Novel (T)apel Adam : Sedekah bakti anak #16



#Sedekah bakti anak#



Tak menghiraukan keadaan taman di halaman rumah, Adam pun bersandar di teras rumah dengan membaca kisah Hamlet, karya William Shakespeare,

….“Ophelia…oh.kenapa takdir tak menyatukan kita??? Hhhhh…..”

Claudius mati, Gertrude, Hamlet juga, semua mati.

“Mas, ayo ikut saya,” seseorang warga mengajak Adam.

“Kemana Pak?”

“Bisri kecelakaan di perempatan dekat patung Chairil Anwar,”

“Kecelakaan? Baik Pak, ayo.”

Adampun bergegas menuju jala raya yang di belah empat tersebut, jauhnya jalan tak terasa, dinginnya sergap angin tak mengapa, hitamnya langit tak mengahalang, kaki terus saja bergerak lurus menuju pusat keramaian malam itu, tepat di samping patung penyair “binatang jalang” tersebut kerumunan warga sedang mengelilingi seonggok tubuh perkasa pemuda, Bisri seorang pemuda lajang teman semenjak kecil Adam sedang tengkurap diatas linangan darah kental berwarna sedikit hitam, sambil sesekali megap-megap memuntahkan sisa darah didalam mulut, muncrat muntah, Adam langsung mendekap, ditaruhlah tubuh sahabat semenjak kecilnya di pangkuan, darahpun membanjiri pakaian Adam. Kepalanya terbentur patung dan jatuh tengkurap, di garis ubunnya terlihat seperti sayatan yang mengeluarkan cairan putih kental, tengkorak kepalanya retak. Bisri keluar dari rumah pukul 18.00 WIB, menuju arah selatan untuk menghampiri tempat penyimpanan uangnya, ATM, sekembali dari mengambil uang ada sepeda motor dari arah berlawanan yang dikendarai 3 orang pemuda tak dikenal, bukan pemuda sini, tiba-tiba dua sepeda motor itupun beradu tak terhindarkan, sama-sama dengan kendali kencang. Adam tak sampai hati, bersama para warga diangkatlah ia ke Ambulans, langsung ke rumah sakit, ditengah jalan nyawanya sudah keluar dari tubuhnya, Bisri tak tertolong, Tak disangka umurnya tidak sepanjang angan-angannya, dengan benturan hebat di kepala, membuat isi dari tengkorak bercucuran keluar, dengan arahan pihak rumah sakit supaya mayatnya dimandikan sekalian disitu, akhirnya keluarga yang dirumah pun mengiyakan, karena sang ibu pun sedang sakit strook, tak mungkin melihat mayat anak laki-lakinya pulang ke rumah dengan penuh lumuran darah, Bisri semenjak tamat SMP berpisah dari Adam mengadu nasib di Kalimantan, di daerah penambangan emas, sudah lebih dari 12 tahun, namun sesekali lebaran dia pulang, juga setiap bulannya tak lupa berkirim uang ke rumah, sehingga rumah yang dulu hanya tumpukan kayu berbentuk kubus itu sekarang sudah seperti istana, berkat keberhasilannya di luar jawa, baru sekitar satu minggu ini dia pulang ke rumah, berniat ingin mempersiapkan pernikahannya, tak disangka kembang mayang pun hanya ia dapatkan bersama dengan berangkatnya keranda ke pemakaman, Adam merasa seperti mimpi, tak mungkin teman semenjak kecilnya mendahului kepergian dengan umur yang sebegitu muda, selesai dimandikan mayat Bisri dibawa pulang, sesampai dirumah keluarga segera minta jenazahnya dikebumikan, apalagi takut kalau sampai sang ibu melihat jenazah anaknya, pasti tidak pernah bisa menerima, seperangkat persiapan pemakaman pun disiapkan, juga kembang mayang double untuk melambangkan dia masih lajang, pernikahannya diselenggarakan di alam lain, kembang mayang mengingatkan. 

Pak Samsul berpesan untuk tidak keras-keras dalam melakukan segala persiapan pemakaman, meskipun dalam kondisi berkabung sebisa mungkin tetap tabah, apalagi jika ada suara keras, istrinya yang sedang sakit akan bangun dari tidurnya, lalu akan mempertanyakan keramaian yang terjadi dirumahnya, para warga pun mengiyakan permintaan Pak Samsul, setelah upacara kesaksian yang berisi pertanyaan bagaimana tingkah laku Bisri selama hidup kepada seluruh hadirin pelayat, jenazahpun segera diberangkatkan ke pemakaman, para sanak saudara tak kuasa menahan tangis, setelah keluar dari komplek perumahan suara pelayat pun bergemuruh, memecah keheningan malam, begitu baiknya jenazah sehingga seluruh yang ditinggal merasa kehilangan, jika saat kelahiran Bisri seluruh keluarganya bersorak bergembira berpesta ala kadarnya syukuran tumpengan, tapi kali ini berubah menjadi kepiluan, saat kita masih bayi tangan kita menggenggam erat dan menangis, seakan kita akan menggenggam seluruh bumi juga isinya ditelapak tangan, dengan jumawa juga kecongkakan, tetapi ketika nyawa sudah tak dikandung badan, telapak tangan yang dulunya menggenggam erat berubah mekar lemas tak berdaya, tak satupun materi dunia kita bawa, semakin mendekati tempat pemakaman suara gemuruh tangis pun tak juga berkurang, semakin melengking tak terkira, sekian banyak harta yang dimilki oleh keluarga Pak Samsul sekarang adalah buah dari jerih payah anak laki-lakinya tersebut, entah sedekah ataupun kewajiban yang ia wujudkan, tapi sekarangpun nyawanya masuk dalam daftar sedekah, untuk tidak menikmati hasil kerjanya, keluarga yang ia cintailah yang menikmatinya. 

Kini tubuh Bisri sudah terbenam bersama suara pasir yang berjatuhan, liang lahat menjadi tempat berikutnya, ia tak akan pernah bertemu kembali dengan keluarganya, terutama ibunya, yang hanya mengetahui bahwa engkau sedang keluar untuk mengambil uang persiapan pernikahan minggu depan, ternyata pergimu tak pernah kembali ke rumah bikinanmu, hasil keringatmu, kini kau tinggal di rumah hasil bikinan warga, buah keringat para pelayat. “Semoga kepergianmu penuh dengan bahagia, sahabatku”.

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

1 komentar :

  1. Saya tertarik dan senang dengan artikel Anda.
    Saya juga punya artikel yang menarik dan anda bisa akses di Sastra

    BalasHapus