Novel (T)apel Adam : Senja di kanvas #14




#Senja di kanvas#

Klik tautan judul untuk menyimak Bab 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 Novel (T)apel Adama disini : Novel (T)apel Adam : Syahadat #1, Apel #2Ijab Qobul #3Gema lonceng #4Surat dari Pastor #5Lurah Bondronoyo #6Kembara #7Blawong #8Blawong #9Jalma moro jalma mati #10Nol Derajat #11Oase #12, Narima ing pangdum #13


“Sedang apa Za? Koq senyam senyum sendiri…”

“Eh, kamu Dam”,

“Lihat, ini senja di Uluwatu, sunset indah di Bali, senja seksi… surganya para peselancar. Plus ada kafe-kafe di tebing, Blue Point CafĂ© adalah kafe terbaik disana…apalagi sembari menikmati kala senja melihat Tari Kecak dengan 70 penari pria, tanpa alat musik pengiring, hanya paduan suara,,,oooh, syahdu nya…”

“oh Tanah Lot,…!!! religius kan….?lihat ada ular sendakepnya juga tuh, ular ini perwujudan dari selendang Dahyang Nirartha penyebar Agama Hindu disana. Dia yang jaga disitu…ada Pura nya juga disitu, tapi sengaja tidak ku gambar Pura nya, cukup ular sendakep bersama matahari terbenamnya saja…”

“sunset di Jimbaran yang kamu pegang itu,”

“simbol ketenangan jiwa, Amed ku….sunset di pantai Amed membuatku kembali hidup. Pantai yang sepi, tetapi menentramkan”.

“Yang ini kok aneh, hanya terlihat pasir-deru ombak-dan warna jingga yang mengkilat….” Tanya Adam dengan penuh penasaran.

“itu pesona dari sihirnya Kuta, pantai yang selalu ngangenin…”

“alah, lebay kamu...lukisan senja mu banyak sekali, jangan-jangan kamu gak bisa cari view yang lain ya?”

“Aku lebih suka sunset daripada sunrise”, 

“kenapa memangnya?” 

“Sunset penuh gairah kepasrahan, perenungan, sunrise penuh ambisi kesombongan, kebohongan, seakan-akan memberi semangat, gombal itu, fajar kadzib. Penipuan itu pasti diawali dengan yang manis-manis, sok santun, dan seabreg kelicikan, lihat saja para koruptor itu, Bajigurrrr…..masak waktu dipersidangan langsung pakai kopyah, pakai hijab, bawa tasbih, emang tutup kepala pelindung dosa?…hghghghgggg….”

“…Reza.., Reza, kamu itu ada ada saja, kenapa kamu senang melukis?koq tidak menekuni bidang yang lain?misalnya desain grafis atau jadi admin di perusahaan mana begitu, kamu kan sarjana dibidang itu,” 

“bagiku melukis merupakan gaya hidupku untuk bisa mengenal Tuhanku, setiap goresan di kanvas bagiku cahaya yang merangkap diriNya. Seakan-akan aku seperti para penari Darwis yang memutar berkeliling sambil merenungi akan ciptaan sampai kematian, kopyah merah tinggi melambangkan batu nisan, sedangkan gamis putih perlambang kafan pelengkap akhir kehidupan. Kalau catku sudah tumpah dikanvas seperti proses semprotan hujan penyubur benih ketika senggama seseorang, ingat!! Aku bukan pembuat benda untuk sesembahan, bukan pengukir Manath-Hubal-Uzza maupun Latta, aku menikmati proses penciptaan Tuhan dalam guratan cat. Absurd lukisanku atau abstrak karyaku bukan lantaran frustasi mengelilingiku, tetapi aku sedang menyampaikan kabut dan gelapnya anggapan orang tentang hidup, tentang orang yang takut akan hari esoknya, tentang pemuda yang melamun masa depannya, tentang pedagang yang sedang mengalami gulung tikar usahanya, tentang ketidak adilan sosial yang sering mendera, tentang tragedi siswi SMA yang gantung diri setelah gagal dalam UNAS, dan semua tentang hiruk pikuk pekat hitam kehidupan. Jika semua orang memprasangka buruk kepadaku tentang profesi melukisku maka terserah, karena mereka yang sudah memberikan telunjuk kepadaku sembari mencemoohku adalah mereka yang sudah tertutup penglihatannya, justru mereka setiap hari asyik melihat lukisan yang lebih merusak, media elektronik itu adalah gambar, gambar yang bergerak, bergerak dengan membawa misi penghancuran massal, intrik-fitnah-emosi-dan angkara murka menjadi bumbu pelengkapnya, gurih sedap sekaligus mencandu”.

Byiaaaaaaar…..grodog grodog grodog,,,,,

“loh koq kamu siram kanfasnya?”

“ya ndakpapa, bagaimana?putih lagi kan?bersih lagi kan, saya siram kanfasnya pakai cat putih, kadang saya semprot pakai warna netral, ya begitulah Tuhan merubah seseorang, bisa cepat bisa lambat. Para pendakwah yang sering ceramah itu kan bilang I’maliddunya kaannaka ta’iisyu abadan wa’malil akhirota kaannaka tamutu ghodan, beramallah-bekerjalah untuk dunia seakan akan kamu hidup selamanya, dan beraktifitaslah tentang keakhirotan seakan-akan kamu mati besok. Yang disampaikan penceramah kan kalau sedang bekerja maksimalkan dan etosnya selalu ditingkatkan, bekerja yang semangat karena hidup selama-lamanya, dan beribadahlah kamu yang khusyu’ karena Izrail sudah prepare dan gladi bersih untuk pelaksanaan pencabutan nyawamu besok pagi-pagi sekali. Kalau menurutku bukan seperti itu makna nya, tetapi bekerjalah sewajarnya karena masih banyak waktu panjang tersedia, hidup masih lama ndak usah ngoyo-ngoyo, tetapi beribadahlah setiap hari karena sewaktu-waktu densus kematian siap datang menyergapmu dengan berbagai cara dan waktu yang tidak bisa engkau prediksi”.

Reza terus berbicara tanpa berhenti, seperti seorang pendakwah yang pidatonya menggebu-gebu. Sampai melupakan untuk mempersilahkan Adam duduk.

“Sayang, gimana to kamu itu, tamunya kok tidak disuruh duduk.” Sahut istri Reza.

“Ow iya, silahkan duduk..maaf tadi terlalu bersemangat, soalnya sebentar lagi juga ada orang yang mau kesini mengambil lukisan.” Sahut Reza.

“Dik’ tolong buatkan minum ya..” pinta Reza kepada istrinya.

“Iya, kopi, teh, atau sirup sayang?” jawab istrinya.

“Kopi dua, yang satu gulanya sedikit saja.”

“Bagaimana pesananku kemarin? Sudah jadi apa belum.”

“Sudah selesai. Tetapi masih menunggu kering, hari ini mendung tak henti-hentinya menyelimuti langit,”

“Ngomong-ngomong siapa nanti yang akan datang kesini?”

“Seorang perempuan, perawat rumah sakit. Dia kemarin memesan lukisan untuk hadiah ulang tahun ibunya. Nanti di ambil.”

“Minta gambar apa?”

“Gambar ibunya sendiri. Ibunya seorang pengusaha Karoseri, usaha yang dirintis bersama suaminya 30 tahunan yang lalu. Sebentar lagi mungkin dia datang, katanya jam tiga sore mau kesini. Ini kan sudah setengah tiga.”

“Ini Sayang kopinya, yang ini kopi biasa, yang ini sedikit gulanya untuk kamu.” Sembari menyodorkannya.

“Ayo diminum!” pinta Reza.

Sesekali Reza menengok jam dinding yang melekat diatas lukisan kaligrafi berwarna ungu, sembari memandang jam tersebut diraihnya ponsel yang tergeletak layu diatas meja yang berada didepannya. Tiba-tiba ponsel pun bergetar dan menimbulkan tulisan yang berisi pean baru dari Arina Manasikana. Pesan tersebut berisi tentang kabar bahwa dia sudah dekat dengan lokasi rumah Reza dan meminta Reza berdiri dipinggir jalan untuk memudahkan dia segera menemukan rumah tersebut. 

“Aku kedepan dulu, Mbak Nana sudah hampir sampai, tapi dia belum pernah kesini, foto ibunya kemarin dikirim via whatsapp.” 

“Ini Mbak Nana gubuk reot saya, silahkan masuk. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk singgah disini. Dan kenalkan ini teman saya, namanya Adam Sambada.”

“Iya Mas Reza, saya yang seharusnya berterima kasih kepada sampean karena sudah mau saya repoti. Mas Adam, salam kenal saya Nana, Arina Manasikana.“

“Salam kenal juga Mbak.” Balas Adam.

“Bagaimana Mas pesanan saya, sudah jadi kan?” Tanya Nana.

“Sudah, ini Mbak.”

“Wah, sudah dicover juga, berarti tidak perlu saya bungkus lagi.Ya sudah Mas, terima kasih banyak, saya tidak bisa lama-lama disini, soalnya sebentar lagi saya harus kembali ke rumah sakit ada pekerjaan yang belum rampung, harus mengganti jam teman saya yang sedang ke luar kota. Sedangkan sebelum senja saya harus tiba dirumah untuk memberikan lukisan ini, jadinya harus ngejar waktu nih.” Keluh Nana.

“Begitu ya Mbak. Baiklah hati-hati dijalan ya,”

Nana pun tanpa duduk sebentar dia langsung pamit untuk segera kembali ke rumah sakit.

Reza dan Adam pun melanjutkan bincang-bincang yang sempat terputus sedari mulai datangnya istri Reza tadi.

“Istrimu masih bekerja di pabrik rokok Bentoel?”

“Iya, sebenarnya dia juga ingin berhenti dari sana, aku juga berharap begitu, semenjak kandungannya mulai menua kekhawatiranku pun menjadi tak terkontrol.”

“Biasanya setelah selesai melukis kamu memotretnya untuk mengenang karya-karyamu, coba aku ingin melihat!” pinta Adam.

Adam pun membuka file gallery foto di ponsel Reza.

“Masih muda begitu, kelihatan segar dan cerah wajahnya. Mungkin sering mengkonsumsi sayuran, plus sering perawatan juga, masih stylis meskipun usia beliau sudah separuh abad lebih. Ini gambarnya duduk di depan mobil sambil berpose mebawa payung hitam. Belakang mobilnya kok ada bangunan rumah sakitnya? Katamu beliau pengusaha Karoseri?”

“Iya, memang. Rumah sakit itu mewakili anaknya, Mbak Nana kan kerjanya di rumah sakit itu.”

“Oh.” Sambil tetap menatap foto lukisan itu dalam dalam.

“Ada yang janggal dalam lukisanmu ini.” Telisik Adam.

“Apanya yang janggal? Tidak ada yang janggal menurutku, biasa. Seperti lukisan-lukisanku yang lain.”

“Coba perhatikan, mana kakinya? Tidak ada.”

“Itu memang beliau sedang ku lukis layaknya seorang pengantin yang memakai gaun, jadi gaun tersebut panjang bawahannya menutupi kaki, sehingga yang terlihat bukan kaki tetapi panjang gaun yang mencium bibir tanah.”

“Gaun kematian? Beliau itu sudah tua, bisa bisanya kamu setelkan gaun hitam ditubuhnya.” 

“He, hati-hati bicaramu.”

“Kejanggalan lukisanmu ini tak nampak seperti biasa,”

Sementara Nana pun berupaya cepat menyelesaikan tugas di rumah sakit dengan semangat ingin segera pulang, karena sebelum sang surya tenggelam di peraduan mega maka ia harus menyerahkan bukti dan tanda kasih sayangnya kepada ibu tercinta yang akan merayakan ulang tahun di malam itu. Memang tidak akan ada pesta mewah yang akan di rencanakan Nana, tetapi sebuah kejutan. Juga untuk menghibur kerinduan hati ibunya kepada ayahnya yang sudah mendahului kepergian untuk selama-lamanya.

Nana pun segera mempercepat gas kecepatan mobilnya, agar segera sampai rumah. Setiba dirumah Nana tak menjumpai keberadaan ibunya, tak seperti biasanya sore itu ibu Nana keluar dengan mobil sedannya, setelah melihat mobil sedan yang biasa di parkir di depan rumah tidak ada Nana menyangka ibunya sedang jalan-jalan sore atau mungkin ada keperluan lain. Ponsel Nana pun bergetar, ternyata ada telepon dari ibunya.

“Kamu masih di rumah sakit?, saya sengaja mau jemput kamu, ayo kita keluar mencari Rawon Nguling”

Belum sempat Nana menjawab pertanyaan dari ibunya tiba-tiba terdengar suara teriakan dari ibunya disertai suara benturan yang keras. Ponsel pun langsung mati.

Tanpa fikir panjang Nana pun secepat kilat kembali ke rumah sakit, perasaan was-was pun terus menyelimutinya disepanjang jalan. Jarak 200 meter tepat didepan rumah sakit polisi lalu lintas dan pengguna jalan memadati area tersebut. Nana pun berlari keluar mobil sekencang-kencangnya, ia dapati ibunya bermandi darah tepat didepan mobil sedannya, kedua kakinya putus tersangkut dibawah ban mobilnya. Seorang saksi menyampaikan ibu itu tadi sedang berdiri didepan mobil menelepon seseorang sambil sesekali menoleh ke rumah sakit, tanpa disadari ada pengemudi mobil yang mengantuk datang menghantam dari arah berlawanan. Mobil yang menabrak berisi alat rias pengantin yang akan dikirim ke Surabaya.

Nana pun tak henti-hentinya menangis, sampai sesaat sebelum diberangkatkan ke pemakaman Nana belum juga bisa menghentikan derasnya air yang keluar dari kedua matanya. Lukisan yang akan diberikan untuk kado ulang tahun yang ke 57 pun dipeluknya erat. Setelah pemakaman berlangsung pun lukisan tersebut belum juga di buka bungkus penutupnya.

Setelah hamparan tanah yang engkau berikan kami jadikan sajadah, 

Izinkan kupeluk senja sebagai selimut ratapan hidup yang tak kunjung padam……

Kedip matamu melambangkan itu.

Matahariku, hilang dibawah garis Cakrawala barat.

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

1 komentar :

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai seni. Seni merupakan suatu aspek yang sangat perlu diperhatikan dalam berbagai hal. Saya memiliki beberapa tulisan sejenis mengenai seni yang dapat dilihat di www.ejournal.gunadarma.ac.id

    BalasHapus