Novel (T)apel Adam : Ijab Qobul #3



#Ijab Qobul#


Simak Bab 1 & Bab 2 Novel (T)apel Adama disini : Novel (T)apel Adam : Syahadat #1 & Apel #2

Malam sudah menggelar karpet gelap dengan penuh hangat, memperlambat keheningan pekat, juga merangkul setiap ketakutan.

Setiap Ayah memberikan nama sebagai harap juga doa sepanjang hayat, begitu pula dengan Ayah Adam Sambada mungkin mentasbihkan nama dengan semat doa panjang, atau nama ini akan menjadi sandi untuk bisa kembali menghadap keharibaan Tuhan nanti, esok, atau entah kapan waktu yang akan tiba menghampiri. Ingin segera mengahadapmu wahai Tuhan, tetapi bekal apa yang akan aku bawa dan laporan apa yang akan aku sampaikan kepadaMu, meskipun kematian tak pernah mengenal usia, kelamin, masa maupun siapa.”

Kriiiiing….kriiiiing.

Ponsel Adam berdering keras, di malam penuh kabut yang berwarna suram itu masih menghinggap diseluruh penjuru tatapan mata. Sambil  mengerutkan kening seraya segera menyambar benda seberat alat asah pisau itu Adam menyimpan tanda tanya di wajah, siapa gerangan yang membutuhkan pertolongan atau mungkin seseorang yang menggoda memakai private number atau ada persoalan penting dari siapapun itu. Setiap panjang malam Adam jarang sekali terbujur baring diatas lembutnya tumpukan buah randu yang dikuliti itu, ataupun bersembunyi dibawah lembaran kain yang mirip mantel kulit binatang buas belang-belang, ia tidak pernah bisa tidur malam hari, insomnia adalah kata sebutan yang pas pagi penderitanya, tetapi ia tidak menderita dengan kondisi seperti itu karena memang selalu terjaga setiap malamnya. Kata kebanyakan pendakwah kalau malam sudah menjelma seyogyanya melaksanakan qiyamullail, maka bagi Adam qiyamullail adalah tidak hanya bertakbir ruku’ sujud dan melantunkan qiroah qur’an, melainkan ia memandangi ayat-ayat kauniyah ciptaan Tuhan yang menghampar dan berhamburan di bumi maupun angkasa. Dilihatnya  kontak bernama H-A-R-U-N.

“Halooo…Adam, besok saya akan melangsungkan pernikahan dengan Rara, kalau bisa kamu datang, biar cepat ketularan juga,hehehe…maaf sebelumnya kalau undangannya mendadak, soalnya aku baru mendapatkan nomor hp kamu sore tadi”.

“Loh,, berani nikahin dia to kamu? Hahahaha…, ya sudah besok saya akan datang,.. gampang.”

“Ok. Makasih ya, saya tunggu kedatangannya.”

Ternyata Harun teman waktu SMA Adam sedang memberi kabar bahwa ia akan melangsungkan pernikahan dengan perempuan pujaan hatinya, Siti Barbara. Anak satu angkatan namun berbeda jurusan, beruntung juga Harun mendapatkannya, pasalnya Harun berkali-kali dicegah bersatu oleh calon mertuanya, sampai-sampai kisah mereka berdua seperti Adam-Hawa yang tiap malam berwirid rabbana dzholamna anfusana wa inlam taghfirlana wa tarhamna lana ku nanna minal khosirin.

Rara anak kelas Ilmu Sosial, sedangkan Harun kelas Ilmu Alam, sering Harun  menyampaikan bahwa ketika Nabi Nuh membuat perahu, perahu yang dulu menampung segala jenis hewan dan tumbuhan adalah perahu berteknologi-sains tingkat tinggi, menurutnya hewan-hewan yang diikutkan dalam rombongan bahtera itu tidak satu persatu hewan dimasukkan, tetapi diambil sperma dari masing-masing jenisnya atau dicloning dalam botol, kemudian dimasukkan dalam dek kapal, bukan kapal sembarangan yang dapat menahan banjir dan amuk gelombang air sebesar itu, tapi kapal selam canggih.

Secanggih itukah teknologinya?

Selain itu Harun juga sering mengatakan tentang kisah Maryam berputera Isa, menurut Harun Maryam waktu itu sedang mengalami gejala alami Parthenogenesis (pembuahan anak sepihak) itu adalah bagian dari gejala tumor-tumor yang disebut Arrhenoblastoma yang berada di pinggul ataupun bagian bawah perempuan, tumor-tumor tersebut dapat membuat sel-sel sperma jantan. Dalam hal terkini termasuk proses bayi tabung. Maryam tidak tahan dengan caci dan gunjingan tentang kandugannya, akhirnnya ia pergi mengasingkan diri ke Kota Bethlehem yang berjarak sekitar 70 Mil sebelah selatan Nazaret, Bethlehem terletak diatas sebuah bukit padas yang tingginya 2350 kaki dari permukaan laut serta dikelilingi lembah-lembah subur, pada sekitar bukit padas tersebut terdapat beberapa mata air, salah satunya “mata air Sulaiman”. Maryam melahirkan Isa disaat ia bersandar dipohon kurma yang sedang berbuah lebat, sekitar bulan Agustus-September, bukan Desember. Tetapi karena tidak mendapatkan validitas tanggal kelahiran Isa, maka para Gerejawan memilih hari balik matahari (Solstice) sebagai hari kelahirannya Isa, karena hari tersebut adalah bertepatan dengan pesta rakyat setelah musim dingin, di Roma hari balik / kelahiran matahari di peringati pada tanggal 25 Desember. Proses persalinan Maryam itu bukan tanpa sengaja dengan letak bersandar dibawah pohon kurma, tetapi dalam ilmu kedokteran adalah letak yang tepat dalam prosesi kelahiran bayi.

Bukan hanya sebatas itu, teman Adam satu ini memang maniak cerita-cerita “aneh” tetapi asik, tingkat tinggi, kadang dia bercerita ingin melakoni setiap adegan dalam serat Centhini atau suluk Tambangraras, kitab seks jawa itu memang luarbiasa, sebenarnya melebihi Kamasutra dari India, menurut Harun. Serat Centhini hasil gubahan tahun 1815 M oleh tim pujangga keraton Surakarta yaitu R.Ng. Yasadipura II, K.Ng. Ranggasutrasna, dan R.Ng. Sastradipura, Pangeran Jungut Mandurareja, Kiai Mohammad Minhaj, dan Kiai Hasan Besari Ponorogo (guru dari Agus Burhan yang kelak dikenal R.Ng. Ranggawarsita), tim tersebut diketuai oleh Ki Ngabehi Ranggasutrasna atas perintah Sinuhun Paku Buwana V, sebenarnya Serat Centhini bukan kitab seks semata, tetapi adalah sebuah Ensiklopedi Kebudayaan Jawa yang mencakup: kaweruh agama, sastra, seks, situs, pawukon, primbon, keris, obat, dll. Tetapi sebagian orang lebih menaruh dalam konsentrasi bab seksnya, termasuk Harun. Dalam Centhini II (Pupuh Asmaradana) diuraikan tentang “ulah asmara” yang menyingkap tentang bagian-bagian genital dan sensitif dalam persenggamaan, misalnya cara mempercepat orgasme perempuan, pencegahan ejakulasi dini, dll. Lalu dalam Centhini IV (Pupuh Balabak) dijelaskan tentang berbagai gaya persetubuhan, sifat-sifat perempuan, juga cara membangkitkan nafsu asmaranya, juga di Centhini V (Pupuh Dhandanggula) menceritakan ketika para perempuan tua-muda sedang duduk dibelakang rumah dimalam sebelum acara perkawinan Syekh Amongraga dan Niken Tambangraras, mereka semua saling tertawa cekikik’an karena menceritakan kisah pribadi masing-masing ketika malam pertama.

Serat tersebut sangat dikagumi Harun apalagi setiap perkara yang dilakonkan oleh Cebolang, pemuda pengembara, bukan perkara atau aksi-aksi erotis seperti yang diperankan dalam perjalanan Mr.007 James Bond, tetapi lebih dari itu. sangat mengilhami, bukan masalah adegannya tetapi pesan-pesan yang tersurat disana, pengembaraannya, dan berbagai gejolak jiwa yang liar bagai harimau yang tak pernah sanggup jadi raja hutan meskipun telah beribu-ribu kali memangsa buruan, tetaplah dia menjadi mahapati yang tak pernah naik pangkat menjadi raja.

Menjelang pagi Adam harus bersiap untuk berangkat ke Jawa Tengah naik bus, turun di Pati sambil menikmati Sego Gandhul sebelum ngojek ke Kajen, seandainya dia memiliki pesawat sendiri atau minimal punya mitra pertemanan dengan jin Ifrit pasti bakal mudah dan cepat perjalanannya, jangan klenik dulu tentang Ifrit, pasti ada teknologi lain di alam mereka sehingga akses begitu cepat.

Karena perjalanan yang akan ditempuh melewati jalur Pantura (pantai utara) mulai dari Gresik-Lamongan-Tuban-Rembang maka tidak ada salahnya jika mampir ke Rembang dulu untuk melihat fenomena mbok Rondo Dadapan, yaitu para janda yang umurnya masih belasan tahun, karena mereka menikah dini dan ketika mengarungi kehidupan rumah tangga kandas ditengah jalan. Setelah menjadi janda pun juga umurnya kian dewasa sehingga mengerti bahwa hidup memerlukan materi, maka menjadi suatu hal penting untuk mencoba menerka langkah apa dalam mengarungi kehidupan ini bisa membahagiakan, pendek cerita para janda tadi dengan kesepakatan juga arahan orang tuanya maka setiap laki-laki yang akan mempersuntingnya akan memberikan mahar yang cukup tinggi bernilai mata uang. Hal tersebut bukan hanya dilakukan satu atau dua orang yang bisa dihitung oleh  jari, tetapi satu kampung Dadapan tersebut mengkaprahkannya. Mungkin bagi yang tertarik bisa untuk diteliti dan dibuktikan kebenarannya.

Seperti cerita dari desa Kajen tersebut yang konon katanya ada haji yang pulang dari tanah suci mengendarai punggung Jin, tetapi Jin tersebut menyampaikan syarat  bahwa ketika perjalanan pulang sekembali dari berhaji tidak boleh membuka mata sampai tujuan, tetapi ditengah perjalanan tepat ditengah-tengah laut haji tersebut membuka mata, tiba-tiba dia jatuh tenggelam di laut, setelah jatuh ternyata tertangkap ikan raksasa kemudian dibawa kedarat, warga kampung tersebut menemukannya, karena dia berhaji sendirian dalam bahasa jawa disebut ijen, makanya disebut kaji ijen, lama kelamaan desa tersebut dinamai Kajen asal dari sekelumit cerita tadi.

Yah, mendinglah kita bermitra dengan Jin untuk meringankan ONH.

Karena sekarangpun mau berhaji sulitnya minta ampun harus mengantri sepanjang tahun, itupun bisa juga diserobot oleh pihak lain akhirnya keberangkatannya pun diundur sampai tenggang waktu beberapa tahun lagi. Ironis sekali. Begitupun uang yang sudah dibayarkan akan diendapkan untuk sementara waktu sehingga fungsi peranakan yang dilaksanakan oleh Bank sesuai niat pembentukan Bank, setelah beranak pinak uang itu akan keliling melekat ditangan orang-orang yang hirarkinya bak langit dan bumi dengan rakyat sipil seperti kita yang hanya berandai-andai kapan bisa jadi seperti mereka, kapan tidak lagi mengangkat batu gamping dan semen ber sak-sak, atau tidak keterusan menjadi kuli panggul dipasar sayur, atau pekerjaan buruh tani yang membosankan sampai punggung mengkilat bagai lempeng emas yang terpantul cahaya. Belum lagi dengan berbagai kendala di internal institusi yang menangani peribadatan tersebut, tugas mengayomi terkadang disalahgunakan, mulai dari penyelewengan mencetak kitab suci sampai ngenthit uang biaya ke tanah suci.

Semoga hanya kesalahan prosedur tata kelola administrasi, sehingga kebarokahan atas nama umat dan agama masih bisa di percaya.

Pagi itu Adam benar-benar berangkat ke pernikahan dengan rute panjang Malang-Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban-Rembang-Pati, sesampai disana lega sedikit baginya, minimal dia bisa memenuhi kewajiban dari janji yang diberikan.

“Selamat, selamat. Barakallahu lakuma wabaraka  alaikuma wa jama’a bainakuma fikhoir.” Ucapan itu yang diberikan Adam setelah Harun menjawab ikrar pernikahan.

Sorak sorai, tangis tawa juga mengharu biru berkumpul menjadi satu waktu, semua orang berpelukan sambil meneteskan air mata kebahagiaan.

“Bagaimana perasaanmu?” Tanya Adam kepada Harun.

“Lega,” jawab Harun.

“Dalam waktu tujuh tahun baru aku bisa mengawali cinta pertama ini.”

“Apa maksudmu, Rara kan memang pacarmu sedari dulu kamu SMA, menjelang ujian akhir nasional itu kan kamu berdua meresmikan hubungan kalin.” Kenang Adam.

“Setiap cinta bagiku adalah cinta pertama, setiap hari bagiku adalah hari yang lain, hari yang berbeda, begitulah aku menikmati hidup.” Sambil Harun menata dan membetulkan letak dasi yang bersembunyi selinap di balik jas hitamnya.

“ya sudah, terserah kamu lah. Masak pertanyaan seperti ini saja harus kita perdebatkan, kelihatan bodohnya kita nanti.” Sahut Adam. 

Sesekali Adam pun melirik Rara bekas pacar Harun yang sekarang sudah direngkuhnya menjadi istri dan calon ibu dari anak-anaknya kelak. Kenapa bayangan anak pun segera terbesit, karena sudah bisa dipastikan Harun akan segera menyalurkan ambisi kembara Cebolang seperti cerita-cerita dia dahulu tentang Centhini. Cerita, mitos, dan hayalan rekaannya pun pasti akan segera ia laksanakan tanpa menunggu waktu yang lama lagi. Sekarang pun matahari juga sudah mulai condong kebarat yang akan menjadi hari terakhir dimana dia masih berlabel sebagai jejaka, beda lagi dengan malam nanti. Malam yang memancarkan wajah Nabi Yusuf, nabi yang berbadan tegap berwajah putih rebung kecoklatan ditambah mahkota rambut ikalnya, rambut ikal yang tanggung panjangnya, hanya sampai diatas sepuluh cm diatas bahu, para Nabi memang kebanyakan memiliki rambut ikal, ngandan-ngandan kalau orang jawa bilang, rambut yang tidak lurus seperti orang orang Asia Timur, juga tidak keriting seperti rambut orang orang pedalaman Afrika. Beberapa orang bilang, malam tanggal 15 rembulan adalah puncaknya persemaian benih para anak manusia. Disebabkan oleh Full moon, bulan sedang membulat penuh, memancarkan gelombang ultra sound yang hanya bisa ditangkap oleh telinga-telinga binatang yang peka, seperti anjing dan serigala. Makanya banyak lolongan anjing ketika menjelang bergantinya tanggal tersebut. Mungkin anjing dan serigala mendengar gelombang ultra sound Full moon seperti mendengar desahan para penikmat malam yang memecah keheningan sebagai pertanda pecahnya selaput dara kaum hawa. Rasanya kurang adil jika seakan-akan kaum hawa yang tersakiti karena ada kata pecah-terpecah, kaum adam pun juga menjadi korban dari sebuah kuncup bunga Rafflesia Arnoldi yang tak segan-segan mencucup air kental campuran air kelapa muda plus susu lembu yang tercampur dan terolah bersama ratusan bahkan ribuan jenis tanaman juga benda-benda lain dalam satu mesin, untungnya cairan hasil campuran air kelapa muda dan susu lembu tersebut bisa terselamatkan, jika tidak dia akan keluar dengan sendirinya penuh emosi berhawa panas dan langsung terjun bebas ke dalam tanah untuk bersembunyi juga bersiap-siap akan memasuki mesin gilingan itu lagi. Setelah air tersedot habis oleh mulut raksasa Rafflesia ,maka selang penyambung cairan menuju kuncup bunga tersebut akan mengeluarkan busa, busa limbah dari penyaringan cairan tadi, jika sudah merasa penuh sehat sang Rafflesia akan melepaskan selangnya, karena dia penyedot raksasa yang memanipulasikan diri menjadi hewan kerdil yang bentuknya tersembunyi didalam cangkang bekicot yang meliuk-meliuk tanpa ada ujung yang bisa memastikan mana jalan masuk dan keluarnya. Persis Labirin, iya Labirin. Kemana akan lari dari pusat kebingungan lingkaran tersebut. Apalagi Rara adalah seorang perempuan yang wajahnya meskipun tak begitu menarik untuk dipandang tetapi aura magis tubuhnya memancarkan pesona serasa merajuk untuk segera minta cumbu, tubuhnya molek seperti pisang susu, pisang susu yang lembut dagingnya, penuh gajih didalamnya dan berisi zat-zat penguat badan bayi. Begitu pula bisa dikatakan tubuhnya seperti gitar, yang melikuk tak beraturan tetapi mulai dari ujung sampai pangkalnya mengisyarakatkan untuk minta di panggul, di gendong dan dipeluk setiap waktu, walapun terkadang jika senarnya sudah mulai usang dan putus satu persatu ia pun akan di gantung di tembok sebagai sebuah kenangan masa lalu dari seorang maestro. Idris Sardi mungkin salah satu maestro, tapi bukan dalam bidang yang kumaksud ini. Dalam bidang ini hanya Harun dan Permadi yang jago. Permadi bukan lah nama lain dari Harun ataupun rangkaian dari nama lengkapnya, tetapi dia seorang jenderal besar dalam perang besar abad klasik, orang yang tidak hafal mungkin perlu di ceritakan bahwa nama harumnya adalah Arjuna, nama jika ingin memikat hati perempuan berganti Janaka. Pandai berperang juga memanah, busur saktinya bernama Gandewa yang akan melesatkan panah Pasopati nya. Dijamin klepek-klepek yang terkena panahnya, membius dan beracun. Membius bagi para gadis ingusan, beracun bagi para rival perang.

“Memang temanku orang Kayen ini selalu membuatku tak bisa diam darinya,”

Rara kembang desa Kajen, sedang Harun pemuda gagah dari Kayen. Kayen kunci cara membacanya terletak di huruf “E”. E nya seperti ketika kita mengeja kata tEman. Bukan E yang dipakai dalam kata dEwa. Ada juga cerita lain disini yaitu tentang beberapa suku Samin, yang sudah terkenal dimana-mana, apalagi dengan zaman yang sudah berganti seperti saat ini, mereka masih mempertahankan dengan kokoh ajaran, adat serta kelengkapan moral hidup yang lain. Suku samin terbanyak di daerah Blora dan Bojonegoro, meskipun pada awalnya embrio ajaran dari Samin Surosentiko adalah gerakan moral untuk melawan Kolonial. Blora dekat dengan kecamatan Kayen, hanya dipisah oleh semak belukar dan jalan berkelok. Melewati beberapa gundukan bukit hutan.


Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.

Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar