Novel (T)apel Adam : Cahaya #18




#Cahaya#


“Musim paceklik BBM seperti sekarang ini, meskipun hanya dua hari sangat menyiksa, apalagi ditambah pemadaman listrik selama satu jam, lengkap sudah penderitaan masyarakat modern, masyarakat yang serba ketergantungan dengan industri.”

Malam tak akan bertepi, tak akan melakukan perselingkungan melangkahi rembulan, dua mahluk yang sangat akrab saling menyinta, membawa seribu sabda dan warta bagi peminta. Mengabulkan harap pinta seorang hamba, malam memang anugerah rembulan sebutlah dia berkah. Setia menyelimuti gelandangan ditepian trotoar dengan kabut berbalut embun. Pernahkah ada mahluk lain yang ingin menjadi malam?, ataukah rembulan?mungkin hanya para pecinta yang sedang gandrung kasmaran muda. Karena yang lain tidak mau tahu, yang ada di ujung ubun hanya kerja mencari sesuap nasi, penghidupan, berfikir tentang mereka pun tak pernah, lebih sering mencemooh kedatangan mereka, kenapa malam begitu cepat datang? Pekerjaan sedang menumpuk, jatah lemburan semakin banyak, oh kasihan engkau malam, kehadiranmu membebani mereka yang sudah larut dalam aroma busuk kepentingan pribadi, memujimu pun tak perlu diharap, mereka tak sempat.

Dalam kegelapan seperti ini, dalam gelap dan sunyi seperti ini seberapa pentingkah BBM daripada secercah cahaya lilin, obor, petromak, ataupun rembulan penuh, ataukah cahaya lebih berbahaya daripada minyak, dalam kehidupan yang bercampur baur hitam putih menyatu sulit membedakan bau anyir bangkai dan harum parfum misik yang berasal dari minyak kulit rusa, semua sudah dicampur, entah murka Esa kapan akan segera turun, tinggal menghitung hari saja, untuk zaman yang sudah tidak wajar ini, sekarang seluruh manusia di didik menjadi pekerja yang sangat keras sekali, jangan pernah menyangka ataupun merendahkan bahwa kita adalah bangsa pemalas, jangan, kita bangsa yang sangat keras bekerja, sampai tidurpun kita tetap giat bekerja, lucu sekali, manusia lucu lebih tepatnya, bayangkan saja kita tidak bisa tidur jika tidak mendengarkan musik, ditambah memakai headset di kepala yang mencengkeram tengkorak, seperti pengemudi motor di jalan raya, seperangkat alat dengar yang berukuran menyerupai helm, juga ada yang kecil biar tidak terlalu memalukan kalau disebut lucu, tetapi sama saja, tidur dimalam hari untuk beristirahat menjaga stamina juga kesehatan agar besok pagi bisa bekerja kembali, tetapi tidak untuk bangsa lucu ini, dalam tidur pun syaraf otak dipaksa kerja, syaraf telinga dipaksa untuk berjaga, aneh. Jadi jangan salahkan jika kita menjadi bangsa yang sakit, setelah menjadi bangsa lucu kemudian naik kasta menjadi bangsa sakit, macam-macam pula sakitnya, juga lucu-lucu pula, berbondong-bondong rakyat kecil sebesar semut ingin menjadi raja hutan, semua mendaftar ingin jadi pemimpin, tidak ada bedanya dengan mendaftar tes calon pegawai negeri, maka tak perlu heran jika banyak pemimpin yang tidak dihormati, tak berwibawa maupun berkarisma, kelasnya sama dengan pegawai negeri biasa, yang ditempatkan kerja sesuai surat keputusan dinas, pokoknya yang penting harus jadi pemimpin, mulai dari pusat sampai pangkal, jadi RT saja rebutan, jadi anggota perwakilan saja saling sikut, jika gagal menjadi pemimpin maka bisa jadi akan mempersulit kerja perawat rumah sakit jiwa, gila massal. “Harus di apresiasi, mereka mengamalkan ayat Tuhan untuk menjadi Khalifah umat di bumi, jangan dikerdilkan”, para penghasut juga sering berbicara seperti itu, “kamu layak memimpin kami, kamu satriya pinunjul, bisa memakmurkan orang banyak”, ternyata penghasut tidak hanya menunjuk satu orang, harus ada yang lainnya, untuk berlomba menjadi yang terbaik, ternyata penghasut berdiri diantara dua kepala calon pemimpin tersebut, jika salah satu sudah tersungkur berkalang tanah, yang menang pun diagung-agungkan dengan sejuta sanjungan, syair seribu satu malam dikumandangkan, sedang yang kalah terpaksa meringkuk dalam pantauan perawat juga dokter spesialis, karena dinyatakan jiwanya berkurang beberapa persen. Nista sekali, kesakralan memilih pemimpin disamakan dengan sabung ayam, adu jangkrik, maupun balap kuda. 

Seberapa cepat cahaya datang dan pergi, hinggap dan lenyap, tak terduga sepersekian detik, darimana sumbernya, hulu juga kemana hilirnya, air memiliki sumber mata air, cahaya dimana engkau bersembunyi, 

Mushannif bidang Fisika Albert Einstein, pengarang Rumus E = mc^2, mengeluarkan sebuah teori yang mendobrak paradigma fisika yang berbunyi “kecepatan cahaya merupakan tetapan alam yang besarannya bersifat absolut dan tidak bergantung kepada kecepatan sumber cahaya dan kecepatan pengamat”. Menurut Einstein, tidak ada yang mutlak di dunia ini (termasuk waktu) kecuali kecepatan cahaya. Selain itu, kecepatan cahaya adalah kecepatan tertinggi di alam ini. Artinya, tidak mungkin ada (materi) yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. Pendapat Einstein ini mendapat dukungan dari hasil percobaan yang dilakukan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh Michelson-Morley, Fizeu, dan Zeeman.

Di mata awam, postulat Einstein ini memunculkan banyak keanehan. Misalnya, sejak dulu logika kita berpendapat bahwa jika kita bergerak dengan kecepatan v1 di atas kendaraan yang berkecepatan v2, kecepatan total kita terhadap pengamat yang diam adalah v1 + v2. Tetapi, menurut Einstein, cara penghitungan tersebut salah karena dapat mengakibatkan munculnya kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya.

Oleh karena itu, menurut Einstein, formula penjumlahan kecepatan yang benar adalah sebagai berikut= (v1 +v2) / (1 + (v1 x v2 / c2)). Hebat juga ustadz Enstein itu.

Sinodik dan Siderial, iya dua mahuk itu yang menghitung gerakan benda langit. Sistem Sinodik didasarkan pada gerakan semu Bulan dan Matahari dilihat dari Bumi. Sistem inilah yang menjadi dasar perhitungan kalender Masehi di mana satu bulan = 29,53509 hari. Sistem Siderial didasarkan pada gerakan relatif Bulan dan Matahari dilihat dari bintang jauh (pusat semesta). Sistem ini menjadi dasar perhitungan kalender Hijriah di mana satu bulan = 27,321661 hari . Ahli-ahli astronomi selalu mendasarkan perhitungan gerak benda langit (mechanical of Celestial) kepada sistem Siderial karena dianggap lebih eksak dibandingkan sistem Sinodik yang mengandalkan penampakan semu dari Bumi. Berguna juga dua mahluk bikinan otak manusia itu, hebat.

Celeritas cahaya, kecepatan cahaya… 

Cahaya maha cahaya, siapa? Nur Muhammad? Siapa, aliran kekuatan? Atau apakah yang pertama kali menunjukkan keberadaannya di Bumi.

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar