Novel (T)apel Adam : Kepompong #15




#Kepompong#



Sesampai di rumah, sekembali dari rumah Reza Adam melihat pohon jambu air di depan rumahnya berguguran kembang buah, tak hanya itu, kotoran hewan kecil juga ikut berjatuhan, jatuh ketanah seperti taburan rangkai bunga, diamati lah pohon jambu air yang kerdil karena bonsai, sengaja dikerdilkan agar menjadi hiasan halaman rumah, pakai metode cangkok, plus stek jika ingin gen yang lain, semacam campuran dari berbagai darah, bersatu menjadi mahluk penuh aneka leluhur, mahluk cangkokan itupun jadi rebutan, bukan hanya manusia, juga para hewan dari berbagai waktu, hewan siang maupun malam, codot , kelelawar, tupai, semut, juga beberapa gegremetan, jangan melupakan burung yang berteduh hingga membuat sarang di sela dahan juga daun rindang, jika gelap malam tiba, seakan pohon jambu air seperti pohon dengan gantungan angpao cemleret, burung kecil berteduh di sarang, kelelawar menggantung kaki ala jambu monyet, kunang-kunang berkeliaran disela cahaya bulan, cantik elok nan anggun, semut-semut hitam saling bersalaman, entah apa yang mereka obrolkan setelah bersalaman, mereka setiap bertemu selau bersalaman jabat tangan, atau mungkin mencari sesuatu dan saling bertanya agar segera mendapatkannya kembali, hewan paling rukun.

Taman depan rumah pun selain di tinggali sebuah pohon jambu air juga terdapat kolam ikan, kolam yang berukuran 1,5 X 2 m tersebut berisi ikan hias yang selalu bersabar menunggu taburan makanan dari atas, sesekali ikan-ikan itu gelisah karena air kolamnya yang menjadi atmosfer hidupnya sudah kumuh, lobang ozonnya membesar akibat pemanasan global, air pun di sedot kuras habis, mereka mengamuk bergelimpangan seperti orang kesetanan, dengan penuh emosi membolak-balikkan tubuh seraya mengumpat kepada pemilik kolam, “kami hampir mati, tolong percepat penggantian airnya, kalau tidak bunuh saja kami, kami sudah bosan hidup menanggung kegelisahan”, mungkin manusia juga seperti itu jika sedang mengalami cobaan yang tak terkira, memaksa untuk melepas hidup dari dunia, mencoba mencari tempat untuk bunuh diri, tak kuat menanggung beban, tenang saja berat pikul yang dipundakmu tak akan membuat tulang punggungmu bengkok, segera air akan diganti, sabar barang sebentar, tunggu saatnya. Air pun mengalir deras dari sumber yang segar, sumber air Pandaan, segar menyehatkan yang sekarang dimasukkan dalam peti kemas dan dijual ke seluruh pemilik asli sumber, “hore” teriak ikan-ikan, semua serentak mengagungkan pemilik kolam ataupun petugas pengganti air, siapapun itu tidak penting, yang jelas hidup akan terus berlanjut, sebelum masuk dalam wadah penggorengan. Air pun menjadi rezeki paling favorit, berenang berlarian, kejar-kejaran, bergaya saling memangsa padahal hanya berpura-pura, lucu sekali mereka, 

Angsa pun memperhatikan tingkah polah ikan, sambil jalan-jalan keliling halaman, sepasang swan yang sedang berbulan madu, bulan madu sepanjang usia, karena mereka tak kunjung berputera, terkadang terbesit keinginan untuk memungut anak dari saudara sepupunya, Bebek, tapi tak mungkin, jelas mereka tak bisa berketurunan kecuali dititipkan ke dinas pengeraman telur milik ayam, salah sendiri dulu di beri sosialisai pengarahan KB oleh Nabi Sulaiman tak didengar, malah rame sendiri, bikin forum dalam forum, tahu sendiri akibatnya, yah mungkin kita berdua harus terus berdoa dinda, supaya segera berputera, kita jalan-jalan lagi, meneruskan pemandangan halaman rumah yang luas ini. Begitu ucap Swan jantan.

Sore segera menyabut malam, Adam memperhatikan ada sebuah warna keemasan menggantung di dahan yang berbentuk huruf “Y”, biasanya dahan seperti itu dipakai oleh anak-anak kampung untuk membuat ketapel, permainan khas dari batang kayu dipadu dengan tali karet melingkari kedua hujung kayu,di isi batu kerikil sebagai amunisi, untuk berburu burung juga beberapa buah yang menggantung di kebun tetangga, senangnya masa kanak-kanak, tak hirau dengan hukuman seberat apapun, surga maupun neraka pun tak mereka gubris, ingin sekali kembali seperti anak-anak. Sekarang permainan-permainan seperti itu di sebut kuno, kadang dinamakan berbahaya, harus dalam pengawasan bimbingan orang tua, akhirnya permainan-permainan tradisional pun hilang dengan sendiri, anak menjadi kehilangan gairah hidup, di cekoki dengan berbagai warna hologram dan cerita-cerita hayal membius, jangan salahkan kalau sekarang banyak anak menderita berbagai penyakit di usia dini, mereka stress, shock, depresi, tak ada permainan yang membawa mereka kedunia anak yang sebenarnya, yang ada kamuflase juga rekaan, seakan inilah permainan modern yang harus dimainkan, 

Itu Kepompong bukan? Kain anyaman emas menutupi mahluk yang sedang tapa brata, jabang bayi yang ingin terlahir kembali, untuk reinkarnasi menjadi mahluk paripurna, berpuasa dari makanan yang lezat dan berlemak, bergizi juga asupan nutrisi, memang dimasa lalu sang penghuni kain pocong berenda emas tersebut adalah pemuda nakal, beringas, penjahat, perampok juga pencuri buah jambu air, mencuri sedikit tetapi merusak kesucian buah, tapi ia bukan brandal lokajaya, ia hanya seorang mahluk yang ingin hidup menjadi lebih baik, atas anjuran orang tua juga keluarga besarnya, segera ia merubah perilaku, meskipun berat untuk menahan hawa nafsu sekian lama, tak ikut berpesta seperti teman-teman sebaya nya, tak juga bercengkrama dengan penghuni surga pohon jambu air, merelakan diri tenggelam dalam niat suci, ayah bunda izinkan aku untuk merubah nasib, merubah nasibku sendiri juga seluruh bangsa ulat kita, jika tidak kumulai, maka keadaan kita akan terus seperti ini, mencari hidup dengan memakan buah-buah yang sedang merona, ku cumbu sebagian kulitnya, ternoda seluruh belanga warnanya, busuk seterusnya. Mungkin inilah saatnya bangsa kita berubah. Ulat dalam kepompongpun selalu berdzikir mengingat Tuhannya, Tuhan yang asli, semoga aku engkau menganugerahi hidup layak juga untukku juga seluruh keturunanku. Setelah sekian lama semadi pun ia keluar dari selimut sulaman kuning kilat, tubuhnya berubah, kulitnya mengelupas, seperti magic tiba-tiba bersayap, berwarna-warni, belang-belang, bisa terbang. Karena aku sudah mendapatkan kehidupan baru, maka akupun akan berganti nama, panggil aku Kupu, Kupu pun tak lagi memakan buah, ia hanya memakan sari buah, manisan, itupun juga untuk menjaga metabolisme tubuh juga membantu pembuahan bunga, alangkah mulia nya ia sekarang. 

Sekarang aku bukan perusuh, perusak, maupun berandal. Aku orang yang dimuliakan, anak keturunanku juga akan hidup sepertiku, karena kami semua ingin hidup, bukan hanya kalian saja yang ingin menikmati hidup. Terima kasih Tuhan.

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar