Mati Berkarya; Sebuah Misi di Launching Buku Merbabu

Suasana Launching Buku Merbabu
(doc. Malabar Project)

Oleh: Saiful Haq



Cuaca sore senin (27/3) berbeda di Rumah Opa, Jalan Welirang No. 41A, Kota Malang. Sekumpulan anak muda sedang asik mendengarkan Mohammad Sabeq menceritakan tentang proses kreatif kumpulan cerita Buku Merbabu di acara launchingnya. Nama sebuah taman dan gunung yang juga menjadi judul karya tulis terbaru tersebut.

"Meski secara etimologi, Merbabu berasal dari gabungan kata Meru (gunung) dan Abu (abu). Ada yang mengartikan Meru adalah gunung dan Babu artinya Wanita. Entahlah, saya sendiri mengartikan Merbabu sebagai sosok wanita yang meninggalkan abu; kenangan & pelajaran.

Merbabu ibarat wanita yang sedang lelap. Dengan segala curiga, keindahan, dan kelembutannya, merakapun bisa amuk lagi murka. Dari situlah, sosok perempuan kemudian menjadi wujud dalam buku ini", ucap mahasiswa pasca sarjana UIN Maliki Malang ini.

Sabeq yang juga seorang komika (Stand Up Comedian), menjelaskan bahwa buku ketiganya setelah Kayu (2012) dan Malabar (2015) adalah usahanya untuk menyadarkan & memberi solusi buat masalah generasi post-modern sekarang. Menurutnya, kebanyakan orang orang merespon kengerian, tragedi, dan tindak kriminal dengan bahagia diatas penderitaan orang bahkan lebih menggampangkan hal-hal negatif. 

"Intinya protesku sama kemerosotan moral. Ending tidak usah jadi negara berkembang kalau masyarakat kita ujung-ujung jadi apatis & anti-sosial", ucap pria asal Bone, Sulawesi Selatan ini.

Launching buku Merbabu ini semakin syahdu dengan penampilan terbaik dari Oddy Setya, Steffani BPM dan Pagi Tadi. Selain itu, Pelangi Sastra Malang & Teater Komunitas turut mengapresiasi karya Sabeq yang selama ini dikenal dengan tingkah jenaka di panggung stand up comedy lewat duet jamming puisi di akhir lagu Pagi Tadi.


"Membaca buku Merbabu setelah mengenal Sabeq secara personal, kayaknya dia memiliki kepribadian ganda. Di satu sisi dia humoris, di bukunya dia tampil dengan mellow", ucap Benu vokalis Pagi Tadi.

Acara launching yang meriah ditutup dengan pemutaran film dari tim Parade Film Malang yang berjudul "Kita Basodara" dalam rangka pemutaran film keliling sebulan penuh di bulan Maret. Jadi acara launching Buku Merbabu ini sebenarnya salah satu usaha merangkul semua elemen pekarya baik dari musikus, sastrawan, perupa, hingga sineas untuk saling mendukung dan menguatkan; khususnya di Kota Malang.

Sabeq berharap lewat acara launching tersebut, serta pesan-pesan dalam buku terbarunya ini menjadikan orang lebih menghargai kehidupan, menjalin kekerabatan, dan mengajak seluruh anak muda untuk berkarya dan hidup dari karyanya itu.

"Meninggalkan hidup dengan karya yang diapresiasi oleh orang banyak. Maka tolong dihargai karya-karya orang lain salah satunya tanpa memaksakan harga teman", ucap Sabeq menyampaikan harapannya.

Bagi kamu yang ingin membeli buku dan merchendise Sabeq bisa cek langsung di instagram: @malabarmerch, fb page: malabar project merch, dan line: @mnf9281e

Salam mati karya!



Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar