Novel (T)apel Adam : Tawur, ruwat #8



#Tawur, ruwat#
Klik tautan judul untuk menyimak Bab 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 Novel (T)apel Adama disini : Novel (T)apel Adam : Syahadat #1, Apel #2Ijab Qobul #3Gema lonceng #4Surat dari Pastor #5Lurah Bondronoyo #6, Kembara #7

Setelah sampai di rumah, Adam melepas penat sembari memencet tombol pesan, dilihatnya SMS yang bertuliskan:

Assalamu’alaikum, ja’alallahu lakum Minal aidin wal faizin, kullu ‘amin wa antum bikhoir, sugeng riyadin, selamat berhari raya, semoga keceriaan kita atas kemenangan ini terwakili oleh pesta balon dikampungku, maaf halal bihalal nya via sms ya Mas,….”

“Masih kusimpan SMS kiriman dari Santi, perempuan berparas ayu putih kesawi-sawian, giginya yang gingsul terlihat menggoda ketika senyumnya terbit ditambah lagi ketika berwajah sedikit nakal sambil memelas ,uuuh…pengen nyubit, yang juga takbisa ku lupa tahi lalatnya yang mungil sebesar ujung pensil menempel diantara pipi yang merekah mirip tomat ndalu dan hidung mbangirnya, bikin ngangeni.”

“Sekarang ia sudah kembali kekampung halamannya di Trenggalek.”

Setelah menempuh gelar sarjana dibidang pendidikan luar sekolah, Santi kembali ke kampung halamannya di Kamulan-Trenggalek, Adam mulai kenal saat bertemu pada perayaan festival malang tempo doeloe 3 tahun lalu, kebetulan Adam sedang pulang untuk liburan semester, saat itu Santi memakai rok cokelat beludru sambil menenteng tas alay  model mahasiswi rantau yang gagap tren, serba gak cucok gaya dengan pakaiannya, bila berjalan salah tingkah apalagi dengan sandal jinggringnya.

Disaat hari raya, sekeliling rumah ramai sekali orang berduyun-duyun saling maaf-maaf an ngapuro-ngapuro an, ini sebenarnya fenomena orang islam yang perlu di telisik, pasalnya dalam kamus bahasa arab tidak ada terjemah kata halal bihalal, yang ada hanya di kamus bahasa Indonesia maknanya acara maaf-maafan, saling meminta dan memberi maaf. Yang muda sungkem ke yang tua yang tua dengan kelapangan hati memaafkan sembari memberi wejangan, tapi sekarang sudah jarang ada sungkem-sungkeman, kayaknya mulai dianggap kuno, karena sungkem kan budaya monarchi, kalau demokrasi ya cukup sms-bbm-facebook-twitter-whatsapp dll.yang penting bergembira, sak’ karepe dewe caranya. Salah, tapi kaprah.

Dalam pesan terkirim Adam untuk Santi tertulis “wa’alaikum salam, sama-sama Santi, wa antum min ahlil khoir ya Santi, aku kangen kamu dan kangen ngguyumu cah ayu… pengen ke rumahmu sekaligus liat pembuatan genteng disana, sekalian mampir di warung kopi cethot,hehehehe….”.

Pasti budaya halal bihalal adalah warisan Wali Songo yang memberi teladan agar hidup selalu rukun. Rukun agawe santosa crah agawe bubrah.
Adam masih tetap membayangkan wajah Santi, yang cantinya kayak Endang Pregiwa putri Raden Janaka.

“Meskipun begitu, aku salut denganmu Santi yang punya cita-cita menjadi guru TK. Alangkah mulia cita-citamu mendidik tunas kecil yang ingin bersemai meraih mimpi bersama teman-temannya, awal dari masa depan mereka ada di taman tersebut, taman kanak-kanak, katamu.”

Semoga engkau menjadi seperti yang engkau inginkan nak....engkau semua tunas kelapa, yang suatu saat nanti menjadi pusat berbagai sedekah kehidupan, entah menjadi buah kelapa yang menebar sekian manfaat dengan cuma-cuma, menjadi air buah sebagai pelepas dahaga para pemanen padi, menjadi daun blarak yang selalu menepis silau dan panas matahari juga menjadi payung penangkal hujan rumah, menjadi balok perkasa penopang bangunan, atau sekadar menjadi kayu sisa pemotongan liar yang akhirnya menjadi bahan utama pembakaran ibu rumah tangga yang anaknya merengek kelaparan di shubuh hari., atau malah hanya menjadi cengkir kelapa muda yang jatuh di tanah dan dibuat gangsing mainan oleh anak-anak sebayamu.

Tak apa… hidup memang seperti itu, memiliki peran masing-masing. Jangan sampai engkau salah jalan sehingga menjadi tumbuhan kemadih yang merusak tanaman lain nak, jangan!!!,

Jadilah pohon kelapa saja. Karena pohon kelapa adalah lambang kesuburan, dimana daerah yang masih terdapat pohon kelapanya berarti daerah tersebut masih melakukan bercocok tanam.

Semoga huru-hara di bulan Ramadhan kemarin sudah menjadi pelajaran tersendiri bagi kita khususnya, kita sebagai muslim juga kita sebagai orang Indonesia, bulan suci telah berlalu dengan adegan bersimbah darah juga tragedi menakutkan.

Sesama muslim saja belum bisa berbicara-dialog dan musyawarah, apalagi dengan umat lain, dengan bangsa lain.

Merusak warung, memporak-porandakan lokasi rejeki orang lain, membuat ketakutan bertubi-tubi, memukuli orang yang sedang minum kopi di pinggir jalan, padahal dia musafir, juga memaksakan hal-hal berlebihan yang seharusnya tidak dilakukan.

Mentasbihkan sesuatu bukan dengan cara menodai maupun mengerdilkan esensi, Ramadhan tidak boleh diwarnai dengan kekerasan, Ramadhan bulan koreksi, introspeksi, dan bulan celengan, tabungan.

Bisa dikatakan juga huru hara perkelahian dengan kata lain misal tawur khas Jawa Timur bagian barat, identiknya perkelahian yang dilakukan oleh banyak orang bukan dua orang saja, kalau tawur itu terkesan pengecut keroyokan main jumlah, kalau sudah berjumlah banyak maka menganggap bisa memastikan kemenangan, kita ternyata kalah dengan jumlah hitungan, kalah votting menyedihkan sekali, sebuah ukuran timbangan hidup sekarang. Alih-alih untuk menyetarakan semua yang ada dengan membebaskan segalanya tanpa kontrol, enak saja di kontrol, sekarang bukan zaman pingitan  Siti Nurbaya, sekarang zaman demokrasi berhak menentukan tombol mana yang akan kita pencet, entah akibatnya salah pencet tak perlu risau. Yang perlu dirisaukan adalah gejala demokrasi yang terus meningkatkan obsesi tak terkendali, apakah semua memang sama setara? Bukan kasta? Maaf kasta sudah sedikit dimusuhi dalam kamus beberapa Negara yang ingin menyetarakan diri, mereka ingin setara dengan yang paling tinggi kastanya, mungkinkah? Dengan dalih emansipasi dan demokrasi membuat goyang sedikit demi sedikit apa yang dulu diyakini banyak orang, mana mungkin? (Mungkin) adalah sebuah pekerjaan sia-sia, yang membayangkan terkaan dengan asumsi kosong. Dan begitulah keinginan suatu bangsa yang sering memberi biaya pemuda potensial untuk berkunjung ke negaranya, sanjungan pangkat intelektual muda dan cendekiawan abad modern segera di anugerahkan kepada yang akan dilepas keyakinan lamanya, keyakinan yang kata kebanyakan orang menjangkiti saraf otak sehingga sulit membuat peradaban maju. Peradaban maju juga menjadi jargon Negara tersebut, Negara yang ngotot ingin setara, setara dengan kita. Setara dengan bangsa kita, kita membutuhkan modal untuk sebuah usaha hidup demi menjalankan roda mesin pencetak uang, modal tidak perlu dicari kita yang akan memodali, kata mereka, sebelum kau percaya bahwa kami bisa memodali kamu maka coba apa yang kamu punya aku kelola dahulu, jika sudah beranak pinak maka kamu akan percaya bahwa kami adikuasa adidaya digdaya, sama kan kita sekarang?sejajar-setara, kaum kami akan menjadi penjaga rumahmu, kalau perlu kami didik semua kaum kami menjadi polisi, polisi dunia. Kami sanggup mengamankan mesin dan segala hartamu, titipkan saja dulu sementara waktu mandat itu kepada kami. Akan kami laksanakan, sementara barangmu yang sudah beranak pinak akan kami jaga agar keamanan bisa  terjamin, sesekali boleh kau jenguk, tetapi kasih ceperan  satpam dirumah kami. Bisakah aku sepertimu? tak usah seperti kami, kami akan menjagamu dengan tenang. Kami kaum hebat, meskipun pendatang. Sering-sering datang kesini, banyak koleksi yang kami punya, tragedi dan nama-nama peristiwa dirumahmu pun kami punya foto-fotonya, lengkap. Jadwal pemakaman anggota keluargamu pun sudah kami siapkan, sesekali kami beri gelar pada beberapa anggota keluargamu sebagai penebar teror juga pengusik ketentraman dunia maka saat itu juga seluruh dunia akan memburunya, termasuk anggota keluargamu yang lain juga akan ikut memburu. Jadwal jagal lehernya pun sudah kami deadline. Masih belum percaya dengan kehebatan kami. Negara bernama mirip dengan bumbu masak, merica.

Tawur dalam bahasa walikan khas Malang menjadi Ruwat, bukan ruwet, ruwat adalah ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian, atas dosa/kesalahan yang  diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidup, dalam masyarakat Jawa orang tersebut mengalami nandang sukerto, berada dalam dosa. Maka untuk mensucikan kembali, perlu mengadakan ritual tersebut. Menurut ceriteranya, orang yang nandang sukerto ini, diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Tokoh Batara Kala adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri Dewi Uma, yang kemudian sepermanya jatuh ke tengah laut, akhirnya menjelma menjadi raksasa, yang dalam tradisi pewayangan disebut "Kama salah kendang gumulung ". Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan, oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau yang sedang sukerta. Atas dasar inilah kemudian masyarakat Jawa mencari solusi agar tak termakan Sang Batara Kala ini maka diperlukan ritual ruwatan.

Dalam ruwat atau ruwatan pergelaran wayang di buat untuk ritual syarat sebelum syarat-syarat yang lain ditunaikan, sebut Sajen. Isi Sajen antara lain pertama  Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setundun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainya. Kedua, Api (batu arang) di dalam anglo. Ketiga, Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih. Ke empat, Gawangan, kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan kain batik yang baru 5 (lima) buah, diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah). Ke lima, bermacam-macam nasi, antara lain : Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dsb. Nasi uduk dilengkapi dengan; ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, kedele hitam. Nasi kuning dengan perlengkapan; telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana. Ke enam, bermacam-macam jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur). Ke tujuh, Jajanan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen). Ke delapan, Benang lawe, minyak kelapa yang dipergunakan untuk lampu blencong, sebab walaupun siang tetap memakai lampu blencong. Selanjutnya dibuatlah Rajah Kalacakra yang ditempelkan pada pintu-pintu rumah yang diruwat.  Pembuatan Rajah Kalacakra Balik adalah menulis  huruf hanacaraka secara terbalik urutannya, dimulai dengan “nga ta ba ga ma-nya ya ja da pa-la wa sa ta da-ka ra ca na ha”

Adam melanjutkan future yang lain, exit dari message masuk ke file gallery, di putarlah lagu perahu retak milik Franki Sahilatua, sesak didada dan nyeri dihati yang dialami Adam. Melihat peliknya permasalahan Indonesia yang menggunung. Dalam hati kecilnya, membayangkan apakah Indonesia perlu diadakan Ruwatan Massal? Dalam artian introspeksi diri secara besar-besaran.         

Tentang Penulis

Fathul H. Panata Pradja, lahir di Blitar 30 Desember 1990, pernah nyantri di PP.Mambaur Rahmah, PP.Mambaul Hisan, PP. Mambaul Hidayah, ketiganya di Blitar. Pernah nyantri di Surya Alam Sembon Durenan-Gunung Kawi-Malang. Nyantri tabarukan di PP. Ma’hadul Ulum as-Syar’iyah (MUS), PP. Mahjar Al-Amin, PP. Al-Anwar, ketiganya di Karangmangu-Sarang-Rembang. Sekolah dasar hingga menengah tingkat atas diselesaikan di Blitar, ketika sekolah menengah tingkat atas mengambil jurusan Bahasa, sering melakonkan drama bersama komunitas Sastra Indonesia. Pernah kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang jurusan Bahasa Arab. Selama kuliah pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, pernah mendirikan kelompok studi “SEMBURAT” bersama para mahasiswa yang pesimis dengan ujung jalan masa depan yang tak tentu, juga kondisi zaman yang berubah-ubah. Selama mahasiswa sering menulis opini, cerpen, esai lepas di kolom pers mahasiswa, antara lain: Wayang filsafat kewalian, Tahta Cleopatra yang seksi, Sanggul Dewi Arimbi, Sebuah ketidak relaan;kasta yang berjarak, Ikatan Cendekiawan Bersarung, Suluk Ringin Sungsang, Mendayung di lautan lepas, Dwi Tunggal;manunggaling rakyat dan pemimpin.

Bersama para Rohaniawan Lintas Iman Kota Malang baru saja menerbitkan sebuah karya Kidung Damai “Menyapa semesta dengan cinta” (Aura Pustaka, maret 2014)

Sekarang aktif sebagai aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sedang mempersiapkan Antologi Puisi candu, juga mempersiapkan penelitian dan naskah untuk karya selanjutnya Kabar Burung.

Bertempat tinggal di Perum Joyogrand Blok CC No.19, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Hp 085736484291, facebook Fathul Panata Praja, email panatapraja@gmail.com.

Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar