Memanusiakan Manusia lewat "Damai di Balik Jeruji"

Poster Damai di Balik Jeruji

SULTRANESIA, Kendari - Yayasan Kelola bekerjasama dengan Kedubes Denmark meluncurkan Program Hibah Cipta Perdamaian 2017 bagi seluruh seniman di Indonesia. Para seniman diseleksi oleh 7 orang panelis yang berkompeten di bidangnya. Adhy Rical yang dikenal sebagai penyair, sutrada dan videografer 'berbahaya' di kota Kendari adalah salah satu dari 10 seniman di kawasan timur dan tengah Indonesia yang berhasil memperoleh penghargaan sebagai penerima hibah cipta perdamaian tersebut.

Mendapat Hibah tersebut, Adhy Rical menyalurkannya di Lapas Anak dan Perempuan Kendari, Sulawesi Tenggara dalam program bertajuk "Damai di Balik Jeruji" yang berbentuk pelatihan teater, bahasa inggris, kepenulisan kreatif, make up dan lain-lain pada 5 warga binaan perempuan dan 3 warga binaan anak, berkolaborasi dengan pegiat kreatif seperti:

Jemimah Tanjung Niasari
Seorang perempuan hebat, perintis program terapi autis bagi anak-anak kurang mampu di Kendari dan mendirikan sekolah Kingdom Academy, berhasil menyingkirkan 2000 perempuan di Indonesia untuk mendapat penghargaan pertama dalam ‘Women On Top Award’ yang diselenggarakan PT Mazda Motor Indonesia (MMI) dan Mango. 

Sasmita Sugiarti
Seorang single parent yang sangat paham dengan make up artist dan telah memiliki ratusan pelanggan di Kendari. 

Asniwun Nopa 
Perempuan muda pendiri Gerakan Kendari Mengajar, program mereka lebih menekankan kepada anak-anak putus sekolah. 

Dr. Sumiman Udu, M.Hum 
Dosen Unhalu dan ketua Himpunan Sarjana Sastra Indonesia, alumni UGM tahun 2016 sangat menekuni dunia kepenulisan. Baginya, penjara sangat banyak melahirkan penulis-penulis hebat dunia. 

Emmy Astuti
Praktisi anak dan perempuan yang telah banyak mendampingi anak dan perempuan sejak di Koalisi Perempuan dan Anak Indonesia. 

Achmad Zain dan Ahid Hidayat (Teater Sendiri & Main Teater)
Dua seniman, budayawan, sastrawan yang memiliki jam terbang sangat tinggi untuk melatih warga binaan bagaimana menghadapi panggung, bagaimana meredam konflik yang terjadi di dalam diri. 


Dalam siaran persnya, Adhy Rical mengungkapkan bahwa "program sejenis sudah pernah kami lakukan pada tahun 2012 dan 2014 di Lapas Klas IIA Kendari. Namun saat itu, semuanya bersifat swadaya. Program Hibah Cipta Perdamaian ini diharapkan menjadi program berkelanjutan di setiap lapas rutan Sulawesi Tenggara dan Indonesia. "

Sebagai seniman sekaligus pemerhati lembaga pemasyarakatan ia menemukan fakta mengejutkan. Data Ditjen tahun 2016 menyebutkan bahwa tahanan dan napi di seluruh Indonesia berjumlah 180.231 orang. Jumlah itu tidak sebanding dengan kapasitas penjara sehingga banyak rutan atau lapas yang over kapasitas di 34 kanwil seluruh Indonesia. Bayangkan, jumlah rutan dan lapas di Sultra hanya 8 untuk menampung seluruh tahanan dan napi dari 17 kota kabupaten. Belum lagi Lapas Khusus Anak (LPKA) hanya berjumlah 20 di Indonesia. Parahnya, Indonesia masuk 10 besar napi terbanyak di dunia. 

Oleh karena itu, sebagai seniman ia memandang perlu program-program yang bermanfaat bagi warga binaan. Kerawanan, ketidaknyamanan bisa mencapai tingkatan tertinggi jika hal ini dibiarkan. Jumlah napi yang terlalu banyak dibandingkan dengan kapasitas yang ada menyebabkan tingkat tekanan hidup di dalam lapas makin tinggi. Sehingga mudah terjadi gesekan baik antar napi mapun napi dengan petugas lapas.

Selain untuk mengedukasi warga binaan Lapas Anak dan Perempuan, program tersebut juga merupakan pemantik pada pemerintah supaya turut menaruh perhatian lebih agar tersedianya infrastruktur tambahan bagi seluruh lapas di Sultra khususnya Lapas Anak dan Perempuan.

Program Damai di Balik Jeruji tengah berlangsung dari 11 hingga 26 Februari 2017. Program ini juga melibatkan beberapa fotografer dan videographer dari berbagai komunitas foto dan video: Arif Relano Oba, Aris Daeng, Ali, Dimas, Jay Art Kendari, Intan Rinjaru, Dedi Hartono, Jojon, Rahmad Ladae, dan Ady Hasmy Tiara. Serta Tim Kerja Adhy Rical: Riqar Manaba, Gabby Monroe, Dedi Hartono, Devita Eldy, Junar.

Pada akhir kegiatan, 26 Februari, warga binaan akan menampilkan pertunjukan teater dan pemutaran film dokumenter pendek di ruang aula dalam Lapas Klas IIA Kendari dan pameran foto dari hasil jepretan fotografer pada seluruh aktivitas Lapas.

Author : Ghina

Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar