Novel (T)apel Adam : Lurah Bodronoyo #6



#Lurah Bodronoyo#

Klik tautan judul untuk menyimak Bab 1, 2, 3, 4, 5 Novel (T)apel Adama disini : Novel (T)apel Adam : Syahadat #1, Apel #2Ijab Qobul #3Gema lonceng #4, Surat dari Pastor #5

Sesampai di rumah, tiba-tiba Adam merasa ada yang ganjil, ternyata dompetnya tidak berada dalam saku jaketnya, kemungkinan terjatuh disaat membaca surat dijalan, KTP dan surat-surat identitas lain berada didalamnya, kebetulan juga masa berlaku KTP nya akan habis 1 minggu lagi,
Keesokan harinya Adam berniat langsung mengurus KTP ke rumah Pak Lurah, kebetulan rumahnya berdekatan.

monggo pinarak’,..ada apa Nak Adam? Kok pagi-pagi sudah kesini? Kopi apa teh minumnya?...Manuhara,,,tolong buatkan teh hangat untuk si Arjuna pengangguran ini, sekalian bawakan kopinya bapak juga..!!!”

“Wah,,repot-repot Pak Lurah,”

“ya untung kamu di Indonesia, coba dinegara lain, pagi-pagi mertamu ke pejabat belum jam ngantornya pasti kamu diusir pulang, dan jangan berharap disuguhin minum apalagi berharap lebih, apalagi ngarepin anaknya….hehehe….”
“Iya, betul juga pak lurah, apa lagi yang terakhir,,,ngarepin anaknnya lurah Australi?ckckkkkckkk…”

“Ini Pak,….”

“Iya, makasih ya Nduk.”

“Ayo diminum nak,,,sudah-sudah, kamu itu kok keranjingan juga matanya, ngerti aja kalau anakku si Manuhara cantik, sebenarnya ada keperluan apa sampean kemari?”

“Mau ngurus KTP Pak,”

“Ow, ya bisa,,,besok pagi langsung saja ke kantor desa bawa Kartu Keluarga dan Akta kelahiran ya, soalnya stempelnya ada disana, saya tidak pernah membawa-bawa stempel pulang ke rumah, takut nanti bisa disalahgunakan, hehehe ”

“Kira kira biayanya berapa Pak?”

“Biaya apanya?”

“Administrasinya.”

“Gratis.”

“Loh biasanya ada biaya administrasinya.”

“Tidak ada, itu tidak boleh , kalau ada yang minta biaya administrasi atau apapun namanya, itu sama saja dengan pungutan liar, Apa tidak takut sekarang KPK ada di mana-mana?”

“Iya sih, memang seharusnya begitu pak.”

“Tapi, kalau seandainya Nak Adam mau ngisi kas ya monggo, di meja pak Sekdes sudah saya bikinkan kotak kas-nya. Ada tulisannya kok nak Adam, KOTAK KAS DESA, biar tidak keliru.”

“Apa itu bukan nama lain dari pungutan liar Pak Lurah?”

“Lho, ya jelas bukan toh. Beda, Ini sifatnya tidak memaksa, kalau ada yang beritikad baik mau mengisi kas ya kita persilahkan, masak ya mau kita tolak, nanti dikira kantor desa ini kantornya orang-orang kaya yang sombong, tidak menerima sumbangan dari warganya, lha salah lagi kan?”

“He he iya juga sih.”

“Kotak kas itu nantinya kita buka tiap tahun, kita bikin laporan pendapatannya, semuanya transparan, nantinya akan kita buat dana pembangunan desa, jadi semua dana yang terkumpul kita kembalikan lagi untuk kepentingan masyarakat.”

“Wah, ini menarik Pak, kalau seperti ini pengelolaannya, masyarakat juga tidak akan ragu ragu mengisi kas desa.”

“Walaupun, kadang ada juga sebagian warga yang mencibir, juga curiga, bagi saya yang penting transparan, kalau kurang percaya ya ayo kita amati bersama-sama, beres kan.”

“Seperti Suara Pemilu kita amati dan kawal bersama-sama, hehehe.”

“Sebenarnya kalau dipikir-pikir dan mau jujur, jadi pemimpin itu banyak susahnya dari pada senengnya.” Raut muka Pak Lurah menjadi datar, matanya menerawang jauh menembus halaman rumah.

“Kok bisa begitu Pak, padahal sekarang banyak orang yang ingin jadi pemimpin.”

“Nah itulah pangkal masalahnya, zaman sekarang banyak yang ingin jadi pemimpin, makanya saingannya banyak, seorang calon pemimpin harus punya semuanya, materi maupun strategi, maksudnya dana dan cara, dananya harus cukup, bahkan lebih baik lagi kalau berlebih, dan taktik brillian mengambil simpati masyarakat, dan juga harus tampak lebih hebat daripada para pesaingnya, terbayang kan betapa sulitnya.”

“Itulah demokrasi Pak Lurah, hehehe.”

“Padahal kalau sudah jadi pemimpin dapat apa? Asal jujur, pasti cuma dapat populer saja, iya kan ?  gaji juga minim, populer, tenar itu apa ?apa bisa ketenaran itu membuat perut kenyang?  mending jadi biduan, terkenal dan tidak selalu diawasi rakyat dan KPK.” Tambah Pak Lurah.

“Hahahahaha….” Pak Lurah dan Adam tertawa sama-sama heran.

“Di daerah sini siapa yang tidak kenal sama saya, Lurah Bodronoyo, semua kenal, memang enak kalau terkenal, tapi ya itu tadi, saya jadi tidak punya privasi. Rasanya kemana-mana selalu saja ada yang mengawasi. Padahal merasa sudah jujur tapi kok ya merasa kurang jujur, terus terang Nak Adam, lama-lama jadi Lurah tambah lama saya tambah bingung, perasaan saya CCTV ada dimana-mana, hehehe.”

“Hehehe ternyata jadi orang terkenal sulit juga ya Pak.”

“Makanya saya ini suka guyon, seneng akrab sama warga, biar yang sulit–sulit itu hilang, kalau bawaannya selalu serius malah tambah susah.”

“Iya Pak, lebih baik memang begitu. Serius-serius malah bikin cepat tua, hehehe.”

“Saya itu malah paling seneng kalau ada warga yang akrab bilang, “Awaaas, Semar lewat Semar lewat, minggir-minggir kasih jalan, hehehe. Atau saat sambutan, protokol acaranya bilang, “untuk bapak Lurah Semar Bodronoyo waktu dan tempat kami persilahkan”, hehehe.”

“Hehehe pasti Pak Lurah sangat mengidolakan Semar.”

“Kebetulan dari lahir nama saya Bodronoyo, teman-teman sekampung termasuk bapakmu sedari kecil dulu sudah menambahkan nama Semar di depan nama asli saya Bodronoyo, entah siapa yang memulainya. Sehingga dari kecil saya sudah hafal kisah-kisah keunikan tokoh Semar, dan kebetulan postur saya mirip penggambaran sosok Semar, jadi mau tidak mau sepertinya saya harus mengidolakan Semar, biar suasananya cocok,hehehe.”

“Semar itu sosok Dewa yang unik, memilih menjadi rakyat jelata dalam kesehariannya.”

“Sosok pengayom yang tidak boleh kentut sembarangan, hehehe. bisa membahayakan jagad.”

“Kalau sosok pemimpin, Pak Lurah mengidolakan siapa?

“Dalam cerita wayang ?”

“Kalau bisa pemimpin dijaman sekarang saja Pak, biar saya lebih mudah mencernanya.”

“Dari sekian banyak nama saya pilih …Putin.”

“Vladimir Putin, Rusia? “

“Benar, ada satu pelajaran disana, Rusia sebagai salah satu Negara serpihan Soviet, yang hampir gulung tikar, berhasil bangkit dari keterpurukan, dengan reformasi ala Putin yang sekarang dianggap hampir berhasil mengembalikan kejayaan Uni Soviet zaman dulu menjadi Rusia Raya hari ini.”

“Wah, cara-caranya bisa menjadi rujukan Negara kita dong.”

“Seusai perang dingin, Rusia hampir menjadi Negara serpihan Uni Soviet yang gagal, inflasi gila-gilaan, ekonomi morat–marit, kriminalitas menjadi-jadi, Mafioso merajalela, sistem sosial porak–poranda.”

“Mirip krismon 98.”

“Lalu pada saat kondisi genting itu Presiden Boris Yeltsin menunjuk Vladimir Putin sebagai Perdana Menteri, mayoritas rakyat Rusia hampir-hampir tak ada yang mengenali siapa itu Vladimir Putin, ya kalau ibarat Satrio Piningit, atau Ratu Adil di Rusia, bagi rakyat Rusia Putin-lah orangnya yang di tunggu-tunggu itu.”

“Imam Mahdi nya rakyat Rusia, hehehe.”

“Dan ternyata bukan sekadar seorang pemimpin yang ketiban rejeki dadakan akibat penunjukan, Putin berhasil menunjukkan kepada rakyat Rusia bahwa ia adalah seorang pemimpin yang benar-benar paham karakter rakyat Rusia, ahli strategi dan ahli intelijen.”

“Yang pertama-tama dilakukannya setelah jadi Perdana Menteri ,apa Pak Lurah?”

“Langkahnya ya demokrasi, tapi demokrasi ala Putin.”

“Lanjut Pak Lurah!”

“Lewat demokrasi ia berhasil “membonsai” kekuasaan para Gubernur. Karena sebelumnya, kekuasaan Gubernur seperti raja-raja kecil. Dari mekanisme dipilih langsung oleh rakyat, seketika itu diubah menjadi ditunjuk langsung oleh Presiden. Itupun atas persetujuan DPRD setempat.

“Berarti tidak full otoriter pak Lurah?”

“Iya benar, DPRD setempat kalau tidak setuju sama calon yang ditunjuk, bisa menolaknya.”

“Apakah penunjukan langsung seperti itu tidak dianggap mencederai demokrasi.”

“Banyak opini seperti itu, tapi pada kenyataannya justru model demokrasi ala Rusia ini, kini malah ditiru oleh beberapa Negara yang dikenal sangat demokratis, seperti Belgia, Finlandia, Portugal, dan lain-lain, bagaimana kalau sudah seperti itu?”

“Tapi pada awalnya pasti sangat sulit.”

“Iya benar, awalnya langkah Putin dianggap sangat otoriter. Seperti kontrol Negara terhadap media massa, menaikkan standar suara kelayakan partai-partai politik dari lima persen menjadi tujuh persen, yang mengakibatkan partai-partai kecil tersisih. Tapi ia jalan terus karena rakyat mendukung, serta mayoritas masyarakatnya tidak terpengaruh angin surga dari demokrasi ala barat yang selama ini di hembuskan dan di dengung-dengungkan.”

“Mungkin karena rakyatnya hebat maka muncul pemimpin hebat.”

“Bisa jadi seperti itu Nak Adam, walaupun tidak dapat dipungkiri juga munculnya pemimpin hebat juga karena ada faktor momentum.”

“Ada pepatah mengatakan, setiap zaman muncul sosok pemimpin, setiap pemimpin dilahirkan oleh zamannya.”

“Hehehe, benar itu, waktu itu zamannya sedang susah, harga minyak dunia melambung tinggi. Rusia dengan sekuat tenaga memenuhi kebutuhan energi negaranya sendiri, terutama gas, dimana akhirnya Negara-negara Eropa sangat bergantung atas ekspor gas dari Rusia sampai saat ini, lewat jalur gas dari  pipa Ukraina.

“Hehe saya cuma tidak habis pikir, ternyata Pak Lurah Semar Bodronoyo, pengetahuannya sampai jauh seperti itu.”

“Loh , sebagai Lurah atau rakyat yang baik, kita harus tau cerita-cerita seperti ini, biar setidak-tidaknya sebagai orang kecil kita juga bisa urun rembug pemikiran kalau diminta, bukan iya-iya saja meng iyakan begitu saja kemauan orang lain, kalau salah nanti kita-kita juga yang merasakan akibatnya. Masuk sumur juga kita tidak tahu dalamnya seberapa, kalau sudah tahu perkiraan dalamnya, paling tidak kita sudah punya persiapan diri.”

“Masuk sumur asal rame-rame, pasti meriah Pak, kayak karnaval, Hahaha.”

“Tapi ada satu yang menarik dari reformasi ala Rusia-nya Putin.”

“Apa itu pak Lurah?”

“Keputusan untuk kembali kepada Local Wisdom leluhur.”

“Maksudnya?”

“Ia merombak sistem keterbukaan dan restrukturisasi bawaan ide impor, mengembalikannya  kepada format semi otoriter dan ketertutupan. Itulah sistem demokrasi ala Rusia, sebab bangsa Rusia justru merasa nyaman dengan Zona otoritarian, sebagai semangat lokal wisdomnya leluhur bangsa Rusia.”

“Maksudnya rakyat Rusia justru senang bila geraknya dibatasi dengan sistem yang otoriter?”

“Itulah Kultur Budaya bangsa Rusia, yang berhasil di wujudkan kembali oleh demokrasi ala Rusia-nya Putin.”

“Kepercayaan lokal kadang memang aneh.”

“Iya, kadang tak bisa dipercaya, tidak masuk akal, masak ada satu bangsa yang senang dibelenggu?”

“Mungkin saat itu rakyat Rusia sudah putus asa, hehehe.”

“Yang jelas, Rakyat Rusia tidak peduli lagi apa kata orang tentang sistem yang diterapkan oleh Putin, Dianggap demokratis ataupun tidak, yang penting mereka sejahtera dan citra Negara terangkat di mata dunia.”

“Wah cerita seperti ini bisa-bisa nanti kita dianggap pecinta komunis Pak Lurah.”

“Hehe, saya tidak suka ide-ide komunis, yang perlu dicermati disini adalah kultur budaya sebuah bangsa yang unik, luput dari perkiraan, tapi sangat sukses diterapkan oleh Putin di Rusia.”

“Bagaimana dengan Negara kita Pak Lurah, Indonesia tercinta ini?”

“Hahaha, ah sudahlah para petinggi Negara kita pasti sudah memikirkan langkah-langkah yang terbaik untuk negeri ini, memang masih banyak kekurang pantasan disana-sini dan korupsi masih merajalela, tapi yakinlah banyak juga kok orang orang yang baik yang memikirkan nasib Negara ini dengan sepenuh hati. Percayalah.”

“Yang mana mereka pak?”

“Hahaha, tak terasa sudah jam setengah delapan, waktunya ngantor, nanti kalau ada waktu disambung lagi ngobrolnya Nak Adam,”

“Nggeh Pak Lurah, maaf saya pagi-pagi sudah mengganggu waktu santai bapak.”

“Saya tidak mengusir loh Nak Adam, eh kalau boleh saya minta tolong bisa kan?”

“Tolong apa Pak Lurah?”

“Minta tolong paling cuma satu jam demi kepentingan warga, didepan ada becak yang mau membagikan beras raskin, tolong dikawal,” Pak Lurah menyodorkan lembaran daftar warga penerima jatah Raskin.

”Bisakan nak Adam ?”

“Siaaap.”

“Terima kasih nak Adam.”

“Saya berangkat Pak Lurah.”
Sebentar kemudian Adam sudah naik becak, disela-sela  tumpukan beras yang menggunung. 

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.

Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar