Novel (T)apel Adam : Oase #12




Oleh : MOH. FATHUL HASAN
#Oase#

Klik tautan judul untuk menyimak Bab 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 Novel (T)apel Adama disini : Novel (T)apel Adam : Syahadat #1, Apel #2Ijab Qobul #3Gema lonceng #4Surat dari Pastor #5Lurah Bondronoyo #6Kembara #7Blawong #8Blawong #9Jalma moro jalma mati #10, Oase #11


Pagi-pagi sekali Adam bersiap bersih-bersih, mulai kamar mandi sampai mencuci baju, tiba-tiba Adam clingak clinguk dari dalam pagar yang terdiri dari anyaman kawat jeruji. Dari dalam pagar terlihat dari kejauhan wajah cantik segar mempesona, berkulit putih bengkuang, bertubuh likuk berayun, terlihat Prativi. Kecantikannya sangat alami, hidung dan bibirnya mungil, rambut terikat seperti ekor ayam jago. Tak pernah terlihat pakai make up berlebihan, hanya bibirnya saja pakai lipgloss tipis. Mengaguminya, itu saja, tidak lebih, karena siapapun tahu, Prativi sudah beranak satu, bayi laki laki, masih berumur 3 bulan. Suaminya bekerja di sebuah tambang di Kalimantan, 2 bulan sekali pulang, namanya Pak Wasis.

Memandang ibu Prativi seperti memandang setitik keindahan diantara alam yang menjemukan. Seperti sebuah Oase di tengah gurun. Ya, persis sebuah oase, menarik dan misterius. Apalagi ketika Prativi lewat mendekat pagar, Adam pun memaksimalkan moment yang belum tentu bisa didapat lagi,punya kesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan ibu Prativi.

“Kok senyam-senyum, ada apa Mas? Sebagai seorang pemuda Mas Adam ini harus punya keberanian mengungkapkan semua tanya, kepada siapa saja yang Mas Adam anggap mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Bertanyalah tentang apa saja, tidak perlu takut, mumpung masih muda. Kita bukan sekelas Nabi, yang tanpa perlu ribet-ribet bertanya, Tuhan sudah memberitahu semuanya, kita manusia biasa. Kita yang mau bertanya, akan dijawab oleh Tuhan, lewat perantara sesama manusia atau alam semesta, yang berwujud rangkaian pengalaman. Percayalah, semuanya dari Tuhan. Tinggal bagaimana kita mengartikannya. “

“Kalau salah mengartikan bagaimana buk, apa tidak malah bikin ruwet”

“Soal pengartian memang rumit rumit gampang, makanya makna dari sesuatu harus di uji coba lewat serangkaian pembuktian. Contoh, Thomas Alfa Edisson memimpikan bola lampu, waktu itu masih berupa ide, lalu ia mulai me reka-reka cara kerja dan bentuknya. Lewat serangkaian pembuktian, ia mulai membuktikan kebenaran yang ia yakini, yaitu dunia yang terang diwaktu malam oleh listrik yang tertampung dalam bundaran bohlam. Seandainya waktu itu Thomas tidak mempunyai pertanyaan, tentang bagaimana mengusir gelap yang paling efektif, mungkin hari ini kita masih menggunakan oblik minyak jarak sebagai penerang malam hari.”

Ibu Prativi memang cantik.

“ Lewat pembuktianlah kebenaran akan diuji. Jangan mau menuruti kebenaran kata orang, yang belum pernah kita buktikan sendiri. Sebab jangan-jangan mereka cuma membohongi kita.”

Ibu Prativi cantik, tapi misterius.

“Tidakkah kita capek, dengan katanya ini katanya itu, terus menerus. Tanpa ada pembuktian, dengan alasan pembuktian itu masih panjang, masih butuh waktu. Tidakkah itu janji-janji saja. Apakah Mas Adam tidak takut kalau janji-janji yang diberikan untuk kita Cuma kosong saja?”

“ Kalau cuma janji kosong ya takut toh buk, sama saja bohong itu”

“ Itulah Mas Adam, segala pertanyaan harus segera ditanyakan agar secepatnya dapat jawaban, dan dengan begitu kita bisa secepatnya mengambil kesimpulan, mengambil mana yang perlu kita lanjutkan dan memilah mana yang harus kita tinggalkan. Biar kita tidak terombang-ambing terus dalam keraguan.”

“Terombang-ambing seperti perahu dilautan, yang terbawa arus angin lautan,,,ih ngeri”

“ Makanya Mas Adam, kalau boleh saya titip nasehat kepada Mas,.Sering seringlah membaca dan mencari tau tentang pengalaman orang lain, seperti membaca buku-buku otobiografi atau sejarah. Karena dari sana kita bisa dapat banyak manfaat.” 

“Menurut ibuk manfaat yang paling banyak dimananya?”

“Pengalamannya, intinya disitu. Ambillah pengalaman mereka sebagai petunjukmu.”

“Dengan memahami pengalaman mereka berarti kita tidak usah capek-capek mengalami kegagalan seperti yang pernah mereka alami, begitu buk?”

“Ya, kalau masih ragu, carilah, buktikanlah pengalaman mereka, karena terkadang literatur tidak sama dengan kenyataan.”

“Maksudnya, kadang tidak sama bagaimana?”

“Ok, lebih mudahnya begini, ini kata literatur: Pasang surut air laut dipengaruhi oleh gravitasi bulan, pada kenyataannya bisa jadi seperti itu, tapi yang menarik, kenapa gravitasi bulan itu cuma menarik untuk air laut saja. Air di kolam kita tidak ikut naik, seharusnya terpengaruh juga dong. Juga air dalam gelas kita, bak mandi, ember, pokoknya semua yang berisi air. Kenapa gravitasi bulan seperti pilih-pilih lokasi?”

“Wah iya ya, baru sadar, kenapa bisa begitu buk?”

“Nah, carilah jawaban dari pertanyaan itu, secepatnya, karena dengan begitu kita mungkin akan tau secepatnya juga, penyebab dari pasang surut air laut, siapa tahu bukan disebabkan oleh gravitasi bulan.”

Terus terang ibu Prativi tambah cantik dan tambah misterius.

“Dan lagi Mas Adam, saya ini sebagai ibu, meskipun baru beberapa bulan, sering ngeri melihat anak-anak seusia Mas Adam turun ke jalan dan membuat kegaduhan di jalanan. Mungkin itu memang salah satu cara menyampaikan aspirasi, tapi saya takut cuma berenang dipermukaan, tanpa sadar bahwa ada satu skema besar dibawah permukaan, yang menjadi inti persoalan sebenarnya, tapi tak pernah kita sentuh.” 

“Maksudnya bagaimana buk? “

“Sebelum kita melakukan sesuatu sebaiknya kita koreksi dulu, agar kita tidak dimanfaatkan oleh orang lain.”

“Iya buk, banyak sih yang seperti itu.”

“Ngeri loh Mas Adam, kita terjebak dalam kubangan yang tanpa sadar kita bikin sendiri. Contonya begini, ada seorang penjual barang yang berniat jelek, memberikan informasi kepada pembeli bahwa barang jualannya paling bagus. Si pembeli orang yang cerdas, dia tau info itu menyesatkan. Daripada mengambil resiko membeli barang-barang yang tidak jelas, si pembeli akhirnya memutuskan untuk mem pending dulu niat belinya, menunggu sambil melihat situasi. Bisa dibayangkan akibat rentetannya dari informasi palsu tadi, Penjual yang jujur dan benar benar menjual barang yang bagus akan menjadi korban akibat lesunya daya beli disebabkan isu-isu itu. Dan pembeli yang menunggu juga jadi korban, barang yang diidamkan jadi lambat terbeli.”

Adam mengamati bibir ibu Prativi yang menari gemulai, merekah isi semangka. Benar benar seperti oase di padang gurun. Misterius.

“Heh kok malah bengong?”

“Eh, ini mikir buk,hehe. Kalau seperti itu yang paling diuntungkan yang mana? Penjual yang bikin isu?”

“Yang paling diuntungkan adalah mereka yang bisa memainkan situasi ini dengan cerdas, dan bernasib baik,hihi.”

“Kok bisa begitu buk?”

“Cobalah membayangkan seandainya Mas Adam menjadi salah satu diantara mereka yang mempunyai dana paling tak terbatas, dan memiliki orang-orang cerdas di sekeliling, biar bagaimanapun Mas Adam pasti paling diuntungkan, karena menurutku, di dalam dunia ekonomi mereka yang datang dengan modal tak terbatas, itulah yang bisa memainkan dan memanfaatkan situasi dengan lebih variatif dan leluasa. Ingat di zaman ini, semua bisa dibeli dengan uang.” 

“Bagaimana kalau ada pesaing dengan dana tak terbatas juga, dengan orang-orang cerdas juga menghadang di depan saya?”

“Yang paling kejam, itulah yang menang.” 

“Sudah ya, aku mau ke warung sebelah, beli pisang bayi sama susu, kalau Mas Adam sedang nganggur main lah kerumah”.

Adam pun mengangguk pelan dengan tetap memandangi sekujur pesona yang melekat dalam setiap lekukan tubuh perempuan yang baru menjadi seorang ibu beberapa bulan lalu. Sayang, cantik, tapi selalu kesepian dirumah.

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar