Novel (T)apel Adam : Nol derajat #11




Oleh : MOH. FATHUL HASAN
#Nol derajat#

Klik tautan judul untuk menyimak Bab 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 Novel (T)apel Adama disini : Novel (T)apel Adam : Syahadat #1, Apel #2Ijab Qobul #3Gema lonceng #4Surat dari Pastor #5Lurah Bondronoyo #6Kembara #7Blawong #8Blawong #9Jalma moro jalma mati #10



Dingin tak beraturan, tak usah melihat temperatur suhu, baik Celcius maupun Fahrenheit, karena akan sia-sia belaka. Adam menghangatkan diri di perapian, api yang dibuat manual oleh tangannya, dengan beberapa kayu seadanya, sambil memanjatkan doa untuk Ayu Laksmi yang telah membawa nyawanya sia-sia ke kota dingin ini, dulu masyhur jargon yang dipakai Makobu Malang Kota Bunga, dingin di kota ini membuat Adam sering bersin-bersin. Jaket hitam legam kenangan Pastor sudah ia lekatkan tubuh, shal biru bertuliskan AREMA juga sudah melingkar dileher, malam pekat berubah seperti perang belati yang menusuk-nusuk kulit sampai merasuk ke sumsum terdalam.

Masih ada ketela pohon yang menemani malam, untuk menambah hangat tenggorokan juga tubuh bagian dalam. Tidak separah yang dialami suku Eskimo di bumi bagian utara, yang dalam seluruh masa hidupnya dihabiskan dengan memakai jaket tebal berwarna cokelat maupun hitam, hasil industri tekstil rumah mereka yakni berburu Serigala dan beruang,

Mereka tidak suku tunggal, tetapi terbagi menjadi dua yakni Inuit (di utara Alaska, Kanada, dan Greenland) dan Yup’ik (di barat Alaska dan Timur Jauh Rusia). Orang Eskimo memiliki hubungan dengan etnis Aleut dan Alutiiq dari Kepulauan Aleutian di Alaska dan juga Sug'piak dari Kepulauan Kodiak hingga Prince William Sound di selatan tengah Alaska. Suku timur Eskimo, Inuit, berbicara dalam bahasa Inuktitut, sedangkan komunitas Eskimo barat Alaska, Yup'ik, berbicara dalam bahasa Yup'ik. Terdapat suatu kesamaan dialek antara keduanya, dan dialek Inuktitut paling barat dapat dianggap merupakan bentuk dari dialek Yup'ik. Sebagai santapan hariannya. Bukan nasi, tetapi daging serigala atau beruang. Mereka memiliki teknik berburu yang unik, menggunakan pisau yang sangat tajam, lalu merendamnya didalam darah hewan lain. Darah yang menyelimuti pisau itu dibiarkan membeku. Selanjutnya pisau yang sudah dilumuri darah beku tersebut, ditanam didataran tinggi tempat serigala sering bermain. Pisau itu sendiri ditanam dengan dengan posisi bagian ujung (mata pisau) mencuat keatas, dengan trik seperti itu, acapkali serigala datang dan mengendus-endus bau darah yang menyelimuti pisau tersebut. Tentu saja, mata pisau yang tajam dengan sendirinya melukai lidah si serigala. Lama kelamaan srigala pun lemas kehabisan darah dengan sendirinya, santap siang pun bisa segera terlaksana. Selain itu mereka maniak ikan, hobi mereka memancing, bukan memancing untuk refressing liburan semester sekolah, cuti ataupun week end, tetapi untuk kebutuhan penunjang hidup. Mereka mengenakan pakaian yang berlapis-lapis dan sangat tebal, untuk mengontrol suhu tanpa banyak mengeluarkan keringat. Bukan memakai jas ala pejabat, yang membuat APBN membengak, jas tidak cocok bagi kita, jas menjadi pemicu penambahan anggaran, setelah para pejabat memakai jas maka sering gobyos keringatan, sehingga anggaran ditambah untuk membeli AC, AC tak baik jika di ruangan terbuka, maka gedung dan kantor di permak supaya kedap udara. Anggaran harus ditambah, sampai kiamat pun terus akan terjadi siklus APBN yang keluar sia-sia. Tak mengapa, kita kan suka menghamburkan uang, meskipun itu semua bujukan dan plokotho bangsa lain, agar produk mereka laku terjual. Hati-hati , ada Operasi Siluman AS di Pelbagai Belahan Dunia, dalam skema yang dirancang Pentagon melalui rekomendasi studi Rand Corporation, Indonesia harus dibagi 7 wilayah, yang mana salah satu prioritas jangka pendek adalah memerdekakan Papua. Ini adalah bagian dari “Balkanisasi Nusantara”. Kiranya bisa menjadi early warning signal bagi pemerintah Indonesia, bahwa gerakan kaukus Papua di Kongres Amerika untuk mendukung Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk memerdekakan Papua, cepat atau lambat akan diagendakan kembali. Atau setidaknya, mengkondisikan Papua agar bisa diangkat ke forum internasional (Internasionalisasi Papua). Armada Kebebasan untuk Papua Barat merupakan peristiwa yang tak terduga, perlawanan kreatif untuk pendudukan Indonesia atas Papua Barat. Inisiatif Tetua Adat Australia dan bangsa yang sering memecah belah kita dengan isu-isu membosankan, sarang teroris. Kami bukan teroris!kalian sendiri yang teroris, lempar batu sembunyi tangan. 

Eskimo yang hidup di lingkar atas kutub utara memiliki sebuah rumah unik yang bernama Igloo, bukan Jogloo. Seluruh bagian rumah terbuat dari es, bentuknya setengah bundar (Dome ) dan berpintu masuk berupa silinder. Seperti kebutuhan rumah manusia lainnya, orang orang eskimo juga memiliki alasan membuat Igloo untuk berlindung dari udara dingin, hewan buas (hewan buas kutub seperti beruang). Igloo memiliki konstruksi yang kuat karena di buat dengan Es yang tak mudah meleleh dan mereka membuat nya saat musim dingin akan datang, jadi bisa dikatakan bahwa rumah jenis ini merupakan rumah temporer yang hanya ada pada waktu musim dingin saja, karena saat musim hangat (panas/summer) Igloo akan meleleh. “Summer Time”, mungkin akan menjadi lagu favorit mereka untuk menyambut musim leleh es, sayangnya mereka tak pernah menyanyikan lagu itu. Suhu di dalam rumah Igloo cukup hangat dan nyaman ditinggali, tak terpengaruh suhu diluar yang bisa sampai -45 derajat Fahrenheit.

Adam sedang berfikiran jorok, bukan jorok, realistis tepatnya. Berfikir dan mencerna kaidah fiqih kok jorok. Kalau jorok berarti para Faqqih (ulama’ ahli fiqih) suka berfikiran jorok. 

“Bagaimana para kaum Hawa yang sedang mengalami menstruasi?” Apalagi tak ada kitab Risalatul Mahidh di cetak disana, tetapi menurut kabar burung, burungnya orang-orang Eskimo yang dijual disini, para Hawa Eskimo menstruasi hanya setahun sekali, jadi tak perlu hawatir jika tidak kunjung datang bulan, bukan berarti merupakan awal tanda-tanda kehamilan, belum tentu.

“Bagaimana kedaan kutub yang ditemukan oleh Roald Amundsen yang berkebangsaan Norwegia pada tanggal 14 Desember 1911?” 

Kutub Selatan jauh lebih luas dari utara, mencapai 13,5 km2. Tidak ada manusia yang hidup dan menjadi penghuni di Kutub Selatan. Penampakan alam di Kutub Selatan yang berupa daratan dengan banyak gunung-gunung es menyebabkan tidak ada yang dapat tinggal di sana. Dengan bertambahnya ketinggian gunung es, suhu udara akan semakin berkurang sehingga Kutub Selatan menjadi sangat dingin dan tidak cocok untuk ditinggali manusia. Kecuali penguin, hewan imut dan lucu, kegemaran Ayu Laksmi. Selain itu ada jenis-jenis fauna yang bervariasi dan tahan dengan dinginnya suhu. Mulai dari mikroba, paus biru, anjing laut, albatros. Wilayah kutub disebut merupakan sumbunya bumi, ada teori fisika yang mengatakan bahwa jika kita memutar sesuatu kearah berlawanan dengan arah jarum jam, yaitu dibalik dari arah kiri ke kanan menjadi kanan ke kiri, maka akan menimbulkan tarikan maghnet. Para jamaah haji saat Thawaf melakukan seperti itu, berputar keliling berbalik, Makkah mungkin adalah sumbu bumi atau pusat maghnet, sehingga jika sebuah zaman akan datang melakukan penelitian bahwa ada tali yang menggantung dari sumbu bumi ke atas, seperti buah yang menggantung di pohon, Apel bisa menjawabnya. Agama bukan mistis. realistis.

“Bagaimana mungkin bangsa Eskimo terus bertawakal juga qona’ah pasrah menjalani kehidupan seperti itu? Mereka terus berteriak meminta bantuan Tuhan untuk keluar dari belenggu, atau sekadar bernafas lega dari hidup yang serba berjuang. Tuhan…dimana engkau? tolong kami, ini dingin, tak ada yang bisa kami makan kecuali daging mahluk garang bergerigi, yang menimbulkan panas juga syahwat, jika hewan-hewan pun sudah habis, semua yang ada pun akan kami makan juga. Karena alam telah mengajari kami, memakan apa yang ada didepan mata.”

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.


Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar