Novel (T)apel Adam : Magnum Opus #17





#Magnum Opus#


Setibanya dirumah Adam langsung meregangkan otot-otot kakinya diatas sofa panjang berwarna merah bermotif batik Sidoarjo, sembari merasakan jauhnya jalan raya yang dilewati pada sunyi malam. Belum selesai jemarinya menari dikaki untuk meremas betisnya tiba-tiba suara adzan dari mushalla disamping gangnya berkumandang. Ternyata shubuh telah menghampiri.Dalam kondisi kesendirian sambil menunggu senandung tomboati yang dilantunkan untuk pujian khas shubuh dikampungnya angannya melayang-melayang dikejauhan waktu dan tempat.

“kenapa lirik tomboati yang pertama merujuk pada keharusan kita untuk tadarus?” gumamnya. 

“sedangkan perintah pertama dalam al-qur’an adalah mewajibkan kita untuk senantiasa giat membaca. Secara tidak langsung adalah usaha memusnahkan virus buta huruf, dan selalu mengambil hikmah dari setiap pelajaran disekeliling kita, tampak maupun tak tampak, tertulis maupun tak tertulis”

Suara Iqomah yang keras membuyarkan lamunannya, segera dia bangkit dari keterpurukan badan dan hangatnya buaian sofa beludru tersebut. Berangkatlah dia melakukan sembahyang sebagai kewajiban yang harus ditunaikan pagi itu.Sebelum matahari menampakkan kegagahannya.

Setelah shalat jamaah tertunaikan, Adam tinggal di mushalla sambil bercengkrama dengan Pak Syaiku, imam shalat yang sekaligus merangkap marbot mushalla yang sudah tinggal disitu sebelum Adam lahir.

“Mas, saya tinggal disini sudah tiga puluh tahun, lima tahun sebelum kelahiran Mas”, kalimat pembuka percakapan dari Pak Syaiku, 

“Seberapa lama lagi bapak akan bertahan di mushalla ini, mushalla yang usianya sudah melapuk, seiring dengan hantaman gigi gergaji rayap yang sudah berganti generasi. Apa bapak sudah tak terfikirkan usia dan keturunan bapak?”, sindiran halus terpaksa Adam layangkan untuk mengetahui reaksi Pak Syaiku.

“Jodoh saya sudah mati. Sekarang saya sudah tidak memeiliki keinginan untuk memikirkan apakah saya akan berkeluarga atau tidak. Hidup dan mati saya disini, di mushalla ini. Sampai nanti ajal menjemput saya tetap akan disini”

Disela-sela percakapan, Atho’ yang terhitung sebagai asistennya Pak Syaiku ikut datang sembari membawakan tiga gelas kopi dan makanan ringan berupa gorengan, dan jajanan pasar. Praktis dengan duduk melingkar yang dilakukan mereka seperti sidang majelis ulama’ .

“Mas, kamu dulu kuliah di Jakarta, kuliah dimana mas?” Tanya Pak Syaiku kepada Adam.

“Saya kuliah di Sekoah Tinggi Ilmu Teologi Mullasadra Pak” Adam menimpali

“ Tetapi semakin saya mengejar pengetahuan, semakin saya bertanya-tanya Pak, setiap waktu saya selalu merasa seperti katak yang berada dalam tempurung, apalagi semenjak saya lulus dan pulang kembali kesini,” tambah Adam.

“Kenapa harus bertanya kalau memang sudah ada jawabnya.” Ringkas Pak Syaiku.

“Maksud bapak?”

“Tuhan sudah memberi segalanya, anugerah sudah dicurahkan melimpah, Fa biayyi ala I rabbikuma tukadzibaan. Nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?”

“Setahu saya, hidup itu harus senantiasa menjaga akhlak Mas.” Atho’illah mulai angkat bicara.

Atho’illah memang pemuda yang sedari kecil menjadi santri disebuah pondok pesantren daerah Magelang, berdekatan dengan daerah Borobudur.

“Dengan akhlak, hidup saya jadi tentram Mas,” tambah Atho’.

“Akhlak yang seperti apa Tho’? yang harus mengalah, mempersilahkan orang lain menginjak-injak kita, harga diri kita di cerca dengan fitnahan yang membabi buta, memberikan hak hidup dan jatah warisan berupa khazanah tanah air kita kepada bangsa lain? Membiarkan anak cucu kita mengais-ngais beras di rumahnya sendiri? Atau kehausan menimpa anak cucu kita dan mereka tidak bisa meminum air sumurnya sendiri karena sumurnya telah disegel dan di labeli dengan nama orang lain. Hak mana lagi yang bisa diperoleh?” Tanya Adam.

Dalam beberapa ajaran ahlak memang di utamakan dalam kehidupan, apalagi Atho’ memang lama dalam mempelajari pendidikan di lingkungan pesantren, pesantren memang mengedepankan akhlak tata cara hidup, bagaimana berhidup rukun saling membantu, juga sampai detail terkecil perilaku hidup, misal tatacara mencari makan, cara menadapatkan legalitas pemerolehan baik kehalalan maupun kebaikan barang, juga teknis makan, tak sampai disitu saja akhlak dengan sang pencipta pun dijelaskan dengan gamblang. Itu bisa dilihat dalam karya besar sang hujjatul Islam Imam Al-Ghazali Ihya’ulum addin, karya-karya Imam Al-Ghazali banyak sekali diantaranya Maqasid al- Falasifah yang memberikan sumbangsih besar dalam berfikir filsafat, Al-Ghazali menggambarkan bagaimana cara pandang seorang filsuf dalam berfikir. Para filsuf memang berasal dari sebongkah tanda tanya yang menjelma kedalam kolam jiwa yang berkecamuk, yang paling dahsyat dari tanya terbesarnya adalah tentang metafisika ketuhanan juga penciptaan alam, setelah Al-Ghazali memaparkan cara pandang seorang filsuf beliau menulis lagi Tahafut al-falasifah tentang kesesatan filsuf, menjadi counter attack terhadap beberapa hal terkait pandangan para filsuf tentang penciptaan, karena beberapa terjebak dalam konsep Creatio ex nihillo (penciptaan dari ketiadaan) salah satunya Plato, juga Aristoteles yang mendapat anugerah gelar “Guru Pertama”, beliau pun tergelincir dengan konsep tersebut yang akhirnya mengatakan bahwa materi itu qadim, meskipun begitu beliau tidak meniadakan keberadaan serta kuasa Tuhan, tetapi melupakan bahwa Tuhan memiliki Iradah. Rampung Al-Ghazali menulis itu dan menjadi kajian, karya tersebut dilawan oleh Ibnu Rusyd dengan menulis Tahafut at-Tahafut. Semacam surat balasan yang melawan, mereka saling beradu gagasan untuk menelorkan dan menetaskan ide pandangan dari masing-masing penggagas. Selain itu masih banyak lagi para pemikir lain, Ibnu Sina, Alfarabi, Juga Ibnu Kholdun yang pernah menulis kitab Muqaddimah, sebagai pengantar kitab selanjutnya Al-’Ibar wa Diwanul Mubtada’ awil Khabar fi Ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar atau Les Prolegomenes d’Ibn Khaldoun. Juga Mawlana Jalaluddin Rumi yang merupakan tokoh sufi yang memberi sumbangan khazanah sastra non konvensional, memilik karya Matsnawi Ma’nawi/Masnavi-I ma’nawi/ Masnavi of Intrinsic Meaning, berupa bentuk puitik Persia terdiri dari kuplet rima. Hingga kini dikenal dengan nama “Al-Qur’an dengan lidah Persia”. 

“Setahu saya kita harus senantiasa bersyukur atas nikmat yang kita peroleh.” Jawab Atho’.

“Jaga ucapanmu, bisa-bisanya kamu berbahagia diatas bangkai keluarga dan saudaramu yang belum sempat di kremasi. Kamu harus menebus kata syukurmu dengan istighfar dan pertobatan yang lama. Kamu pasti ingat seorang waliyullah dari Baghdad, Syekh Sary As-Saqhaty, paman dari Syekh Junaid Al-Baghdadi. Beliau ketika itu sedang dirumah, datanglah seorang yang mengabarkan bahwa dipasar sedang terjadi kebakaran yang dahsyat, tetapi toko milik Syekh selamat, seketika itu juga beliau secara spontan mengucap syukur Alhamdulillah, tak disangka beliau lalai bahwa kenikmatannya telah diperoleh tepat disaat cobaan menimpa orang lain. Beliau pun akhirnya menyesalinya dan beristighfar sepanjang hari selama tiga puluh tahun guna sebagai tebusan atas kelalaian yang telah dilakukan. ” 

“Sudah, sudah. Memang ada kalanya kita harus senantiasa bangkit, optimis dan gagah menghadapi hidup seperti enam jam matahari di awal terbitnya, tetapi kita juga harus menyadari bahwa dunia ini tak lebihnya seperti nenek renta yang bersolek, hanya pancaran hiasan yang bersinar tetapi wajah aslinya sangat menjemukan.” Tandas Pak Syaiku.

“Tetapi kenapa kita tetap seperti ini saja Pak? Kita jauh mundur ke belakang, atau kalau memakai bahasa yang lebih halus kita hanya jalan di tempat.” Desak Adam.

“Apanya yang jalan di tempat Mas?”

“Semuanya. Kita tidak sehebat orang-orang dimasa lalu, apakah itu bukan sebuah kemunduran?"

“Saya itu terkadang bingung Mas, dulu semasa Bung Karno semua merasa gerah dan ingin lebih maju dengan realita zaman yang terus melaju, karena merasa politik menjadi panglima program dan kampanye harian pejabat Negara tidak bisa mengenyangkan perut rakyat, setelah itu Negara memprioritaskan ekonomi guna mengatasi paceklik juga pageblug pangan, ternyata masih kurang puas. Ingin di reformasi lebih baik untuk mematangkan konsep berbangsa dan bernegara, ternyata setelah bergulir malah maling dan penjahatnya keluar dari persembunyian mengambil yang menjadi hak orang banyak, mencuri kok dirumah sendiri. Terakhir, yang terjadi hari ini menginginkan segala bentuk kembali seperti orde-orde masa lalu. Terus sebenarnya letak kepuasan kita dimana?” 

“Dunia sanggup memenuhi seluruh keinginan manusia, tapi tidak untuk kerakusannya. Mohandas Karamchand Gandhi sudah pernah mengungkapkannya seperti itu.” Dengan lantang Adam menjawab.

“Itulah yang terkadang membingungkan saya Pak, apalagi yang bisa kita berikan untuk negeri ini, sementara rakyat sipil berjuang mempertahankan hidup, tapi para manusia hina sedang bertengger diatas dipan yang mengaku membela rakyat.” Lanjut Adam.

Sekarang terjadi sosialisasi tentang 4 pilar Indonesia sampai ke pelosok-pelosok daerah yang bisa kita bayangkan daerah tersebut sulit jangkauannya, sulit mendapat air bersih juga penerang listrik, 4 pilar itu berisi NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, UUD ’45. Jika ke empatnya di analogikan dengan pilar berarti kesemuanya menjadi salah satu pelengkap sebuah bangunan, apakah yang terpenting dari bangunan adalah tiang?atau bagian yang lain. Jika disebut sebagai pilar maka merasa terhina, karena ke empatnya adalah bahan-bahan dasar terpenting dalam rumah besar kita, tidak sekadar pilar. Kalau bisa carilah istilah lain, jangan menggunakan istilah pilar. Karena mungkin tergesa-gesa menamakan istilah tersebut guna mempercepat promosi gelar akademik yang dikejar sehingga mengorbankan makna penting dari ke empat dasar bernegara kita. 

“Kita memang terus selalu berbuat yang terbaik untuk tanah air kita, tumpah darah kita, darah yang dulu tertumpahkan demi untuk mendapatkan kebebasan pengelolaan Negara, untuk siapa?untuk kita, sekarang kita harus senantiasa berjuang seperti orang-orang terdahulu, untuk anak cucu kita.” Tambah Pak Syaiku.




Orang-orang dulu bukanlah orang-orangan sawah yang hanya menjaga ladang dengan menakut-nakuti burung emprit, kalau dibahasa arabkan emprit menjadi Usfuriya, dari kata tersebut sebuah nama burung pernah dijadikan sebuah kitab yang menceritakan tentang perihal Umar Ibn Khattab al-Faruq, seorang pria gagah yang ditakuti bukan karena seram taupun sering menakut-nakuti seperti orang-orangan sawah tadi, tetapi beliau berwibawa dengan tegasnya, sanggup memikul kebenaran diatas ubun-ubun yang bermahkota. Dalam kitab itu kurang lebih menjelaskan bagaiman Umar menyelamatkan, bukan menyelamatkan tepatnya karena burung tersebut tidak dalam cengkraman kematian, membebaskan tepatnya. Membebaskan burung tersebut dari seorang anak kecil yang memeliharanya untuk menjadi teman bermain, bermain fersi anak tersebut. Umar pun menebusnya dengan beberapa keping uang. Terbebaslah burung tersebut dari kerja paksa anak kecil tadi, bukan kerja Rodi atau Romusa yang menyiksa, siksaan memang terkadang memberikan buah peluh yang kelak bisa dinikmati banyak orang, Deandels memberikan mainan sebuah jalan yang rencananya akan dibuat road race yang panjang rutenya, melebihi Sentul tepatnya, melewati banyak kota dan wilayah yang memanjang membentuk setengah lingkar menyusuri pantai yang panjang, agar jika nanti permainan balap motor tersebut terjadi bisa sesekali meneguk air garam yang petar, panjang sekali ternyata rute yang diinginkan mulai dari barat sampai ketimur dari Anyer sampai Panarukan.

“ Memang, sekarang kita miskin mushannif. Tetapi sehebat apapun seseorang, se takjub apapun kita akan karya besar, tak akan ada yang bisa menandingi Al-Qur’an.” Tegas Pak Syaiku.

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar