Novel (T)apel Adam : Narima ing pandum #13




#Narima ing pandum#

Klik tautan judul untuk menyimak Bab 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 Novel (T)apel Adama disini : Novel (T)apel Adam : Syahadat #1, Apel #2Ijab Qobul #3Gema lonceng #4Surat dari Pastor #5Lurah Bondronoyo #6Kembara #7Blawong #8Blawong #9Jalma moro jalma mati #10Nol Derajat #11, Oase #12



Setelah selesai bersih-bersih, terlihat seorang tua berhenti didepan rumah Adam, terlihat compang dan camping kusut juga muram, tak ada cerah wajah, seakan harapan hidup telah mati sebelum ia dilahirkan. Sesekali ia memegangi perut, memberi pertanda bahwa saluran mesin gilingan butuh bahan bakar untuk menggerakkan, juga menjadi pelumas, usus tidak akan karatan jika pelumasnya sering mengoles, juga lubang kloaka milik burung terbang yang terpasang ditubuh minta bagian, meskipun hanya dipakai untuk jalan limbah, limbah dari sekian ribu jenis zat, ribuan zat akan mengeluarkan sekian juta khasiat yang menyebar rata keberbagai pelosok penghuni tubuh. Lolongan dalam perut yang membuat malu didepan umum menjadi signal pertama, jika tak segera di pasok bahan bakarnya maka beberapa pegawai akan mogok bekerja, industri akan lumpuh, seakan tiba waktu kiamat sughro, bumi terlihat hitam penuh, rotasi putarnya tak terarah. Begitulah mungkin gambaran keadaan seorang pengemis yang berada didepan rumah Adam.

“Permisi,..Nak?”

“Bolehkah saya meminta makan?”

Adam pun mempersilahkan masuk dan duduk di teras, 

“Kek, sebentar tunggu disini dulu, saya ambilkan makan didalam.”

“Maaf kek, makanannya seperti ini, maaf seadanya.”

“Tidak apa-apa nak, sejak pagi tadi aku belum makan, aku bersyukur bisa dapat makan.”

Pengemis menengadah kelangit, bersyukur atas nikmat yang telah ia dapat, kuasa Tuhan yang ia harap setiap hari, menjalani hidup nestapa, tanpa saudara, bak pengelana panjang, tak pernah tahu kapan akan berakhir, ditempat mana akan berhenti, berasa ingin mati secepatnya, bila mengetahui ilmu mati seketika akan ia amalkan. Berapa lama lagi waktu yang akan menuntun menuju ziarah tak berhujung, semenjak lahir tak berbapak juga beribu, siapakah yang akan menjadi tambatan hati juga sandaran jiwa, seumur hidup mencicip nikmatnya memiliki keluarga pun tak pernah, menikah pun tak pernah, sampai di usia senja hanya sebatang kara. Merana seperti gelandangan ibu kota, sesekali razia satuan polisi pamong praja akan membuat bulu kuduknya meremang, membuat takut, ia dimasukkan dalam kasta baru yang tak pernah ada dalam peradaban yaitu Gepeng, gelandangan dan pengemis. Mana janji pemerintah untuk menanggung hidup anak yatim dan terlantar. 

“Kakek asli mana? Orang sini? Apakah mungkin saya antar pada keluarga kakek?”

“Kakek tak punya rumah, juga keluarga, kakek sejak kecil yatim piatu, dulu ketika kecil diasuh paman, setelah paman meninggal hidup kakek sebatang kara, pernah bekerja sebagai kuli batu ketika kecil, masih di Ponorogo, desa Tegalsari,” 

Desa Tegalsari dulu merupakan daerah dimana Kiai Hasan Besari membuat padepokan pesantren, Kiai Hasan Besari merupakan mertua Pengeran Ontowiryo (Diponegoro) putra ngarso dalem Raden Mas Surojo, Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang jumeneng kaping tiga (Sri Sultan HB III), Diponegoro berjuang melawan bangsa penjajah. Karena bangsa kolonial yang awal mula dimotori oleh Herman Daendels telah membuat gonjang-ganjing negeri Ngayogyakarta Hadiningrat secara khusus dan Jawa secara umumnya semenjak Sri Sultan HB II memimpin dan diturunkan secara paksa dari tahta, sampai persekongkolan yang terjadi dimasa HB III antara Pangeran Noto Kusumo (Paku Alam I) dengan Thomas Rafless yang mengurangi wilayah kasultanan Yogyakarta dengan menyerahkan daerah Kedu, separuh Pacitan, Japan, Jipang, dan Grobogan kepada Inggris dan membayar 100.000 real setiap tahunnya. Selepas HB III meninggal, raden Mas Djarot (adik Diponegoro) yang masih berusia 13 tahun dinobatkan menjadi HB IV, terjadi persekongkolan antara Patih Danurejo IV dengan Belanda, setelah RM Djarot meninggal atas inisiatif Danurejo pula Raden Mas Menol yang baru berusia 3 tahun dinobatkan menjadi raja, saran Diponegoro tidak digubris dan Danurejo melancarkan agenda proyek pembuatan jalan raya bersama Residen Yogyakarta A.H Smissaert yang melewati tapal batas tanah makam leluhur Diponegoro di Tegalrejo, setelah perundingan juga dialog yang tak kunjung menemukan titik kesepakatan dengan Residen, terutama usulan Diponegoro untuk memecat Patih Danurejo, maka pada tanggal 20 Juli 1825 mulai meletuslah Java Oorlog/perang jawa yang berkepanjanagan sampai tahun 1830. 

“Untunglah kau Nak, masih memiliki banyak harta, harta yang sangat berharga, keluarga. Jangan sia-siakan itu, siapa lagi yang akan menolongmu selain keluargamu, leluhurmu.”

“Engkau taat sembahyang Nak? Jika kau membaca doa tasyahud akhir, kau akan tahu maknanya betapa pentingnya mendoakan leluhur. Nabi Muhammad mencontohkan kita untuk mendoakan leluhur kita, beliau mendoakan keturunan Nabi Ibrahim, termasuk Nabi Muhammad sendiri ikut mendapat keberkahan doa tersebut.”

“Aku telah teracuni oleh doktrin masyarakat, untuk hidup selalu pasrah, sabar, narima ing pandum, nunggu becik ketitik olo ketoro, dan sekian petuah-petuah yang melemahkan hidupku, dan mungkin juga hidupmu. Itu semua ilmu mati, menjelang ajal,tepat bagiku seperti saat sekarang ini, tanda-tanda ajal sudah membuntutiku, semakin dekat. Sewaktu muda dulu aku terlalu terbuai dengan kata-kata menjemukan itu, sehingga hidupku hanya mengandalkan orang lain, pemberian. Bagiku waktu muda dulu Mikail akan senantiasa menjengukku setiap pagi dengan membawa nasi padang ataupun nasi pecel pagi. Bertahun-tahun aku menunggu, bersabar, bergembira disaat ada sedekah, ada kematian, atau acara-acara yang diperkenankan untuk umum. Sudah kulaksanakan ajaran narima ing pandum, menerima apa yang menjadi jatahku, jatahku mengemis, meminta-minta, bersuka ria mendengar kematian warga supaya setiap malam fidha’ membacakan surat al-ikhlas untuk orang mati dengan berharap soto daging yang akan disajikan setelah selesai acara, atau prasmanan,”

“Aku tak pernah bertemu Mikail sampai hari ini. Dimana dia? Lalai menjalankan tugasnya. Atau kamu kah jelmaan Mikail, aku tak percaya jelmaan, atau apapun yang tak nampak. Bagiku jika memang setiap hari ada petugas pembagi rezeki kenapa tak satu kalipun datang padaku, sekadar menanyakan keadaanku pun aku akan terima, tak pernah.” 



“Jangan seperti kakek Nak, yang selalu merebahkan badan diatas punggung orang lain, gunakan masa mudamu, masa yang sedang menunjukkan kelaminnya, menunjukkan identitasnya, jika seorang sudah mencapai umur 25 tahun belum menunjukkan kemampuan, tak memiliki keterampilan, apalagi tak ada harap untuk melaju ke depan, maka selamanya kau hanya akan menjadi uap, uap yang menyiksa ketika kantuk menyerang, tak ada gunanya hidupmu, tak pernah diperhitungkan kehadiranmu. Kau hanya menjadi bangkai yang berjalan sempoyongan. Jika engkau sudah memiliki keterampilan, maka bersyukurlah, kelak diumurmu yang ke 40, masa ke emasan mu tiba. Nabi mu sudah mencontohkannya.”

“Untuk Mikail, jangan pernah berharap kedatangannya, dia sudah menjalankan tugasnya sedari kau belum masuk dalam galaksi bima sakti, sudah dilaksanakannya pembagian rezeki, semua sudah ada, sudah diturunkan, tinggal kita kelola.”

“Terima kasih Nak, aku pamit. Aku akan menuju jembatan batas kota, mungkin ajalku tiba disana, aku bergembira jika mayatku terjatuh disungai, tak akan mau diriku merepotkan orang lain, apalagi sampai masa kematianku.”

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar