Solusi Kota; Membangun Ekosistem Ekonomi Kreatif




Untuk mengukur parameter serta menganalisa tingkat kecintaan dan kepedulian masyarakat terhadap kotanya, dapat dilihat dari seberapa besar apresiasi serta kebanggaannya terhadap karya lokal yang menjadi produk dari orang-orang kreatif. Ke"bule"an seperti telah membutakan mata, hati, pikiran dan rasa sebagian masyarakat. Diperparah lagi dengan gaya para pemangku kepentingan saling kejar-mengejar prestise serta keuntungan sepihak bagi pribadi dan golongannya.

Pergeseran paradigma masyarakat sangat dipengaruhi oleh perilaku para politikus yang kini terlihat sukses, padahal penuh dengan kecurangan dan kerusakan moral. Banyaknya lahir generasi pragmatis yang mencuri keinstanan adalah jalan singkat demi mencapai keinginannya, bukan untuk memenuhi kebutuhannya. Generasi muda sebagai penerus perjuangan dan penerima tongkat estafet pembangunan telah dipertontonkan sebuah drama dan film sinetron, bukan film heroik dan teater kolosal penuh arti, nilai dan sarat makna yang sangat berharga.

Permainan politikus telah memaksa generasi muda bertingkah laku transaksional tanpa rasa iba. Generasi muda telah kehilangan identitasnya, lupa akan sejarahnya, meludai seni budayanya serta mencaci maki kearifan lokal yang hakikatnya menjadi karakter Rakyat Indonesia. Warga masyarakat galau melihat gaya para pengambil kebijakan, baik di pusat maupun di daerah. Dimana pemerintah cenderung koruptif, pengusaha bersikap opportunis, akademisi berpikir apatis. Hingga kehilangan kepedulian terhadap kehidupan masyarakat. Materi telah merusak moralnya, prilakunya, pengalamannya, pengetahuannya dan keilmuannya.

Namun dari semua permasalahan itu, masih ada harapan bagi warga dan pemangku kota untuk bangkit dan berkembang hingga maju dan berjaya, yaitu dengan membangun ekosistem ekonomi kreatif.

Dimulai dari membentuk sumber daya manusia yang dapat menghasilkan karya kreatif baik berbentuk barang ataupun jasa, kemudian menciptakan iklim kebersamaan yang kondusif, menyatukan semua asset dan potensi kreatifitas perkotaan, serta proses penelitian pengembangan secara ilmiah. Akselerasi industri kreatif mulai dari ide kreasi, produksi, distribusi, eksibisi dan pangsa pasar merupakan tumpuan utama dalam hasil dari kreatifitas, serta konservasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk kota. Menumbuhkan kesadaran terhadap hak kekayaan intelektual dan perlindungan hak cipta. Menciptakan sinergi dan kolaborasi antara ‘quadruple helix’ diantaranya pemerintah, pengusaha/bisnis, akademisi, komunitas dan penggiat dalam pengembangan ekonomi kreatif wajib terselenggara secara seksama.

Ada 3 (tiga) sektor kehidupan yang menjadi parameter kesejahteraan kota (daerah) dan warga masyarakat (kutipan Fiki Satari), yaitu: Ekonomi, Sosial dan Infrastruktur.

Nilai ekonomi tidak selamanya diukur dengan uang, hakikat dari makna ekonomi adalah memenuhi kebutuhan. Peningkatan ekonomi harusnya didasari pada pendapatan masyarakat yang dapat memenuhi kebutuhan dasar secara adil dan merata. Membentuk masyarakat menjadi produktif dengan mengangkat potensi yang dimiliki dari setiap kelompok masyarakat dimasing-masing lingkungan. Pelatihan produktifitas keluarga merupakan salah satu solusi agar potensinya dapat tercuak hingga melahirkan usaha rumahan dengan harapan terbentuk home industry disetiap lingkungan masyarakat. Nilai ekonomi harusnya tergambar jelas dan terasa langsung pada warga masyarakat.

Kehidupan sosial masyarakat dapat terwujud jika interaksi sosial dapat terbangun dan terpelihara dengan baik. Menumbuhkan kembali identitas masyarakat yang santun, yang selalu memelihara silatuhrahmi, yang menjaga harkat martabat keluarga merupakan ciri khas bangsa Indonesia yang kokoh. Memanfaatkan ruang kosong yang ada dilingkungan masing-masing menjadi ruang interaksi sosial dan fasilitas umum (RTP) menjadi jawaban agar terjaga silatuhrahmi dan komunikasi aktif dilingkungan masyarakat. Rekayasa sosial dapat dibangun dengan mengubah kebiasaan buruk masyarakat terhadap lingkungannya agar tercipta kehidupan bermasyarakat yang damai, tertib, bersih, indah serta berestetika dan beretika karena adanya kesadaran akan hal itu.

Infrastruktur merupakan hal paling mudah untuk dilaksanakan karena faktor utamanya adalah dana. Membangun kota bukan dengan orientasi proyek sesaat, tapi dengan orientasi program berkelanjutan, terarah dan tepat sasaran. Agar terwujud sinergitas, solidaritas dan kolaborasi serta membentuk jejaring kebaikan untuk melahirkan program tepat guna. Pembangunan infrastruktur harusnya dibarengi dengan pembangunan karakter. Bagaimana menanam kebanggaan masyarakat hingga memanen keceriaan dan kegembiraan masyarakat serta menumbuhkan inisiatif, antusias dan kepedulian penduduk kota.

Pembangunan fisik perkotaan harusnya terkurasi dengan melibatkan sejarawan, seniman, budayawan, komunitas dan para kreator lokal. Agar infrastruktur berkarakter lokal sehingga menjadi sebuah monumen tematik yang membangkitkan semangat, motivasi dan etos kerja masyarakat. Pemanfaatan material fisik yang ada disekitar lingkungan masyarakat dan melibatkan secara langsung warga kota adalah hal terpenting dalam pembangunan infrastruktur. Otomatis pemberdayaan warga masyarakat terwujud, yang secara afiliatif membentuknya menjadi produktif serta masiv dalam berkarya.

Kampanye ekonomi dan industri kreatif harusnya digalakkan lewat kegiatan sosial kemasyarakatan dengan lebih kreatif dan interaktif berbentuk MICE yang menggabungkan segala jenis event yaitu meeting, incentive, convention dan exchibition. Kegiatan ini dapat membangkitkan antusias dan apresiasi terhadap karya lokal, serta menumbuhkan kepedulian dan inisiatif masyarakat untuk ikut serta dan berkontribusi bagi pembangunan kota. Peran masyarakat sangat mempengaruhi pencapaian dari proses penyelenggaraan pemerintahan yang kuat.

Dengan kegiatan tersebut seluruh potensi kota akan tersosialisasikan dengan tepat. Metodologi city branding, promo destinasi wisata kota, produk unggulan, tingkat kebahagiaan warga masyarakat serta sinergitas, solidaritas dan kolaborasi seluruh perangkat kota dapat terlukiskan dengan indah. Dari MICE juga dapat lahir jejaring nasional dan internasional demi memperkuat kepentingan kota serta kebutuhan penduduk kota.

Siklus ekosistem ekonomi kreatif wajib terpelihara dengan baik dan terkontrol dengan benar, agar tingkat kesejahteraan masyarakat teraplikatifkan, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Terkadang kesenjangan antara fakta dan retorika sulit diukur. Kebanyakan pemangku kebijakan mengesampingkan hal itu, yang terpenting baginya adalah menilai kinerja dengan angka-angka yang tidak komprehensif, menentukan rasio pencapaian yang tidak akumulatif. Perlakuan dari kebijakan ataupun peraturan hanya untuk menjaga kepentingan, serta kesimpulan yang diambil hanya merupakan bentuk pencitraan. Olehnya itu mari bersama menanamkan nilai-nilai pancasila sebagai dasar Negara yang harus dimaknai dan diterjemahkan secara konkrit. Baik di Pusat, di Provinsi, di Kota, di Kabupaten maupun di Desa.

Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar