Novel (T)apel Adam : Kembara #7



#Kembara#

Klik tautan judul untuk menyimak Bab 1, 2, 3, 4, 5, 6 Novel (T)apel Adama disini : Novel (T)apel Adam : Syahadat #1, Apel #2Ijab Qobul #3Gema lonceng #4Surat dari Pastor #5, Lurah Bondronoyo #6

Sesuai perintah sang Lurah, Adam mengantarkan raskin ke seluruh RT yang disebutkan, untuk RT 01 raskinnya akan di taruh di rumahnya Bu Rafii’ah, sesampainya Adam disana terlihat kejanggalan yang belum pernah ia temui, warga tidak satupun yang lalu lalang keluar rumah, kampung tersebut seperti kota mati yang tak berpenghuni.

“Ini desa tak berpenduduk atau masyarakatnya pemalas,” keluh Adam yang kesal.“Sudah siang seperti ini apa mereka masih pada tidur?”

Tiba-tiba berduyun rombongan warga, berarak bagai gelombang teratur, semua mengenakan pakaian bersih-bersih, putih menyala, satu persatu memisahkan diri dari barisan memasuki rumah masing-masing, sepertinya mereka baru saja melaksanakan sembahyang di masjid, pulang dari sholat dhuha, mereka tak satupun berkeliaran memburu dunia, mulai selepas shubuh tak beranjak dari masjid, menunggu waktu dhuha kemudian melanjutkan shalat dhuha, selesai shalat baru mencari kebutuhan hidup, bertani, berdagang, dsb.

Belum pernah ia kunjungi kampung yang berada tepat di pojok perbatasan kota madya dan kabupaten ini, setelah sekian tahun tidak pulang semua tampak berbeda, Sesekali ia menoleh kanan-kiri untuk sekadar mendapat kepastian dimana warga kampung RT 01. Adam memperhatikan semuanya dengan seksama, mencoba mencari tau. Oh rupanya ini masalahnya, Pasar belum dibuka sebelum usai shalat dhuha, Setelah melaksanakan ibadah sholat dhuha maka satu persatu menuju kerumah Bu Rafi’ah, untuk mengambil jatah beras, lalu memulai aktifitas rutin mereka masing-masing, nanti jika waktu dhuhur tiba segala aktifitas harus dihentikan, praktis, lebih kurang cuma 3 jam waktu aktifitas hidup mereka dalam sehari. Heran!   

Di RT berikutnya, yakni RT 02 Adam menuju ke rumah pak Ma’un, disana terlihat beliau sedang memulai sembahyang dhuhur, setelah takbir juga menyelesaikan surat Al-fatihah jamaah sholat dhuhur yang terdiri dari seluruh anggota RT dari Pak Ma’un terlihat lama sekali melakukan ruku’, seperti orang Jepang sedang sheikrei menyembah matahari, tapi mereka tidak menyembah matahari melainkan Sang Kuasa maha Kuasa, berjam jam tak kunjung usai ruku’nya, “Apa yang dibaca? Atau sedang promo aliran baru?” beras jatahnya pun di taruh di balai sembari diselipkan kertas bertuliskan kiriman dari Pak Lurah, Adam tak betah berlama-lama hanya menunggui orang rukuk.

Di RT 03 Adam menuju rumah pak RT, tapi beliaunya  sedang keluar, hanya Mazinah puteri pak RT yang berada di  rumah, Adam menyerahkan jatah raskin kepada neng Mazinah, dengan sigap neng Mazinah memanggil warga untuk mengambil jatah raskinnya , yang merasa dipanggilpun berhamburan menuju rumah pak RT, setiba di sana seluruh warga tiba-tiba sujud syukur, mensyukuri anugerah dari Tuhannya yang menjelma menjadi benda yang bernama beras.

Di RT 04 Adam berkenalan dengan  bu Zahirah, seorang perempuan setengah baya beranak dua yang sangat rendah hati, tawadhu’, ternyata ia adalah cerminan dari seluruh warga yang selalu sangat ramah akrab juga berpenampilan apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, tak bermewah-mewahan, semuanya mencerminkan rakyat yang penuh ketentraman,Bu Zahirah menemani Adam keliling kampung mengantarkan jatah raskin ke rumah rumah.
Di RT 05 Adam menjumpai Munirah, gadis cilik berperangai halus, ia menceritakan bahwa warga disitu  selalu ta’at beribadah, tak satupun dari mereka yang lalai dalam sembahyang, guyup rukun juga saling tolong menolong, Munirah membantu Adam mengantar raskin, mengetuk pintu tiap rumah,yang disambut dengan senyuman gembira penghuni rumah.

Tak jauh berbeda dari RT sebelumnya, di RT 06 Khalishah seorang murid SMP yang membantunya dengan senang hati, membagikan raskin. Dia memberi tahu kalau di masyarakat RT 06 merupakan sekumpulan orang yang  bersungguh-sungguh dalam beribadah, seluruh rukun agama selalu di tunaikan tanpa terkecuali.

Ajibah, seorang guru ngaji menyapa Adam, ia merupakan salah satu warga dari RT 07, yang juga dengan gembira menemani Adam, mengedarkan jatah raskin, dari perangainya Ajibah seperti seorang zuhud, sederhana dalam menggunakan sarana hidup, tak berlebihan, ia menyampaikan seluruh warga juga seperti itu cara hidupnya, tak memiliki niatan untuk bermewah-mewah meskipun sebenarnya bisa, “kami mensyukuri seluruh pemberian Tuhan, tapi kami tidak mau berlebihan dalam menggunakannya”.

Tak lama kemudian, ketika Adam meninggalkan ke tujuh RT tersebut, tiba-tiba ada kegaduhan luar biasa, seluruh warga desa berteriak-teriak, kencang melengking, berlari-larian pontang-panting kesana-kemari, terperosok, jatuh dan bangun lagi, begitu terus, ada yang marah-marah ada yang  memelas, ternak, hewan pembantu bajak sawah, hewan peliharaan, semuanya ikut ribut, entah apa yang yang sedang terjadi, seakan semuanya  tertular wabah yang mengerikan. Lalu dari arah matahari terbit, seperti ada angin lembut yang datang, satu persatu lemas dan lunglai, seperti daun-daun kering yang tertiup angin, luruh berjatuhan, entah pingsan tak sadarkan diri ataukah mati. Pelan-pelan kegaduhan itu lenyap, menuju sepi, sunyi, yang diam dalam keheningan.


Pak Lurah belum mengetahui kejadian ini, hanya Adam lah satu-satunya orang yang menyaksikan semua itu.

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.


Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar