Novel (T)apel Adam : Syahadat #1




#Syahadat#
…dari titik nol itulah semua akan dimulai, dan kembali..

Matahari berjarak ratusan depa dari tempat Adam berdiri, udara masih sama, masih tetap malu-malu, datang sesekali, menghembus pelan, sepertinya ragu. Menebarkan angin dingin  tak beraturan, membuat beku  kepala, membekukan otak, susah untuk berfikir, apalagi sekadar berimajinasi. Sulit.

Padahal, konon ada nasehat bijak, di tempat sejuk seperti inilah aliran darah ke otak menjadi lancar, sebab otak seperti di re-fresh setiap saat, eh yang terjadi malah terbalik, Sejuk ini telah mengeram membuat tubuh menggigil. Re- loadnya malah lambat. Muter tapi loading terus. Lemot,  beku dan hampir macet.

Lalu seperti lambatnya waktu, membayangkan jadi turis bermata biru, dikayuhnya sepeda tua milik ayahnya, kurang lebih seperti inilah style turis-turis itu, menghayati sepenuh hati kehidupan lokal yang bersahaja. Menikmati realitas, kesederhanaan hidup yang selama ini hanya mereka tonton di channel TV dan foto foto art tentang realitas dunia ke tiga. Konon mereka orang–orang kaya di negaranya, siapa yang peduli? Persamaan kita dengan mereka cuma satu untuk saat ini, jenuh.

Re-fresh, refreshing.

Diajaknya sepeda tua bertulang belakang itu keliling bukit, gunung dan Coban, melewati pertigaan dan perempatan, Akhirnya, setelah beberapa jam hikmahnya mulai dapat, keringat Adam pun mulai keluar. Menghangat di tengkuk dan ketiak. Lumayan untuk pemanasan olah raga pagi menjelang siang. Sekadar catatan saja “pagi “ bagi pemuda yang menganggur menunggu kisah kehidupan yang berlanjut adalah waktu disaat baru bangun dari tidur, walaupun jam sebelas siang.

Memasuki Kota Wisata Batu, dinginnya mulai terasa, beda, dingin segar sedikit basah, bukan dingin yang lembab. Terlihat pemandangan hijau-hijau berdesak-desakan, berjajar rapi dipinggir jalan. Seperti menyapa para pelancong dari negeri manca, ”Welcome, Sir .” Ramai sekali.

Dibelokkannya sepeda untuk masuk ke kebun apel milik Pak Nur Cahyo, dikebun tersebut terlihat seorang petani tua kebun apel yang istiqomah menjalani pekerjaannya berseni, seni tanam apel dikebun, maksudnya. Ia terlihat seperti profesor apel bagi seseorang yang baru kenal atau mungkin bertemu satu kali saja, tak banyak bicara tapi banyak belajar, mempelajari apel. Sepenuh hati dan fikiran. Hanya ada apel, apel, dan apel di hidupnya. Itu sebabnya sang istri lebih memilih tinggal di Jakarta menemani anak semata wayangnya kuliah di UI, kampusnya para pemuda yang ber almamater kuning, Adam juga pernah beberapa tahun mengenyam pendidikan di ibu kota. Praktis Pak Nur Cahyo sendirian. Pas, seperti  kisah hidup profesor dalam cerita klasik. Profesor Calculus misalnya.

Re-fresh, refreshing.

Dengan buram, Adam melihat seluruh buah apel tersenyum riang sembari melambaikan tangan, Merah–merah menyala agak semburat mengkilat dan kuning menggoda. “Ayo petiklah aku, ambillah aku, jadikanlah aku menu mu hari ini.”

Imajinasi Adam bergeliat menari. Tak sadar Adam masuk ke dalam bayang cerita, Adam-Hawa yang tergiur buah di Surga.

Konon di masa dulu yang jauh sekali, pasangan Adam–Hawa digoda Azazil untuk memakan buah itu, buah yang  pantang dimakan penghuni surga , Khuldi namanya. Rayuan si Azazil sangat ulet, licin dan halus, semenarik iklan di TV, atau mungkin sehalus strategi politik pemenangan paket MD3 digedung Kura-kura Nusantara baru-baru ini. Hawa pun luluh dan tergiur, namanya wanita kalau ada yang kinclong dan mengkilat rasa terus berkecamuk untuk memegang dan kemudian berharap ingin memiliki, hilanglah larangan dalam kamus besar surga loka versi Hawa. Hawa melahap dua biji Khuldi, entah kenapa dua-duanya tidak sampai turun ke perut, tapi malah berhenti di dada, menjadikan tanda di tubuhnya, satu di kiri dan satu lagi di kanan, kelak dengan tanda itu kita menyebutnya wanita. Sampai saat ini.

Adam hanya memakan sebiji, itupun juga menjadi masalah baginya, nyangkut ditenggorokan, berhenti dan tak bisa turun lagi. Macet. malang tak bisa ditolak mujur tak bisa direngkuh, makan satu sudah terkena tegur. Maklumat.
Sebenarnya, kenapa Tuhan melarang Adam-Hawa memakan buah itu?

 “Yang jelas, daripada buah Khuldi masih mending buah apel”, kata Pak Nur Cahyo,

”Kalau dimakan langsung sampai di perut, nggak pakai nyangkut-nyangkutan, tapi ya harus dikunyah dulu sampai lembut, baru ditelan, jangan utuh langsung ditelan, sekecil-kecilnya apel juga akan jadi masalah kalau ditelan utuh, mungkin begitu.”

Iya sih, bisa jadi kemungkinan yang sangat  menarik. Mereka menelannya lan-lanan tanpa dikunyah dulu.

Makanan lembut memang baik untuk pencernaan. Dulu bahkan ada anjuran cara makan yang baik, kunyahlah sampai 30 kali baru ditelan, menurut teori cara itu yang paling bagus dan dibenarkan buat merawat organ pencernaan, kalau tidak percaya silahkan dicoba.

Kembali ke cerita Adam Hawa,

Diceritakan, konon Iblis si penganjur makan buah, sebelum mendapat murka Tuhan, ia adalah malaikat yang paling taat, yang paling berbakti, juga paling berbakat. Maka diantara semua malaikat, ia jadi primadona dan paling sakti. Karena kelebihannya itulah, pada suatu masa, saat dunia mengalami krisis kepemimpinan, alias membutuhkan pemimpin, Tuhan berkenan memberikan kuasa, menjadikannya penguasa dunia, waktu itu. Sebagai hadiah dan anugerah, nikmat Tuhan yang diberikan  kepada hambanya yang sangat disayangi.

Namanya masih Azazil, belum berubah menjadi Iblis. Begitulah nama yang tertera di Surat Perintah dan surat keputusan dari Tuhan, pada masa itu.
Sebagai pemimpin dunia yang baru, pemimpin langit tujuh lapis, ia sangat menikmati anugerah besar  itu. Sungguh, pemberian mandat yang luar biasa baginya. Hobinya mengembara seperti mendapat angin segar, restu dari Tuhan. Hari-harinya dihabiskan untuk  berkelana, travelling memeriksa semua celah langit. Banyak hal baru yang ia dapatkan dan pelajari. Tak berbilang sudah jumlah tempat yang sudah dia jamah. Begitulah, betah berlama-lama di satu tempat. Berpetualang sampai lupa pulang. Krasan.

Lalu Tuhan berkenan menciptakan Adam, makhluk baru, dari tanah tujuh rupa yang diambil dari bumi, melalui perantara malaikat Izrail, kelak karena sukses menjalankan tugas inilah, Izrail mendapat mandat Tuhan, bertugas mengambil nyawa manusia sampai hari kiamat nanti. Bergelar, malaikat pencabut nyawa. Seram sekali, padahal tidak dicabut, tetapi dielus-elus diajak meneruskan kembara suci di alam lain.

Di kejauhan sana, dalam pengembaraannya, Azazil mendengar kabar ini. Dan seperti malaikat yang lain, Azazil pun  mendapat titah untuk sujud bakti menyembah Adam, pada mulanya.

Hari itu Jum’at, hari Pisowanan Agung, hari kegembiraan bagi semua makhluk. Prosesi penciptaan Adam telah sempurna, sesuai ketetapanNya. Semua malaikat diperkenankan melihat dan memeriksa , termasuk Azazil. Rata dan sama, semuanya kagum. Adam memang berbeda.

Lalu, datanglah saat dramatis dan haru itu. Azazil mendapat  murka Tuhan. Tak lagi patuh, sebab tak mau sujud. Padahal Adam sudah berdiri di depannya. Entah apa alasannya, hanya dia yang tau.

Pembangkangan yang dilakukannya berakibat amat fatal. Azazil berubah menjadi Iblis. Dijuluki Iblis Laknat. Semua kejelekan mewujud pada dirinya saat itu juga. Tanggal sudah semua gelar yang baik. Seumpama jatuh masih tertimpa tangga. Sudah jelek terbuang pula. Lengkaplah Bendhunya Tuhan.
Sebagai penikmat cerita, kita hanya bisa menebak-nebak, dengan ratusan bahkan ribuan argumentasi. Mungkin, ada benarnya juga kalau Iblis menolak untuk menyembah Adam, karena Iblis tahu kalau Adam tidak berhak disembah,
Atau juga iblis merasa, nantinya  pasti akan tersisih, karena ada rival baru. Tidak lagi di anggap. Sesuai hukum alam, ciptaan ter -update pasti lebih menarik.

Tak ada yang tau kenapa begitu, kita hanya menebak, yang baru lebih sempurna. Iblis cemburu dengan kesempurnaan itu. Apakah sesederhana itu?
Re-fresh, refreshing.

Dinginnya kota ini bukan main-main, walaupun  sebenarnya pasti main-main. Lawong kita hidup didunia hanya main-main, Addunya mata’ul ghurur, menipu, tipuan belaka. Atau dengan kata lain, senda gurauan saja, kenapa harus serius. Toh Azazil sudah menjadi Iblis bermarga Laknat. Kisah klasik Adam–Hawa dari perspektif Iblis terlanjur tidak menarik. Iblis, apa menariknya coba?

“Ayo sambil dimakan apelnya.” selesai Pak Nur Cahyo mengupas sebiji, ditaruhnya dipiring, rupanya diberikan untuk Adam.
Re-fresh, refreshing.

Seperti tombol pause yang dipencet, disknya berhenti berputar, silahkan dipikir-pikir dulu yang barusan ditonton, ditimbang-timbang dulu sebelum film berlanjut.

Atau mau ke kamar kecil dulu, silahkan.

“Maaf pak, boleh saya membeli apel sedikit saja,” Tanya Adam sambil memulai memakan apel kupasan.

“Iya, boleh. Silahkan, malah kalau beli ke petani langsung seperti ini, harganya lebih murah Nak, tapi kalau sudah keluar kebun dan masuk label kelas atas, jangan tanya lagi selisih harganya.” Sambut balik Pak Nur Cahyo.
Dengan sigap tangan Adam memetik buah apel, merah kekuning-kuningan. Semburat.

“ Mau berapa kilo?”

“ Tiga kilo saja pak jangan banyak-banyak.”
Sebentar kemudian, apel sudah terbungkus masuk dalam tas plastik.

“Pak kalau boleh tanya,  apa sebab apel tanaman bapak buahnya segar dan ranum?”

“ Sering-seringlah melakukan sedekah bumi, maka bumi pun akan menjagamu.”
“Maksudnya?”

“Tuhan akan memberikan anugerah tak terhingga jika kita senantiasa berbaik dengan alam, apel yang kemarin masih berwarna hijau pekat sekarang sudah memerah, tadi malam mungkin ada tim kerja ahli yang mengecat semprot apel-apel ini, kalau bukan Tuhan, siapa lagi?”

“Apakah surga yang akan dijanjikan Tuhan seperti kebun yang kita pijak ini kira-kira? Kanan-kiri sejauh mata memandang hanya kesejukan yang terlihat.”

“Saya belum pernah ke surga yang kamu maksud Nak, tetapi kalau kita memang diciptakan disurga pasti kita akan kembali ke asal mula dimana kita dicipta. Kecuali yang tersesat jalan, pasti akan kebingungan untuk menemukan jalan untuk berpulang. Tak akan bisa kembali. Kecuali dengan kuasa Tuhan menyelamatkan.”

“Iblis maksud bapak?”

“Semuanya, siapapun itu. Iblis yang sering di umpat dan dicemooh orang sebenarnya dahulu adalah mahluk yang taat, mahluk yang sangat patuh dan tunduk, karena kesombongan yang merasuk menjadi sumber murka dari sang kuasa.”

“Apakah hanya dengan tidak mau sujud kepada Adam lantas Iblis dilaknat oleh Tuhan, sesederhana itukah drama surga yang terjadi pada saat itu? Terbesit hatiku iba kepada Iblis, karena dengan satu kesalahan saja ia tak terampuni selamanya.”

“Itu semua amrun rabbani (urusan tuhan) hak prerogratifNya, kita tidak berhak menuntut apapun akan kuasa Tuhan.”

“Apakah tidak ada setitik nila kebenaran dalam belanga Iblis? Padahal dalam setiap hal terdapat sisi baik dan buruk, di kebaikan itu ada kejelekan pula, di kejelekan sebenarnya ada kebaikan.”

“Semua yang diciptakan Tuhan hanya diperintah untuk menyembahNya, tidak lebih dan tidak kurang. Jin dan manusia diciptakan juga di perintah untuk menyembah pula. Manusia memiliki dua sisi, Jin pun juga seperti itu. Jin dan Setan merupakan satu peranakan yang kemudian membiak dan terbelah menjadi dua. Tetapi apapun itu dua hal yang berbeda tidak perlu kita risaukan, karena adanya sisi yang satu disebabkan adanya sisi yang lain. Pada akhirnya nanti kamu tidak akan mempersoalkan perlawanan tersebut, hitam putih, benar salah,semuanya adalah wujud dari keseimbangan.”

“Apakah kita tidak berkewajiban menjadi baik? Sedangkan dua sisi tersebut senantiasa hadir diantara kita. Iya memang ,beberapa orang sering mengatakan ada Jin yang patuh dan ada yang ingkar, lalu kalau boleh tau ,siapa saja yang patuh dan siapa saja yang ingkar?”

“Iya, kita harus senantiasa menuju kebaikan untuk mendapat ridhoNya, tetapi mahkamah tertinggi akan kuasa tetap akan diputuskan oleh Tuhan, Ana urid wa anta turid, wallahu fa’alul lima yurid, saya berkeinginan kamu berkeinginan, tetapi Tuhan maha berkehendak. Nenek moyang Jin yang pertama yaitu Marijan dan Marijah, mereka memiliki sekitar 64 keturunan yang akan menjadi moyangnya Jin, yaitu Maeijo, Jan, Banujan, Ijajil, Karis, Ajalijin, Handajali, Ijajil, Yalabur, Pasin, Akwari, Nulestri, Marah, Sahet, Dasim, Welahan, Jalabur, Dajal, Dajil, Senut, Nun, Dulilsutanira, Dubil, Ditblas, Lallal, Lalim, Jalarat, Buldet, Sarhas, Mihsat, Hamarah, Hawiyan, Langin, Biktab, Distar, Balal, Hambal, Kibrat, Ifrid, Ifrus, Karisiyan, Swino, Dipil, Milasar,  Asijasin, Karis sarah, Karis sarah,  Astarus, Buldyat, Dulya larat, Duwanar, Buwanarjas, Salahat, Bangan, Bangal, Yayal, Jahil, Sarbun, Sarbudanar, Mungajal, Maksum, Malrat, Mallarabad, Raja Sarabad/saraban. dan 55 keturunan yang menjadi moyang nya setan, yaitu Ijajil, Handajali, Ajali, Ajali, Aljus, Ajrak, Ajurak, Damras, Haswat, Amman, Maheran (masuk Islam ikut Nabi Nuh), Sabah, Sahlil, Sajab, Katlabat, Ngatis, Kadngan, Latbiyan, Sarsar,  Aswas, Dadjah, Hajali (lahir sehari setelah lahirnya Nabi Yusuf), Gajali (masuk Islam) Alidat, Janabar (kalah perang dengan Ifrid), Salmun, Salmusil, Aswasil, Karmus, Salmunasar, Sarngam, Jabarjus (masuk Islam ikut Nabi Sulaiman dengan syariat nabi Musa), Asngasar, Bastam, Kasras,Inrus, Kanam, Sarkasi, Girkasi, Kabiras, Giraji, Damriyat (masuk Islam syariat Nabi Isa), Memum, Mursad, Sangkan, Marikan, Karissatir, Kalbal, Kaskanijan, Aswasil, Sanasil, Kalbat, Dawisatir, Tiyruyasar, Prabu Tamimasar. Kepatuhan dalam arti sesungguhnya masih menjadi pertanyaan bagiku juga, apakah dengan pengerdilan nama dan sifat yang melekat pada setiap mahluk juga sebuah ketaatan. Maka hanya Tuhan dan mahluk tersebut yang mengerti sebatas mana kepatuhan yang telah ia laksanakan.”

“Bagaimana kita akan senantiasa beribadah dengan sangat patuh tunduk serta ikhlas jika banyak godaan yang akan menggoyahkan keimanan kita?”

“Apakah kamu hanya menyadari akan gangguan dari luar? Padahal di dalam diri kita tersimpan dan mampu menjadi berbagai figur. Tanyalah dirimu sendiri, manakah identitasmu yang sebenarnya? Tunggal ataukah jamak? Seperti di pergelaran wayang, kamu akan melihat ribuan sosok figur yang siap sedia turun gelanggang, bukan kita yang akan memilih salah satu tapi semuanya ada dalam diri kita. Itu semua adalah perlambang, agar kita menyaksikan siapa diri kita. Dan yang terpenting melihat siapa pencipta kita. Man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu, yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Jangan berlomba-lomba untuk berteriak kafir sana kafir sini, kenalilah dirimu dulu kemudian kamu akan mengenal Maha Pencipta, maka tidak akan ada sedetik waktu pun yang akan sempat berfikir mencela maupun mencari kekurangan orang lain, sebaiknya orang yang kebingungan mencari makan untuk hari esok itu lebih pantas dikafirkan, karena sama saja dengan merendahkan kuasa Tuhan. Kita semua sedang mencari jalan untuk kembali, jangan sampai kita tersesat sehingga tidak bisa hadir disaat pisowanan agung kelak.”

“Bagaimana kita bisa menyaksikan Tuhan?”

“Dengan mengenali dirimu, mencari asal mulamu, menyaksikan apapun yang akan menambah keimananmu, sebab,segala yang telah diberikan dalam kehidupan ini adalah tempat kita untuk bersaksi, semuanya menjadi alat kita untuk menyaksikan Dia. Semilirnya angin, berjalannya zat klorofil, mengepulnya awan, dan tangisan getah dari pinus akan menjadikan kita tebal dalam beriman. Syahadat lah dengan penuh penglihatan yang nyata.”

“Kalau dunia ini ibarat geber wayang, disana ada pergelaran wayang, terdapat wayang yang jumlahnya seabreg-abreg lengkap dengan dalangnya juga, menurut bapak kita itu yang mana pak? apa kita wayang, dan Tuhan  dalangnya?, dimana  posisi Tuhan?”

“Siapa yang paling hebat menurutmu? Dan siapa yang paling lemah dalam posisi tersebut?”

“Dalang paling hebat. Bisa membuat apapun yang ia mau. Wayang hanya menjadi boneka mainan, seiap waktu harus siap jika dibenturkan dengan apapun,”

“Berarti apa kesimpulanmu Nak?”

“Manusia wayang, Tuhan dalang. Kalau bapak seperti apa kesimpulannya?”

“Apakah tidak ada yang lebih hebat dari sekadar dalang? Apakah dia paling berkuasa atas terselenggaranya drama pada malam itu, apakah setiap waktu dia bisa mengadakan pergelaran, di setiap tempat bisa melakonkan tragedi, apakah tidak ada batas waktu dan batas kemampuan dari dalang? Dia datang karena di undang, dia mengabarkan lakon karena ada yang memesan, di memulai adegan karena sudah dipersilahkan, dia berhenti karena jatah waktu yang diperuntukkan baginya telah selesai, sesuai perjanjian di awal, MOU sebelum acara di malam tersebut sudah ditanda tangani, segala kesepakatan sudah di mengerti. Dia hanya melakukan apa yang akan disuruh, dia hanya mengikuti apa yang telah disepakati.”

“Maksudnya bagaimana?”

“Kamulah dalangnya, kamulah yang akan menjalankan berbagai tragedi tersebut, karena kamu sudah menanda tangani nota kesepakatanmu diawal sebelum acara dimulai, jauh-jauh hari sebelum tanggal dan waktu pelaksanaan ditentukan. Kamu sudah meng iya kan, kalau kamu menolak pasti tidak akan terjadi pergelaran tersebut.”

“Kalau seperti itu, lalu siapa Tuhannya?”

“Yang lebih kuasa dari sekadar dalang, kamu tinggal menggarap setiap lakon sesuai perjanjian.”

“Bagaimana saya akan melakonkan pergelaran jika saya lupa naskahnya?”

“Apakah naskah drama selalu berbeda dan berganti? Dari babad alas, goro-goro, sampai tutup gunungan apakah ada perubahan. Siklus kehidupan tak akan pernah berubah. Apapun yang sekarang terjadi, dulu juga terjadi, perputaran itu tetaplah pasti. ”

“Setiap zaman kan berbeda, setiap tempat tidaklah sama.”

“Apakah tepung beras, nasi, dan bubur mengaburkan pandanganmu.? Apakah kesemuanya tidaklah sama belaka. Apakah guna dari keimanan yang akan kau tampakkan.”

Sembari duduk dan menundukkan kepala, dia masih belum bisa menerima apa yang kesemuanya disampaikan oleh Pak Nur Cahyo, seakan doktrin dan segala dogma yang selama ini memenuhi kepala terlepas dengan cangkang yang bernama tengkorak. Tubuhnya lemas melunglai, layu tersapu angin. Sesekali tatapannya menyeruak masuk kedalam kebun, seakan-akan ada yang menyelinap mengintip. Secara sadar matanya pun menatap Pak Nur Cahyo yang masih seperti awal bertemu, membersihkan buah Apel yang telah berhasil dipanen pagi itu.

“Umurku tiga kali lipat umurmu Nak,”
Suara itupun segera memecah keheningan diri Adam,
Kalau kalau fikiran ini beku......
Kemana akan mengadu.......
Kalau kalau hati ini keras seperti batu.....
Pastilah asa dan harapan menjadi semu....

Beruntunglah yang masih punya nurani....
Cahayanya senantiasa memancar ditengah-tengah keheningan sunyi....

Adam merasa terpenjara dalam kesunyian, tak bisa satu langkah pun membuat dirinya keluar dari jeruji bayangnya. Ketakutan demi ketakutan pun menumpuk, akankah dia sanggup kembali kehadirat ilahi sesuai janji, ataukah akan tersesat dalam jalan yang akan ditempuh dalam kurun waktu yang tidak bisa ia tentukan. Bagaimana ia akan dipermalukan dan disidang dalam hari penghitungan amal kelak, seberapa dia merasa telah dekat melihat Tuhannya.
Awal mula pertemuannya dengan Pak Nur Cahyo tak pernah disangka akan berubah menjadi pengalaman tak terlupakan. Dia hanya menyangka bahwa seorang petani kebun Apel hanya seorang manusia layaknya petani lumrah yang memiliki pengetahuan sebatas bercocok tanam serta mengairi pesawahan dengan rutin, atau sebisa mungkin menjaga dan memastikan tumbuhannya tidak terserang hama tanaman. Ternyata praduga tersebut telah ditepis oleh percakapan ringan yang membuat mata Adam mblalak dan hidungnya seperti dicocok oleh tali layaknya kerbau dan sapi yang setiap hari giat membantu pak tani tanpa menghiraukan benda apa yang melilit lubang bernafasnya.


Semoga saja kita tidak menjadi tokoh "burung hantu" dalam hikayat burung hantu yang mengingkari matahari pada siang hari.


Tentang Penulis

Fathul H.Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang.  Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.



Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar