Sedikit EjaBalik Indielogis dan Review Event INDIELOGIS Vol. 1

Dsain Poster by Hero M

Oleh : Riqar Manaba X Ghina Safitri Sophia

Sebenarnya, tim redaksi awalnya ingin memosting terpisah dua tulisan ini. Namun, sebagai media yang sadar diri akan tidak banyak-banyak amat pembacanya, dan berdasar data, kecenderungan dari durasi waktu kunjungan, visitor sultranesia.com datang berkunjung bukan karena terjebak kata kunci atau pancingan judul artikel yang tak sesuai isi sebagaimana media (sampah) mainstream, melainkan kecenderungan visitor adalah followers sosmed Sultranesia yang datang ke sultranesia.com memang hendak datang membaca. Jadi ya sudah begini sajalah, yah temans. Lagian, kami tak mengejar klik view, biarkan saja kami terus begini. Konten yang konsisten terisi, posting di all sosmed, lalu pengguna internet yang menentukan pilihan ingin baca atau tidak.

Maka disambungkanlah tulisan ini jadi satu postingan. Agar lebih kontekstual dan para pembaca lebing ngeh soal Indielogis yang baru saja kami luncurkan. Dan siapa tau kolaborasi nulis perdana Bang Riqar dan Neng Ghina bisa berlanjut kehubungan asmara. Eh, bukan. Maksudnya kolaborasi berkarya bareng maksudnya. Sebagai misal buat buku bareng. Hehehe

Maaf jika bacrit. Silahkan teman-teman simak di bawah ini :

Sedikit Ejawantah dan Dibalik Indielogis Volume 1
 Oleh : Riqar Manaba


Indielogis adalah sebuah gerakan yang kami (Sultranesia Team) gagas sebagai bagian dari proses menerjemahkan keresahan pada ruang realitas; apakah jalur indie yang kami tempuh dan yakini selama ini benar-benar logis?

Pada sebagian kreator sih sudah membuktikan hal ini. Dalam artian, adanya persesuaian antara peluncuran karya, apresiasi, nyinyiran dan penghasilan. Misal dalam musik ada Pure Saturday, Efek Rumah Kaca, White Shoes and The Couple Company, Seringai, Endank Soekamti, Navicula dan deretan nama lain yang sudah membuktikan hal tersebut. Di Stand Up Comedy (juga musik, buku serta medium lain dari karya-karyanya) ada Pandji Pragiwaksono yang sangat terbilang sukses. Dalam kacamata saya, melihat Pandji, setelah mengamati jejak rekam, utamanya kesuksesan Stand Up Comedy World Tour dan mengunyah buku Indiepreneurnya, Pandji bahkan salah satu orang yang sampai membalikkan kondisi si mainstream (sponsor) yang seakan meminta untuk “membantu” Pandji dengan feedback branding. Serta banyak nama beken kreator indie lainnya yang teman-teman bisa cari sendiri di internet.

Nah, walau kami (Sultranesia) sudah sedikit berumur (hampir 5 tahun), tapi kami harus jujur, terkadang, ada banyak hal yang ingin kami lakukan tapi terbentur pada “amunisi”. Dalam hal ini kami tak mengeluh dengan keterbatasan. Toh kami masih berbuat dengan segala potensi yang ada. Hanya sekadar pengakuan bahwa masih ada beberapa hal dalam banking ide kami yang masih mengawang-awang sebatas ruang gagasan yang belum mampu kami terjemahkan dalam bentuk realita, atau boleh dikata kami belum mapan. Sedikit analisa, hal ini juga terjadi bukan hanya sekadar sebab persoalan “amunisi”, melainkainkan nama-nama yang sukses di atas memiliki keuntungan geografis. Secara pola pikir, lingkungan domisili, mereka sudah sedikit mendukung. Kantor-kantor pusat perusahaan juga berada di sekitar mereka. Jadi potensi mereka memang lebih terbuka tinimbang kami kreator di Indonesia Timur. Walau saat yang sama juga sudah ada beberapa kreator lokal yang buktikan tanpa berdomisili di pulau Jawa-Bali sebenarnya juga bisa. Sebagaimana melihat sedikit teman-teman kreator Makassar dan Palu. Juga secuil kreator Kendari yang mulai sedikit bangun dari tidurnya.

Nah... daripada kami onani intelektual dalam ruang redkasi, maka kami luncurkanlah si Indielogis ini sebagai sebuah panah rangsangan yang mencoba hadir sebagai sebuah hiburan edukasi alternatif dan ruang kolaborasi komunitas-kreator yang mempertemukan pekarya, penikmat, pengkritik, pengamat dan calon pekarya. Gerakan ini tak berorentasi profit, harapannya hanyalah bagaimana dari ini kita sama-sama mendapat pengetahuan dan inspirasi dari teman-teman yang masih linglung gimana cara berindie raya yang balance antara karya dan pendapatan. Dengan menghadirkan orang-orang yang sedang berjuang dan sudah membuktikan bahwa indie memang logis.

***

Indielogis sudah lama tersimpan dalam folder gagasan Sultranesia. Volume 1 baru bisa kejadian akibat dari spontanitas kami membaca peluang menciptakan panggung perdana. Kala itu, setelah pada 6 Maret saya membuat ulasan di sultranesia.com tentang sedikit bocoran buku Merbabu dan keberhasilan Mohammed Sabeq dalam memasarkan bukunya, saya yang kebetulan sedang dapat jatah waktu ngadmin di all sosmed Sultranesia pada 10 Maret tak sengaja melihat postingan instagram Inal Tohra, salah satu frontmen dari Stand Up Indo Kendari, yang memposting poster publikasi event “Turn Back Laugh” yang menghadirkan dirinya, Amal Buton, Ovil Wawotobi, Oki (Palu) serta Mohammed Sabeq (Malang) yang akan berlangsung 16-17 Maret di Raha, Sulawesi Tenggara. Saat itu juga saya langsung japri si Sabeq lewat Line untuk mengonfirmasi apakah berkenan jika saya minta “nyuri” waktu saat ia di Kendari memanfaatkan moment tersebut untuk ia mau berbagi inspirasi dengan teman-teman tentang buku Merbabunya yang bakal dilaunching tanggal 27 Maret di Kota Malang. Saat itu juga, setelah ia sowan ke Inal sebagai yang mendatangkan, iapun mengiyakannya. Saya langsung gerak.


Anak-anak Sultranesia ada yang domisili di luar Kendari dan yang dalam Kendari pada sibuk. Maka orang pertama yang saya hubungi adalah Askar Baiduri. Bagi saya, anak yang belum menemukan dirinya ini adalah salah satu person sentrum yang bisa menjembatani para kreator dan komunitas lokal untuk berkolaborasi. Sebab, modal keterampilan bergaul ia yang baik, kesopanan pada orang, keaktifannya dalam event-event komunitas, serta tak memiliki catatan pada “konflik sempit” kreator dan komunitas lokal. hal tersebutlah yang langsung mencantumkan pikiran saya untuk memintanya terlibat penuh pada Indielogis Volume 1 ini.

Saya meminta dia untuk coba menjembatani saya dengan Kak Ari Ashari, fronment Idea Project/RuPa (Rumah Pengetahuan). Mengapa tertuju untuk membuat peristiwa ini di RuPa? Sedari akhir 2013 saya memang telah mengintip dari jauh galeri RuPa. Walau saya juga bisa saja mengajak kolab komunitas/kreator lain yang semisi, tapi jauh-jauh hari dalam hati saya berkata “wah... suatu saat musti buat sesuatu di tempat ini”. Sebab, selain tempat tersebut merupakan salah satu area nongkrongnya para seniman Kendari, tempat itu juga keren. Mulai dari kumpulan bukunya yang asik, juga tata ruangnya asik. Tak mungkin tempat yang asik orangnya gak asik. Anak-anak muda followers dan pembaca Sultranesia musti tau RuPa, untuk menstimulus lahirnya RuPa RuPa lain, atau tau dimana tempat jika ingin diskusi dan membaca buku selain di perpus daerah yang kondisi dari luarnya saja sudah menyeramkan.

Oh, iya. Sebelumnya saya beberapa kali jumpa wajah dengan Kak Ari di event-event kreatif lokal. Tapi kami paling hanya saling tebar senyum dan see hello. Baru pada 11 Maret, Askar mempertemukan kami di RuPa. Kami ngobrol banyak hal. Utamanya terkait acara Diskusi Buku Merbabu dan sajian musik indie yang kami akan selenggarakan bersama pada 18 Maret. Pertemuan itu berlangsung mulai sekitar jam 5 sore hingga malam sekitar jam 10.

Maka dari pertemuan singkat itu, serta dua hari sebelum acara berlangsung, malam hari saya sempat ke RuPa sekitar beberapa jam, maka terjadilah Indielogis Volume 1 ini tanpa banyak meeting dan ini itu. Kak Ari seakan sudah tau apa yang harus saya dan beliau persiapkan. Hal ini terjadi mungkin karena jam terbang. Dan kami memiliki frekuensi yang sama dalam memberikan hiburan alternatif bagi Kendari.

***
Review Event INDIELOGIS Vol. 1
Ghina Safitri Sophia

Sekira pukul 15.32 WITA hujan mengguyur (sebagian) Kota Kendari. Entah alam sedang mengisyarat apa: kode bahwa Indielogis tak terberkati langit? atau bisa juga ini adalah isyarat bahwa event ini justru diberkati. Sebab, bukankah lebih romantis berdiskusi dan mendengar musik indie saat tanah dan rerumputan dalam kondisi setengah basah? Lalu senja menyinari venue melalui bilik celah pepohonan? Toh sejatinya salah satu kodrat hujan kan menyuburkan tanah, sebagaimana pada penggalan salah satu lagu Ujung Titik berjudul Tenggelam Menggelam yang katanya sih terinspirasi dari penggalam Ar-Rum. *ehe... malah nyolong promo band si om bos. Ah, gapapa deh. Wong band si doi gak terkenal, jadi wajar kalau dibantu promo. Hahahaha

Sudah. Mari kita lanjut...

Alhamdulillah... sekiranya pukul 16.00 WITA hujan akhirnya reda. Sembari merapikan jilbab yang tadinya sedikit kusut karena berbaring menunggu hujan reda, saya berangkat menuju RuPa (Rumah Pengetahuan) di beranda Museum Kendari yang juga Galeri baca sekaligus markas Idea Project yang merupakan venue dari Indielogis Vol. 1.

Sepuluh menit setelahnya saya sampai di lokasi. Saya beruntung datang ketika acara indielogis volume 1 belum dimulai. Kondisi venue sedikit basah, para taliban Idea Project baru saja menuntaskan segala set; tanda acara sebentar lagi akan berlangsung.

Para pengunjung sedikit demi sedikit mulai berdatangan. Acara berlangsung. Dimulai dari sedikit pengantar dari Kak Ari (Frontmen Rupa & Idea Project) sebagai tuan rumah. Lalu melalui panggilan MC, Askar Baiduri sebagai moderator naik ke atas mini panggung, berikut Mohammed Sabeq. Ditengah moderator menyampaikan sedikit pengantar dan memperkenalkan si Penulis Buku Merbabu, pengunjung lain datang silih berganti. Nampak pada venue Kak Arham Kendari, Anak-anak Stand Up Kendari, Gerakan Kendari Mengajar, Koheo, Owner Full Art Rock, pasukan Rumah Bunyi dan teman-teman yang tak asing lainnya.

Ari Ashari
(Frontment Idea Project/RuPa)

Diskusi berjalan mengalir. Para pengunjung juga satu persatu meluncurkan pertanyaan. Yang menarik adalah sedikit ulasan dan pertanyaan dari Kak Arham ke Sabeq yang kurang lebih begini: ada beberapa komedian yang juga telah menuliskan buku; Raditya Dika, Ernest Prakasa dan lain-lain. Namun, rata-rata dari mereka jatuhnya menulis buku komedi. Merbabu menarik, sebab ditulis oleh komedian tapi jadinya buku sastra. Ada puisi dan sebagainya. Bagaimana Sabeq yang memiliki baground komedi dan dari joks stand up bisa jatuh ke sastra?
Mohammed Sabeq dan Askar Baiduri

Sabeq menjawab kurang lebih begini: itu karena ada beberapa keresahan yang tidak bisa disampaikan di panggung Stand Up Comedy, maka dilampiaskanlah di buku Merbabu, yang merupakan buku ke tiganya. Kenapa jatuh ke sastra, karena dari dulu penulis senang sastra. Dari penuturannya dia adalah salah satu founder Malam Puisi Malang. Ya, mungkin Sabeq coba formula baru. Dan memang, dari kepo kepo di sosmed, Sabeq juga sering senang berteater di Kota Malang.

Secara keseluruhan. Diskusi tersebut asik dan penuh senyuman. Terkecuali performa Askar Baiduri sebagai moderator yang tampak dingin membawa acara. Wajar, walau ia salah satu orang yang gesit pada setiap event komunitas di Kota Kendari, hari itu adalah hari pertamanya duduk sebagai moderator.


Selanjutnya, Pengganda (indie music) naik ke atas panggung. Yang tadinya ingin memberi sedikit kejutan malah gagal. Pertama, dalam poster kegiatan memang tak tertera siapa yang akan bermusikalisasi puisi. Pengganda sengaja tak menera hal tersebut. Sebab mereka menyimpan; tadinya tanpa pengunjung ketahui mereka akan bermusikalisasi puisi bersama Sabeq. Namun, salah satu dari peserta, sebelum Sabeq turun ke panggung meminta Sabeq untuk membacakan salah satu puisi dalam buku Merbabu. Dan salah satu personel Pengganda saat itu langsung menjawab, ya memang akan bermusikalisasi puisi bareng Sabeq pasca diskusi. Gak mengejutkan lagi deh. Kedua, sebagai pembuka sajian musik, yang tadinya Pengganda menyiapkan pemutaran video musik tentang hujan, banjir, dan seringnya pemadaman lampu berdurasi 03. 43 detik yang sangat realed dengan kondisi Kota Kendari, lalu saat video tersebut hampir habis disambung dengan lagu Hujan Jangan Marah dari Efek Rumah Kaca malah hujan jadi marah. Sebab, karena hujan, layar kecil yang telah dipersiapkan sebelumnya gagal tertancap, sebab tak lagi sempat loading. Maka Pengganda tampil mengalir sebagaimana band biasa.

Pengganda X Sabeq

Mereka akhirnya membuka musik dengan Hujan Jangan Marah dari ERK. Kemudian sabeq naik untuk mengisi puisi dari lagu Kebenaran Tak Kan Mati karya Fajar Merah (anak Widji Thukul). Setelahnya, Sabeq tampil membacakan dua puisi dari buku Merbabu ditemani melodic Haidir (gitaris Pengganda). Selesainya, sabeq mengajak para penonton untuk turut berpuisi pada sore itu sebelum acara selesai. Salah satu members Rumah Bunyi naik menyumbang sebuah puisi.

Pengganda X Pasukan Rumah Bunyi

Begitulah... anyway... tak semua bisa kuceritakan pada Indielogis Vol. 1. Sebab, selain menyimak semua sajian konten acara, beberapa kali pendangan saya teralihkan oleh sinar senja, rerumput yang sedikit basah, juga pada instagram yang sore itu si mantan sedang posting foto tentang kenangannya bersamaku. hehehe

Jika masih penasaran, mending datang saja nanti di Volume 2 nanti yang entah di mana dan bagaimana. Salam logis.


*Foto by @rahardjosusilo

Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar