Novel (T)apel Adam : Gema lonceng #4




#Gema lonceng#

Simak Bab 1, 2, 3 Novel (T)apel Adama disini : Novel (T)apel Adam : Syahadat #1, Apel #2, Ijab Qobul #3

Emosi Adam meluap-luap ketika dia membaca sebuah surat kabar yang memuat berita duka  berdarah disebuah Gereja di daerah jalan Kudusan yang meledak menggemparkan jantung kota tersebut. Seperti tragedi dentuman di kota Hiroshima dan Nagasaki. Luluh lantak tak menyisa. Malam Misa Natal tersebut menjadi sebuah acara pengantar sebelum seorang laki-laki gagah berparas tampan lengkap dengan setelan jas yang membalut badannya. Cctv merekam kehadiran pria tak dikenal tersebut, sebelum suara ledakan itu memecah hening suasana, pria tersebut sempat merogoh saku jas bagian kanannya, seketika itu tiba-tiba semua lenyap.

Surat kabar lusuh yang ditemukan dipinggir jalan, tepat didepan toko fantasi, toko alat-alat elektronik. Toko yang terbilang murah disini, tetapi meskipun begitu siapapun sekarang pasti akan tetap membeli berapapun harga yang ditawarkan untuk bisa menghidupkan kembali nyawanya. Iya, nyawa manusia di era ini adalah elektronik atau bahkan elektronik yang membagi nyawanya, di depan TV mulai dari jam berapapun sampai jam berapapun akan tetap tahan dibanding menatap murka surya yang selalu menyilaukan mata. Hidup kita sekarang diatur dan diperintah oleh kotak kecil yang bernama TV tersebut, seakan-akan benda itu memberikan spirit kehidupan, atau bahkan menjadi neo kitab suci perjanjian paling baru. TV akan memerintah kita dengan seenaknya, kita disuruh merasakan benci terhadap pejabat mudah sekali, dengan menampilkan kebengisan para pemimpin negeri maka kita akan langsung menaruh nama atau sosok pemimpin kita di comberan paling bau, bukan hanya itu ayat-ayat yang mengisahkan kehidupan muda-mudia Korea akan membuat perut kita mual karena terpingkal-pingkal, bukan karena acaranya, tetapi dampaknya yang serius. Gerombolan pemuda dan pemudi kita tiba-tiba merubah cara bicara dengan gaya khas beo, mendengar menyaring langsung melengking. Masih dalam cara bicara, belum dalam berpakaian, berdandan. mana mungkin kita akan memakai mantel tebal dimusim panas ini, bayangkan saja jika panas siang hari akan membuat kulit kita meraung-raung apalagi ditambah memakai mantel ala Korea dengan membeli di toko baju import, atau memesan kepada tetangga yang sedang menjadi TKW disana. Maklum, bangsa kagetan yang tak mengenali bangsanya sendiri. Yang terhebat adalah doktrinasi yang membingungkan di TV, setiap film-film yang berdalih religi akan ditampilkan dengan tema yang menyejukkan-santun terkadang azab, dimana salah satu agama atau mungkin beberapa agama dikorbankan disitu, agama menjadi sebuah alat penangkal hantu, kuntil anak dll.sebenarnya agama istilah baru untuk memudahkan orang untuk menyebut saja, tetapi agama bukan milik kita, milik pemerintah, siapa yang tidak hebat bisa bikin agama dengan memecah dan membelah umat Tuhan. Tidak apalah sekarang kita punya 6 agama yang baru dibuat oleh pemerintah, suatu saat 10 sampai 20 agama bisa dibuat, asal syariat dan ritusnya sedikit berbeda masukkan saja pasal baru untuk mengesahkan agama baru. Gampangkan! Zaman sekarang apa yang tidak digampangkan oleh manusia, semuanya serba digampangkan juga dientengkan. Tv nya lupa dimatikan!! tidak perlu dimatikan. Siapa yang akan mematikan? Si empunya pun sudah mati sebelum tayangan reality show kesukaannya berhenti. Adzan shubuh berkumandang, ternyata mimpinya tak sepanjang lamunannya, mendadak terjaga. Bukan karena mendengar suara adzan ataupun kokok ayam jantan, apalagi alarm pengingat waktu, tidak mungkin. Terbangun gara-gara mendengar pendakwah yang berteriak ‘Jama’aaaaaah, oh…..jama’ah”, dengan gaya khas pesolek yang bingung mengatakan apa kelaminnya dia mondar-mandir kesana-kemari didepan jama’ah yang ia ceramahi, ternyata itu siaran ulang, siaran kemarin siang kemudian diputar kembali di pagi hari yang buta, kalau bukan pastinya beberapa majelis ta’lim yang sudah mendaftarkan diri ingin masuk TV di acara “Hati Nurani Shubuh Hari”, dari Jawa Timur dengan dua hari perjalanan sampai di Jakarta, duduk manis di studio, tetapi nanti sebelum acara dimulai para peserta yang ingin tampil di TV tersebut diberi pengarahan oleh tim kreatif:”ibu-ibu nanti yang bertanya ibu ini ya, ibu silahkan duduk di pojok belakang, sesi ke dua mbak ini yang bertanya, mbak silahkan di depan sendiri. Nanti pertanyaannya ini, dihafalkan dulu atau dibaca sedikit-sedikit yang penting terkesan alami. ” Daftar penanya sudah ada, daftar pertanyaan juga sudah diberikan. “Daftar pertanyaannya yang gampang-gampang dong, pinta penceramah.” Walhasil pertanyaan yang bisa dijawab anak yang baru sunat atau bahkan igauan tukang becak yang menerka-nerka sambil meramal keluar di saat itu, maklum kalau sampai penceramahnya tidak bisa menjawab acara akan gagal, sponsor akan lari. Karena penceramahnya baru naik daun maka sponsorpun berduyun-duyun mendanai acara tersebut. Mulai sponsor sampho-pasta gigi-“rokok membunuhmu”-sampai celana dalam yang dibintangi oleh pemain sepak bola ataupun artis mantan narapidana tindak asusila, pornografi. Setiap 2 menit sekali break dulu, sponsor 10 menit. Genap dua session acara purna dengan sendirinya tetapi dengan wasiat penceramah: “jangan lupa saksikan di stasiun TV yang sama dalam acara yang sama dan pada jam yang sama”. Para pemirsa pun sedikit kecewa karena acara terhenti, tetapi  masih ada harapan esok akan disambung lagi. Karena merasa keimanan masih tipis dan terkadang sifat-sifat kotor hati berkeliaran maka diputuskan untuk mengganti channel berharap di stasiun TV yang lain terdapat acara yang sama. Ternyata benar, dalam hati juga bergumam:”Kalau niat baik, niat beribadah pasti akan dimudahkan Tuhan.” Dia pun menonton sampai selesai tanpa menghiraukan waktu menunjukkan pukul berapa. Tiba-tiba penceramah membahas bab waktu, ia pun teringat kalau belum menunaikan shalat shubuh. Nasib sendiri buruk amal tertimpa. Akhirnya fajarpun tak menghiraukan apa yang ditontonnya tadi, entah dakwah-ibadah atau apapun, fajar tetap keluar dengan penuh senyum merekah. Dan seperti itu dilakukan setiap hari. Ketololan apa yang di perbuat para penghamba berhala media.

Melihat alam hijau kelabu mengelilingiku…
Hamparan pemandangan membentang….
Tak kusadari ternyata alam semakin mengerikan!!!
Kulihat lalat-lalat hijau sedang mencoba berkerumun di jajanan pasar yang segera laku terjual….

Beberapa semut hitam sedang berkumpul untuk membangunkan gajah yang sedang tidur siang….
Tapi tetap saja aku hanya memandangi bunga melati yang sedang bermekaran….
Serta rombongan burung kolibri yang sedang bernyanyi….
Semoga terompet sakti nabi Daud tak segera menghancurkan keindahan ini…

Siang itupun Adam terus berjalan menuju arah jalan kembar. Jalan yang kanan kirinya dipenuhi rerumputan yang dibangun taman kota, pepohonan lebat yang sering dipakai untuk hewan-hewan merdeka meneriakkan bahasanya. Perjalanannya pun terhenti melihat kemacetan dijalan raya yang akan ditujunya. Ia pun bertanya kepada pengemis tua yang biasa mangkal disitu untuk mendapatkan jalan lain agar terhindar dari kemacetan lalu lintas.

“Apakah ada jalan lain agar saya bisa menuju jalan Surabaya Pak? Tanya Adam sederhana.

“Putar balik saja, lewat gang kecil perumahan, nanti diujung pos satpam belok kanan tembus jalan Surabaya.” Jawab pengemis yang terpaksa tidak beraktifitas karena kemacetan jalan sampai melebar ke trotoar pejalan kaki.”

Adam pun mengiyakan petunjuk dari pengemis itu, karena yang terpenting adalah tujuan, bukan jalan. Tujuan Adam hari itu untuk mencetak foto hasil jepretan di acara Prahara (Pernikahan Harun-Rara) bukan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut satu. Selangkah demi selangkahpun dilalui sembari bersiul sana sini mendendang lagu burung dan pohon mahoni yang berguguran daunnya karena sentuhan angin lembut bidadari, kerikil dijalanan berdebu pun menundukkan diri bersembunyi dibawah kerumunan debu. Debu yang berkumpul menjadi lautan pasir disepanjang jalan yang tak tersentuh aspal. Aspal yang hitamnya legam bukan karena sering dicium dan disentuh layaknya batu jimat hajar aswad, hajar yang bukan kata benda maupun kata sifat fersi Indonesia, tetapi hajar yang bermakna batu dalam kaidah bahasa arab. Tetapi arab adalah daerah yang tersering menjadi tempat kunjungan manusia, baik yang ingin beribadah maupun hanya berpelancong dalih wisata religi atau tadabbur alam, padahal juga tidak membekas disudut hati orang-orang yang kembali dari sana. Tetap saja yang dilakukan seperti hari-hari yang lalu tidak bergeser sedikitpun dari kejumudan dan jahiliyah moral.

Lagi-lagi Adam melihat kotak kecil penyebar petaka yang diagungkan namanya dengan kepalsuan bernama informasi dan berita akurat, pemilik toko “cuci cetak film kilat” tersebut menonton kotak aneh (bagiku) sembari membujurkan kakinya dilantai, karena hari itu sepi dari pembeli ataupun peminta jasa cuci cetaknya, sekarang sudah kuno dengan kotak kecil yang mengeluarkan cahaya dan mengeluarkan bunyi jepret, kalau mungkin dihitung tinggal segelintir saja yang masih memakainya salah satunya Adam. Semua sudah digantikan dengan casing dan cover terkini, padahal asas kemanfaatan tujuannya tetap sama.

Pemilik toko tetap saja memelototkan mata mengencangkan urat leher dan memfokuskan arah tengkorak, tak sadar ada peminta jasa cetak sedang di depan tokonya. Takut ketinggalan satu adegan dari film remaja yang jatuh cinta berkali-kali, ketinggalan satu adegan akan membuat penafsiran yang berbeda. Jika tafsirnya berbeda hati-hati cap kafir secara langsung akan menempel di kening dengan warna yang paling cerah, kalau perlu warna cat tebal. Begitulah kira-kira sekarang, musimnya menguliti kesalahan orang, apalagi yang berbau agama sangat seksi, kalau perlu diperebutkan, kalau tidak ada yang memperebutkan maka buat isu. Makanan empuk sekali isu, semua suka karena mengkonsumsinya sama dengan menjadi Mujtahid tulen, matinya akan syahid. Untuk mempergurih rasa pasti bumbu paling mujarab ya kotak kecil mirip ukuran almari baju tingkat tengah tersebut. Wah gagah sudah kalau menjadi pejuang di jalan Tuhan, berapa ratus bidadari yang akan menunggu disurga, tak terbayangkan jumlahnya, bisa setiap hari melakukan persenggamaan, karena nuansa surga akan beraroma nafsu jika yang membayangkan orang awam. Apalagi baru mengaji sampai bab Istighol, dijamin tidak akan meneruskannya. Ditambah tercium wartawan yang miskin setoran berita, langsung jadi ustad tiban, yang selalu berdoa memanjatkan permintaan supaya seluruh bulan adalah Ramadhan, bukan karena nilai ibadah dibulan tersebut, tetapi jobnya membanjiri saku baju koko nya.

Iklan paling populerpun menjadi penolong Adam, akhirnya pemilik toko menyadari kalau dia tidak sendiri selama satu jam tadi. Mempersilahkan adam duduk dan melayani jasa cuci cetaknya.

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.

Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar