Novel (T)apel Adam : Surat dari Pastor #5



#Surat dari Pastor#

Klik tautan judul untuk menyimak Bab 1, 2, 3, 4 Novel (T)apel Adama disini : Novel (T)apel Adam : Syahadat #1, Apel #2Ijab Qobul #3Gema lonceng #4

Uang kembalian dari pembayaran jasa cuci cetak foto segera dimasukkan ke saku jaket bagian kanan, terasa ada yang mengganjal di saku jaketnya, lembaran uang tak akan membuat ganjalan yang seberapa disaku. Setelah dikeluarkan, muncullah lipatan dari kertas amplop besar berisi tulisan tangan yang tegak bersambung, sedikit melingkar-lingkar khas dokter pemberi resep sakit menahun yang meminta untuk ditebus obatnya di apotek yang sudah diarahkan, apotek kolega bisnis penambah recehan buat jajan anak dokter, biaya sekolah dokter mahalnya selangit jadi sebisa mungkin tinta hitam yang keluar harus membantu merealisasikan konsep dasar ekonomi, modal sedikit laba melimpah.
Surat dari Pastor masih terselip di saku jaket.
Setahun sudah kenang pertemuan dengan seorang Pastor, seorang Rohaniawan Katolik yang berbudi luhur berperangai halus, pernah mengirimkankan sepucuk surat tulis tangan yang dimasukkan rapi dalam amplop cokelat, tulisan tangan dari seorang pemimpin jemaat yang taat, sekian bulan yang lalu.
Untuk Adam Sambada,
”Gloria in excelsis Deo, pax hominibus.”
(kemuliaan bagi Allah dan bagi umat manusia).

Bagaimana Nak kabarmu? Semoga Allah selalu menyertaimu dengan segala keberkahan, luput dari kesialan, selalu dituntun menebar benih cinta juga menyiraminya setiap kala, bukan hanya musim gugur saja. Terima kasih ku ucapkan, karena kau telah menemaniku selama satu bulan untuk menghabiskan umurku, umur yang telah di vonis akan diambil pemiliknya 30 hari setelah itu, tepat dimana tanggal itu kamu akan beranjak dari kota Jakarta, kota yang tidak akan hanya memberimu kenangan, tapi seribu angan impian dari masa studimu. Atau  kalau ada bonus kehidupan maka umurku diperpanjang 7 hari menurut dokter ahli, karena penyakitku sudah stadium 4, warta dari dokter yang kita kunjungi berdua. Setelah meninggal mungkin aku tidak akan bertemu lagi denganmu, tetapi aku bahagia telah memberimu sebuah cerita cinta masa laluku, masa muda sebelum aku resmi di baptis. Cerita ini yang sering kau tanyakan, kau bertanya apakah aku pernah jatuh cinta? Ku tak pernah menjawabnya, mengangguk pun aku tak pernah. Di surat ini kutulislah uraian ku tentang cinta ku dimasa muda dan cintaku dimasa kini. Cinta yang menjadi gumpalan keimanan sehingga aku memutuskan untuk selibat layaknya Brahmacari, ku beritahu engkau tentang Alexandria, perempuan mancung berambut pirang. Mengenakan liontin ungu di leher putihnya. Jemaat Gereja yang taat juga patuh untuk selalu hadir dalam kebaktian, selalu mendengar pesan nubuat yang disampaikan Imam. Selalu bersemangat dalam Liturgi, juga tak pernah telat saat datang pada perayaan Ekaristi. Awalnya memang ku mengira hanya cinta seekor monyet yang bergelantungan dipohon yang sesekali akan pindah kepohon lain, sekadar memuaskan olahraga rutinnya fitness kebugaran dengan ayunan-ayunan tangan, tetapi tidak, rasa itu semakin bersemi penuh dalam relung hati bak bunga yang memenuhi karangan, bagaimana aku akan memunafikkan rasa alamiku ini?akankah kusangkal kedatangan sosok mahluk Allah yang menjelma dalam jasad Alexandria, senyum ceria ,langkah kalem, anggukan anggun, seakan pesona Cleopatra menitis padanya, percikan sungai Nil memenuhi kelopak matanya sehingga retinanya memancar biru. Bagiku waktu itu akan memberikan sebuah harapan setidaknya aku akan mengatakan sesuatu hal penting dalam keadaan asmara muda ku hari itu. Sedang waktu itu juga maraknya konflik antar sesama yang mengakibatkan beberapa rumah ibadah menjadi sasaran, termasuk rumah ibadah kami, tentang peristiwa berdarah itu sudah pernah kuceritakan kepadamu. Pembakaran rumah ibadah itulah yang membuatku tak pernah merasa tenang setelah hari itu, hari yang sudah tak kuingat tanggalnya dengan jelas, sementara hanya umur yang kuingat sekitar 24 tahun umurku waktu itu. Tak ada satupun yang mengaku dan tertangkap siapa pelaku juga dalang dari peristiwa memilukan  di sabtu sore itu, pihak keamanan juga pemerintah belum memilki bukti-bukti yang kuat, singkat cerita , tragedi itupun menguap dimakan usia juga waktu, seperti umurku yang ketika kutulis ini sedang menanti masa akhir hari-hariku. Adam kau tahu bukan betapa aku mengimani Allah, kau tahu juga betapa aku mencintai sesama. Yang engkau tak tahu keberadaan gadis jelita bernama Alexandria, dia terlalap api ditengah hancurnya puing-puing bangunan gereja di hari itu, bersama itu pula hatiku hancur meledak tak tertahankan, seakan bom waktu terpasang didalam songkokmu, peci hitammu maksudku, yang selalu kau pakai setiap kau sembahyang menghadap kebarat sedikit serong ke utara beberapa derajat, itu kiblatmu. Sampai aku bertemu dengan  Romo Wijaya Pr., Pr.adalah singkatan dari Praja, Praja atau Imam Praja adalah tittle resmi setiap Imam Diosesan di Indonesia. Romo Wijaya memberikan sentuhan kasih sayangnya seakan membelai rambutku tiada henti, belaiannya pun masih terasa sampai sekarang, meskipun beliau telah berpulang. Dirawatnya aku dengan segenap kesabaran juga ilmu beliau yang diberikan, sampai aku resmi dibaptis saat itu. Setelah itupun aku tak pernah memiliki kisah cinta dengan seorang wanita maupun gadis belia. Bagiku sekarang, atau sebelum kematianku datang cintaku untuk banyak orang yang aku gembala, sebagaimana cinta Yesus terhadap umatnya, hidupku hanya untuk melayani, melayani umat dengan penuh cinta kasih. Begitu pula agamamu juga mengajarkan cinta kasih sesuai yang dicontohkan Nabimu Muhammad. Aku salut dan memberkatimu tentang pendapatmu yang pernah kau sampaikan bahwa cinta kepada sesama sangatlah agung maknanya, tanpa membedakan agama-profesi-jabatan maupun sekat-sekat lain yang membuat kita terpenjara, cintailah mereka dengan penuh dalam. Maka cintamu akan membawa dirimu menuju cinta Allah. Aku lupa belum menanyakan kepadamu, masih  ingatkah jaket hitam yang aku berikan padamu?saat terakhir kau berpamitan untuk meninggalkan ibu kota, semoga itu menjadi kenangan terakhir  dariku untukmu. Warna hitam jaket itu bukan berarti aku mendoakanmu  menjadi hitam hatimu, tetapi aku ingin kau tetap seperti  kuatnya batu hitam, kuatnya keyakinanmu dengan agamamu, kuatnya cintamu kepada sesama. Sebetulnya aku kikuk dan canggung ketika pertama kali aku kau ajak berkenalan di Driyarkara dulu, waktu itu aku usai mengisi salah satu kuliah disana, aku sungkanan orangnya, begitu pula kau yang tak begitu banyak bicara tetapi sekali bicara ucapanmu seperti belati, menusuk tajam, kukira perkenalanku denganmu tak bertahan awet, ternyata sewaktu aku dirundung sakit setiap hari kau temani aku, sampai kontrol dokterpun kau mengantarnya. Kau tak pernah bercerita tentang keluargamu, tetapi kau hanya menyampaikan bahwa keluargamu taat beribadah, ayahmu kiai, itu saja. Semoga keluargamu juga senantiasa dalam perlindungan. Maukah kau nanti mendoakan ku ? atasnama sesama manusia, sesuai kesepakatan kita untuk saling mendoakan sebagai bukti pernah hidup bersama meskipun sesaat. Doamu akan menyertai kepergianku, ketika surat ini sampai di rumahmu, alamat yang pernah kau tuliskan di pesan singkat sebelum  kepulanganmu, karena ketika kau pamit aku lupa menanyakan tentang alamatmu, sehingga ku berkirim sms kepadamu, setelah kau menulis alamatmu, 3 hari kemudian ku kirim surat ini ke alamat itu. Semoga surat itu sampai. Ketika surat itu sampai, kemungkinan masa hidupku sudah berakhir. Aku senang sempat bertemu denganmu, kau hebat. Semoga sekali lagi perlindungan Allah selalu menyertaimu. Kedatanganmu dalam akhir kehidupanku membawa kedamaian yang tak terkira. “Berbahagialah orang yang membawai damai, karena mereka akan disebut sebagai anak-anak Allah.” (Injil Matius  Pasal 5:9).

Terima kasih.
Romo Adhi Wibowo, Pr.

Tak terasa mata Adam berkaca-kaca, meluber ke pipi dan kiri kanan pelipisnya. Tak sanggupnya ia menahan kesedihan mengenang peristiwa pengiriman surat sekaligus kabar kematian Romo Adhi tersebut. Meskipun kabar, surat, juga jaket itu sudah berlalu. Tapi hatinya pilu, dan merasa rindu dengan kenangan lalu.


Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.

Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar