Novel (T)apel Adam : Jalma moro jalma mati #10



Oleh : MOH. FATHUL HASAN
#Jalma moro jalma mati#

Klik tautan judul untuk menyimak Bab 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 Novel (T)apel Adama disini : Novel (T)apel Adam : Syahadat #1, Apel #2Ijab Qobul #3Gema lonceng #4Surat dari Pastor #5Lurah Bondronoyo #6Kembara #7
Blawong #8, Blawong #9
 

Suatu pagi Ayu Laksmi seorang mahasiswi tingkat akhir di Institut Kesenian Jakarta jurusan Sinematografi sedang membuat tugas akhir, kebetulan lokasi yang ia pilih di daerang Malang selatan. Dengan mengendarai kereta api Matarmaja Ekonomi yang akan berangkat tepat pukul 11 siang, berangkat dari Jakarta tepatnya dari stasiun Pasar Senen dan berencana akan turun di stasiun Kota Baru Malang. Sebelumnya dia memang sudah menghubungi Adam untuk membantunya ketika nanti di Malang. Laksmi memang satu komplek tinggalnya dengan Adam ketika Adam masih di Jakarta, bukan hanya sekomplek tetapi tetangga dekat. Sebelum berangkat Ayu Laksmi tak lupa untuk melihat patung Dirgantara, sayonara sebelum tak akan bertemu untuk waktu yang lama, patung perkasa yang melambangkan kekuatan angkatan bersenjata kita, meskipun berdiri gagah seperti patung Atlas, Dirgantara yang sekarang kebingungan dan penat setiap waktu dengan berjubelnya berbagai kendaraan yang melintas lalu lalang dibawahnya. 

Terlalu lama, menunggu kereta berangkat. Tak terasa Matahari berwarna merah matang, apinya menari –nari, menyala merah bercampur orange, merambat ,menebar warna orange kekuningan, menembus birunya langit, bersinar, terang dan menyebar, lurus, seperti laju sinar remote, melewati stereosfir, ozon , dan masuk ke atmosfir , 0, 8 detik menyentuh bumi, memantulkan sinarnya di air kolam, warnanya berubah putih silau , sampai di retina mata kuku, menerangi sekeliling, juga batas langit, atap-atap gedung tinggi, kaca-kacanya yang kotak-kotak, rapi mengkilat, seperti membingkai cermin pantulan langit, atap atap gedung , lebih pendek, berjajar berebut naik, tak rapi, papan-papan nama kantor, mall, banner-banner, baliho, aneka warna mencolok mata, slogan-slogan penarik costumer, pohon pohon rindang, trotoar jalan, orang orang lalu lalang, tersenyum, tertawa, serius, jalanan basah sehabis hujan, motor yang melaju lambat, mobil-mobil lewat bersambung , berkejaran tak terputus.

Keesokan harinya tepat pukul 9 pagi Ayu sampai di stasiun Kota Baru Malang, Adam pun menyambut kedatangannya.

“Ayu, Ayu, Yu…..”

“hey… kaaak.” Begitulah panggilan akrab kakak yang biasa di berikan kepada Adam selama di Jakarta dulu.

“Bagaimana perjalanannya Yu,,?”

“Lancar kak, kakak gimana? Sehat?”

“Ya, beginilah…agak sedikit migren hari ini, tapi demi kamu ya gak ada masalah.”

“Kamu menginap dulu dirumah, besok kuantar kamu hunting, jangan buru-buru mutusin, cari view yang pas dulu. Nanti baru tentuin.”

“Ok. Kak,…”

“Pantai mana aja kak yang akan kita kunjungi besok?”

“Minimal 10 pantai lah kita datangi,”

“Mana aja tuh?”

“Pertama, Pantai Balekambang, letaknya di kecamatan Bantur, 65 Km sebelah selatan kota Malang, terbentang sangat indah disana terdapat karang laut sepanjang 2 km dan memiliki lebar 200 meter ke arah laut.Terdapat 3 pulau yang terdekat dengan dengan pantai ini, yaitu Pulau Ismoyo, Pulau Anoman dan Pulau Wisanggeni. Tepat di atas pulau Ismoyo, terdapat sebuah Pura megah yang bernama Pura Luhur Amertha Jati, dan sebuah jembatan yang menghubungkannya melalui pantai utama Balekambang.”

“Wuih, kok ada Ismoyo, Anoman, Wisanggeni disini?” ismoyo kan si gendut Mbah Semar itu, Anoman kan panglima Kera yang membantu Rama jelmaan dewa Wisnu, Wisanggeni kan cucu Pandu, anak Arjuna, Wisanggeni kan gondrong urakan, cak cuk cak cuk gitu biasanya, kayak bahasa suroboyoan gitu, meskipun urakan tetapi dia selalu solutif, dan mementingkan kebaikan untuk orang banyak. Ngefans aku kak sama Wisanggeni itu, nakal tapi pinter, nggemesiin deh.hihihihi…..”

“Dasar penggila Wayang Kulit!”

“Ada lagi, Pantai Sendang Biru, itu di kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Tepatnya di 30 Km bagian selatan Malang, termasuk obyek wisata yang sangat indah . Di samping itu, bagi mereka yang ingin menyebrang ke pulau Sempu, pasti harus melewati pantai Sendang Biru terlebih dahulu. Dengan adanya pulau Sempu ini, membuat pantai Sendang Biru memiliki ombak yang tidak terlalu besar layaknya pantai laut selatan lainnya. Katanya kamu pengen ke Sempu?

“Iya kak, pengen…”

“Pantai yang lain kak?”

“Pantai Ngliyep, kecamatan Donomulyo, 62 km dari sini. Disana keindahan alam yang masih natural dengan perpaduan tebing-tebing yang curam dan hutan lindung di sekeliling pantai. Pasir putihnya yang masih alami dan ombak yang serasa bermain di sela-sela tebing membuat pantai Ngliyep layak untuk dikunjungi.”

“Masih tiga, tujuh yang lain apa aja?”

“Pantai Kondang Merak, berdekatan dengan pantai Balekambang. sekitar 2 km saja.Pantai ini penghasil berbagai ikan hias. Nama Kondang Merak berasal ketika penduduk setempat sering melihat burung Merak singgah untuk meminum air tawar yang terdapat di sekitar pantai, pantai itu pun menjadi terkenal karena burung Meraknya, hingga munculah sebutan nama “Pantai Kondang Merak”.”

“Pantai Bajulmati, di Desa Bajulmati, Kelurahan Gajah Rejo, Kecamatan Gedangan, tepatnya 58 Km dari sini. Mempunyai kelebihan dengan teluk-teluk nan indah. Selain menghadirkan pesona alam laut selatan, Pantai Bajulmati juga dikenal sebagai pantai yang unik. Seperti namanya yakni Bajulmati yang berarti Biawak Mati, di pantai ini kita dapat melihat beberapa gugusan bukit diseberang pantai yang terlihat dari kejauhan seperti bajul mati. Bagus buat lokasi perkemahan.”

“Pantai Tamban, di Desa Tambak Rejo atau Desa Tamban, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe). Tetapi masih belum dikelola sepenuhnya sebagai tempat pariwisata,jadi masih terkesan alami.”

“Pantai Goa Cina, berdekatan dengan Sendang Biru. Jarak dengan Pantai Sendang Biru sekitar 6 KM ke arah barat, dulu pertama kali ditemukan oleh pertapa keturunan cina (1950), disana terdapat banyak Goa sehingga pantai ini pun dinamakan dengan sebutan Pantai Goa Cina. Keindahan alamnya yang masih asri nan alami dan beberapa pulau-pulau kecil di tengah laut ikut menghiasi keindahan alam Pantai Goa Cina.memang sangat indah sekali panoramanya, namun sayangnya kita tidak diperbolehkan berenang di pantai ini, karena arus bawah lautnya deras dan kedalaman lautnya curam.”

“Pantai Sipelot . Terletak di daerah Dampit Selatan. Berada di sekeliling perbukitan kapur yang penuh tumbuhan hijau, pantai ini memberikan kesejukan dan kesegaran alami. Ditambah lagi, bentuknya yang menyerupai teluk dengan tabuaran pasir pantai berwarna kecokelatan, semakin memperjelas keindahan hamparan luas lautan biru yang jernih alami. Disana dekat pantai ada air terjunnya , oleh penduduk setempat dinamakan Coban Sipelot.”

“Pantai Licin, terletak di Dusun Licin, Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading. Walaupun rute menuju lokasi tersebut menantang dengan ditemani jalan naik turun bukit dan berliku-liku, namun akan menggairahkan, untuk para petualang seperti kamu. Disana terdapat banyak bebatuan Andesit, konon berasal dari hasil letusan gunung Semeru. Bukan hanya itu, umumnya pasir pantai kan berwarna putih namun tidak untuk Pantai Licin yang memiliki pasir berwarna hitam.”

“ terakhir, kita harus ke Pantai Sidoasri. Di Pantai Sidoasri ini bagian kanan dan kiri pantai dipenuhi pepohonan hijau nan rindang. Tebing-tebingnya juga cukup rimbun dengan berbagai macam pohon besar. Pantai ini benar-benar seperti gadis ayu yang belum terjamah tangan-tangan nakal. Kayak kamu itu, perawan tapi tomboi, Pasir putih yang memanjang sekitar satu kilometeran itu bersih mulus kayak kulitmu.
Namun untuk menuju ke pantai ini di kanan kiri jalan dipenuhi tebing dan jurang. Dan tetumbuhan produktif seperti cengkeh, kopi, coklat, kelapa, dan segala jenis pohon-pohon besar lain. Sekitar satu kilometer menjelang pantai, jalan semakin parah. Tidak ada lagi tanjakan, jalan cukup mendatar, namun kondisinya berlobang karena tanah persawahan dan hanya cukup untuk satu mobil saja.”

“Ok? Lengkap sepuluh.”

“Kaak, jadi gak sabar pengen segera kesana aku. Ayoo…”

“kak, Aku pengen Apel, katanya aku dijanjikan untuk makan Apel sepuasnya kalau udah disini. Mana?”

“Iya deh, besok ya…istirahat dulu. Berarti hunting pantai nya diundur sehari.”

“Gak mau. Habis Apel harus pantai pokoknya.”

“Ok. Ayo sekarang pulang dulu. Kamu itu tomboi, tapi kalau sama aku ngalem nya minta ampun” 

“Disini kalau malam dingin ya kak, tapi kalau siang panasnya sampai hampir mengelupas kulit, seperti dalam tungku yang di obor dari bawah. Apelnya manis, tapi ada sedikit asemnya, asem persis wajah kakak. Week…”

“Sudah ayo jalan, lanjut lagi, nanti kemalaman sampai lokasi kalau tidak segera berangkat.”

“Sebentar kak,” Ayu melihat plang yang menunjuk sebuah Gunung, Gunung Iwak.

“Kak, coba kita kearah itu dulu, “

“Kearah mana?”

“Gunung Iwak, kita kesana dulu.”

“Jangan, menurut cerita yang berkembang, daerah situ tempat pesugihan, ada yang masuk berarti harus ada korban.”

“Wah, menarik sepertinya. Aku kan gak percaya mitos-Takhayul-Bid’ah-Churofat, itukan penyakit TBC. Sudah. Pokoknya ku mau kesana, mau kakak anter maupun enggak tak jadi masalah, kalau gak mau ikut, kakak tunggu disini, menjelang gelap aku akan turun.”

“Ya sudah, tapi sebentar saja ya?”

Adam dan Ayu pun berbelok menyusuri plang yang menunjukkan arah Gunung Iwak, menanjak menurun, menikung, sesekali batu cadas hitam sebesar kepala bocah dewasa muncul ditengah rusaknya jalan. Ayu maju-mundur duduk di jok motor bagian belakang, jika jalanan menurun Ayu merosot jatuh menikam punggung Adam, ganjalan dadanya mengenai jaket belakang Adam, tapi Ayu meskipun berparas manis dan cewek sekali dia sangat cowok sekali, memang cewek tomboi cantiknya alami, tak dipoles pun wajahnya berseri. Dengan medan yang tak mengenakkan badan, sesekali Ayu merasa mual-mual, persis seperti perempuan yang amatir menghadapi awal kehamilan dengan sedikit merengek minta ngidam. Rute yang panjang memakan waktu yang tak sebentar, sehingga condong matahari menurun menuju garis batas ufuk barat. Malam pun segera menyapa.

“Kak, Bukit Doa.”

Jalanan meninggi, tak terkira jauhnya, masuk hutan pinus, lolongan anjing malam bersuara serak mulai terdengar, dingin menusuk sumsum, tanaman layu geletak tak mati, menghirup dioksida karbon, sayup-sayup lampu petromak dan minyak mengerlip seperti bintang taburan langit malam, 

“Mbah, dimana Gunung Iwak? Benar ini jalannya?” Tanya Adam kepada seseorang pemilik warung kopi dan wedang jahe.

“Untuk apa kalian kesana? Apalagi malam-malam begini. Kalian pulang saja.”

Adam dan Ayu pun beristirahat sejenak, meregangkan otot yang mulai tak bisa lentur, sehingga membuat aliran darah tak lancar, sambil memesan wedang jahe juga menyicipi aneka gorengan hasil olahan sawah dan bumi.

“Yu, kamu gak capek?”

“Gak kak, tenang aja, aku kan pendaki. Meskipun nanti kita bermalam dihutan pun gak ada masalah bagiku.”

“Minum dulu wedang jahe nya, biar menambah hangat tubuh. Tanganku kaku, nyetir terlalu lama.”

“Mbah, tolong nanti tunjukkan arah Gunung Iwak yang terdekat rutenya.”

“Ini sudah wilayah yang kamu sebut nak,” sambil memanaskan air di teko usang.

“Hati-hati kalau disini, ini bukan tempat wisata, bukan tempat liburan, apalagi main-main. Banyak orang dari luar kota jauh seringkali kesini, mencari berkah katanya, mencari kelanggengan harta, menambah kaya. Orang bangkrut pun sering kesini, orang jatuh miskin tiba-tiba juga kesini. Meminta kunci harta, bukan harta qarun tapi harta bagiannya didunia katanya, mereka pun tak segan-segan melakukan apapun demi terwujudnya kekayaan yang melimpah, apapun syarat yang disebut akan di lakukan. Sudah gila mereka! Makanya kubilang tadi kalau bisa jangan diteruskan perjalanan kalian, ini sudah gerbang masuk, gapuranya dibawah itu, ada dua tugu kembar dikanan kiri jalan tadi. Kalian pasti melewatkan melihatnya, karena sudah gelap.”

Mobil ber merk Grand Livina pun datang menghambur, melewati jalan tepat dibelakang mereka bercengkerama, disusul Avanza, Xenia, dan beberapa menggunakan Lamborgini. Kaca mobilnya tertutup, tetapi jelas bukan dari daerah sini, bukan “N” plat depannya.

“Itu mereka sudah mulai datang, ini Jumat manis, jumat legi. Pon-wage-kliwon-legi-pahing, Legi yang dipilih. Sebentar lagi kamu akan lihat beberapa peternak kambing datang, membawa kambing jawa jantan , banyak sekali. Untuk disembelih nanti setelah kesepakatan dicapai. Dengarkan saja teriakan kambing yang akan dijagal, dari sini terdengar nyaring, kamu berteriak pun semua akan mendengar, sunyi disini.”

Bulu kuduk Adam berdiri, sedikit merasa merinding. Setelah penjelasan yang diberikan oleh seorang tua yang berjanggut putih sambil mengenakan blangkon hitam,

“Ayo Mbah dilanjutkan ceritanya,” pinta Ayu.

“Cerita yang mana, ini bukan cerita. Lihat dibelakangmu!”

Truk menderu suaranya, gigi truk berganti karena jalan menanjak, suara rengek kambing jawa memenuhi bak truk, sekitar 20-25 kambing jantan kelihatan kepalanya dan janggut yang berbulu melingkar panjang, salah satu penanda kalau itu jantan.

“Apa yang mereka lakukan Mbah?” Tanya Adam

“Mereka ditipu, tertipu.”

“Maksudnya?”

“Mobil-mobil mewah yang berombongan tadi masuk ke sebuah rumah yang disebut gerbang pambuko, setelah masuk dia disuruh berkata jujur, mulai identitas sampai seluruh permasalahannya. Kemudian dia disuruh keluar dan berjalan lurus sedikit sekitar 100 M, akan mereka dapati rumah kuncen, disana di suruh duduk bersila, kemudian sang kuncen memaparkan apa yang ia dapati dari menerawang wajah mereka, tepat sekali apa yang di terawang sang kuncen, praktis seperti ahli nujum. Sebenarnya bukan terawangan yang disampaikan tetapi SMS kiriman dari rumah pertama yang baru mereka kunjungi. Karena keterangan sudah diperoleh dari interogasi pertama tadi. Apa susahnya hanya menyampaikan SMS? Kemudian tanpa menerima pertanyaan, sang kuncen menyuruh sedekah daging sembelihan berupa beberapa ekor kambing jawa jantan, otomatis mustahil mereka membawa kambing dari daerah yang jauh, akhirnya sang kuncen menyuruh membeli kambing di bawah, untuk mempermudah prosesi sesajinya, akhirnya mereka mengangguk dan turun kebawah untuk menjalankan segala perintah kuncen tadi. Transaksi jual beli dilaksanakan, beberapa ekor kambing jantan di bawa ke tempat penyembelihan dengan perlengkapan kembang tujuh rupa, dimasak disitu juga, semua tim koki juga sudah lengkap. Setelah selesai makan bersama, mereka disuruh pulang dan jangan kembali lagi sebelum purnama berikutnya. Tetapi kebanyakan dari orang-orang yang datang kesini tak pernah kembali lagi karena mereka sudah tersugesti bahwa akan ada hujan koin mas yang akan meluncur dari langit-langit rumahnya. Jika mereka kembali pun akan mengulangi yang pernah mereka lakukan, proses dari awal tadi. Mereka keblinger.”

Ayu pun tiba-tiba melepas ransel dan jaket tebalnya, hanya kaos oblong putih yang melekat di seluruh lekuan tubuh indahnya, ia keluar dari warung remang tadi berlari keatas, ia berniat melihat transaksi dan beberapa penipuan yang terjadi. Adam pun merasa ia yang bertanggung jawab dengan Ayu maka disusulnya dengan perlahan dibelakang. Ayu terhalang tembok besar rumah tersebut, ia berusaha memanjatnya, gelap gulita malam tak dihiraukan, pelan-pelan Ayu mengintip, tak disadari tembok sedikit licin karena embun sudah mulai mendekap segala benda yang ada, termasuk tembok yang penuh lumut hijau. Ayu terpeleset oleh licinnya lumut hijau yang berpadu embun tebal, terjatuh telungkup menggelinding, tepat disampingnya ada jurang curam, semakin bergerak semakin mempercepat proses berputarnya. Ayu berteriak memanggil Adam. Adam berlari kencang, menuruni jurang yang curam, ia dapati tubuh Ayu lemas penuh goresan semak belukar, garis merah bekas duri-duri yang menancap di wajahnya, perutnya menyentuh akar pinus yang belum lama tumbang, tepatnya baru ditebang sehigga menyisakan pangkal pohon yang lancip. Adam tak berdaya untuk menyelamatkan nyawa Ayu, diboponglah Ayu ke atas dengan lumuran darah di perut. Sambil tergopoh-gopoh Adam membawa jasad Ayu ke tempat ia bercengkerama dengan mbah tua tadi, matahari pun sudah menginjak tanah, sekitar setengah 5 pagi ia dapati tempat meminum wedang jahe semalam. Sampai ditempat yang menurutnya adalah warung semalam, ia dapati hanya pos ronda, memang motor , tas, jaket juga barang-barang lain perlengkapan hunting juga ada disitu. Seperti mimpi yang ia rasakan, warung itu tak ada, hanya pos ronda yang nampak. Ambulans pun segera membawa mereka ke rumah sakit, kemudian keluarga Ayu di telepon, jenazah Ayu diterbangkan dari bandara Abdurrahman Saleh tepat pukul 12 siang dan akan menuju bandara Soekarno Hatta, Banten.

Adam menjadi orang pertama didunia, yang tak lagi bisa percaya dengan apa yang baru saja ia alami. Panorama pantai yang di inginkan Ayu Laksmi tak pernah terwujud, tugas akhir hanya mimpi belaka, petaka yang diterima. Adam masih menyalahkan dirinya, kenapa sampai hati tidak bisa menahan keinginan Ayu yang merengek minta ke gunung itu. Gunung yang tak akan pernah disebut lagi oleh Adam setelah peristiwa itu.

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar