap hari di televisi.” Sembari Adam terkesima.

“Kalau yang ditayangkan di Televisi banyak yang dibelok-belokkan, namanya juga entertaint, berarti ya hiburan. Masyarakat kita hari ini senang dan terfavorit kalau masalah hiburan, itu menandakan bangsa kita memang sedang sakit.”

“Namanya juga zaman akhir ya seperti ini, masih syukur Alhamdulillah kita tidak di turunkan adzab hari ini,”

“Kiamat kurang berapa hari ya pak kalau dihitung dari sekarang?”

“Kurang lebih berapa ya?, wah saya tidak bisa menghitung. Yang jelas ini sudah zaman akhir. Seperti dalam Jangka Jayabaya kita sudah masuk hitungan siklus zaman Kali Sangara, atau zaman akhir.”

“Bagaimana itu pak hitungannya, apa kita Republik Indonesia termasuk kerajaan besar yang diperhitungkan juga?”

“Zaman Kali Sangara juga memiliki Sapta Kala dan setiap Kala memeiliki Tri Mangsa Kala. Kala Jangga (leher) 1.401 - 1.500 Tahun Surya memiliki Mangsa Kala Jahaya (keluhuran)-Mangsa Kala Warida (kerahasiaan)-Mangsa Kala Kawati (mempersatukan). Kala Sakti (kuasa) 1.501 - 1.600 Tahun Surya memiliki Mangsa Kala Girinata (Syiwa)-Mangsa Kala Wisudda (pengangkatan)-Mangsa Kala Kridawa (perselisihan). 

Kala Jaya 1.601 - 1.700 Tahun Surya memiliki Mangsa Kala Srenggya (angkuh)-Mangsa Kala Rerewa (gangguan)-Mangsa Kala Nisata (tidak sopan). Kala Bendu (hukuman/musibah) 1.701 - 1.800 Tahun Surya memiliki Mangsa Kala Artati (uang/materi)-Mangsa Kala Nistana (tempat nista)-Mangsa Kala Justya (kejahatan). Kala Suba (pujian) memiliki Mangsa Kala Wibawa (berwibawa/berpengaruh)-Mangsa Kala Saeka (bersatu)-Mangsa Kala Sentosa (sentosa). Kala Sumbaga (terkenal) 1.801 - 1.900 Tahun Surya memiliki Mangsa Kala Andana (memberi)-Mangsa Kala Karena (kesenangan)-Mangsa Kala Sriyana (tempat yang indah). Kala Surata (menjelang jaman akhir) 2.001 - 2.100 Tahun Surya memiliki Mangsa Kala Daramana (luas)-Mangsa Kala Watara (sederhana)-Mangsa Kala Isaka (pegangan).

“Kerajaan mana saja yang termasuk dalam periode akhir tersebut Pak?, Indonesia masuk dimana? Apa tidak termasuk kerajaan besar?”

“Termasuk juga. Kerajaan besar di zaman Kala Jangga adalah Pajang dan Mataram, pada zaman Kala Sakti termasuk kerajaan besar adalah Mataram dan Kartasura. Zaman Kala Jaya yang terhitung menjadi kerajaan besar adalah Kartasura, Surakarta, dan Ngayogyakarta. Pada zaman Kala Bendu Surakarta, Ngayogyakarta dan Indonesia (Republik) adalah kerajaan besar yang dimaksud.”

“Saya sering mendengar zaman Kala Bendu Pak, para pujangga sering mengutip Serat Kalatida miliknya Raden Ngabehi Ronggowarsito, pantas saja beliau menulis serat tersebut, karena beliau berada di Surakarta, termasuk kerajaan besar yang diperhitungkan waktu itu. Dan yang ditulis oleh beliau waktu itu memang benar terjadi saat itu, dan bukan sebatas ramalan semata. Apa betul begitu Pak?”

“Kurang lebih seperti itu.” Sambil Pak Sis membetulkan letak sarungnya.
Setelah diberikan sebegitu banyak pengetahuan dan informasi dari Pak Sis, Adam diam sambil jarinya bergerak-gerak dilutut, seperti seorang pianis yang sedang konser tunggal. Sembari diam Adam berfikir dan mencernanya.

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.

Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar