TEROR KORUPTOR


Oleh : Rendra Manaba

Miris melihat peristiwa yang terjadi dinegara ini, ibu pertiwi pastinya merintih bercucuran air mata menangisi kejadian yang lagi-lagi merusak citra dan nama besar NKRI. The Founding Fathers pun sangat kecewa atas perjuangannya hingga berdarah-darah mengorbankan jiwa raga berjuang memerdekakan Bangsa Indonesia, sehingga bersatu menjadi negara kepulauan terbesar didunia.

Ternyata pelaku teroris di Indonesia bersembunyi dibalik kasus korupsi. Begitupun sebaliknya, koruptor bersemayang dibalik kasus teror. Peristiwa beruntun yang hampir bersamaan sering terjadi. Masih ingatkah kita dengan peristiwa teror di Sarinah pada pertengahan bulan Januari 2016. Disaat itupula terungkap kasus suap dan tertangkap tangan koruptor yang merupakan politikus dari partai besar dan berkuasa, Ia adalah anggota DPR RI bernama Damayanti.

Sumber:  sc serambiminang
Dipertengahan tahun 2017 ini kembali terulang peristiwa yang hampir mirip, bagaikan skenario yang dibuat dan sudah dipersiapkan sebelumnya. Ah.... saya mungkin mengigo melihat kedua peristiwa yang kini menjadi kasus buat santapan dibulan Ramadhan. Bom panci yang diledakkan oleh teroris dihalte busway Kampung Melayu, dan kasus tangkap tangan penyuapan pejabat BPK. Ya, itulah para koruptor di negara ini, ada-ada saja motifnya untuk bertindak agar tidak masuk menjadi pidana berat, sungguh memalukan dan mencoreng kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mungkinkah ada korelasi antara peristiwa terorisme dan korupsisme yang kejadiannya selalu bersamaan mengemuka menguasai pemberitaan semua media, baik elektronik dan digital maupun media cetak. Kedua kejadian tersebut menjadi peristiwa musiman di negeri ini, hampir setiap tahun memanen dan menjadi kasus yang memaksa Pemerintah dan Rakyat Indonesia untuk mengeluarkan energi serta emosi tinggi hingga mengesampingkan rasionalitas kita dalam berbangsa dan bernegara. 

Irasional rasanya ada orang Indonesia yang mau menjadi pengantin secara suka rela mengorbankan harta, serta jiwa raganya untuk bunuh diri dan membunuh sanak saudaranya sebangsa dan setanah air. Semungkin itukah mereka merakit sendiri bom dengan daya ledak besar yang akan mereka ledakkan sendiri dalam pelukkan erat hingga menghancurkan tulang belulang tak bersisa.

Begitupun para koruptor yang rata-rata memiliki tingkat intelektual dengan pendidikan tinggi serta memiliki logika kehidupan ideal melakukan tindak pidana korupsi. Mereka punya keluarga besar; Orangtua, Mertua, Istri/Suami dan Anak-Anak. Sadarkah bahwa tindakannya telah merusak keluarga dan generasinya. Keilmuan saja tidak cukup membentuk manusia menjadi mulia, perlu diisi dengan keimanan yang kuat. Dan sebaliknya iman tanpa ilmu yang luas bisa terjerumus menjadi teroris.

Negara sudah membentuk perangkat khusus untuk menangani kedua kasus tersebut, ada Densus 88 yang spesialis bekerja untuk menumpas para teroris, ada KPK yang juga spesialis bekerja untuk menumpas para koruptor. Apakah kedua lembaga negara itu sudah efektif menjalankan tugas dan tanggung jawabnya terhadap negara dan rakyat Indonesia, jawabannya sudah dan semakin terasa keberadaannya bagi bangsa serta terbukti menjaga kedaulatan NKRI. Dengan banyaknya pengungkapan serta penangkapan kedua kasus besar tersebut.

Namun, ada hal terpenting yang sampai sekarang masih sebatas wacana yang semestinya menjadi acuan utama bagi KPK dan Densus 88 serta seluruh perangkat negara lainnya yang berafiliasi terhadap kasus itu, yaitu diperlukan upaya pencegahan secara masiv dan konsisten. Lebih baik mencegah daripada menangani peristiwa yang telah terjadi. Kuatkan bekal pemberdayaan, edukasi dan sosialisasi hingga ke rumah tangga disetiap lingkungan, begitupun pada lingkungan kerja wajib dilakukan. Bentuk masyarakat yang sadar, peduli dan menumbuhkan partisipasi untuk menjaga sejak dini dari keluarga, lingkungan, tempat kerja dan seluruh ruang-ruang publik akan tindak pencegahan terorisme dan korupsisme. Hal terpenting yang terkesan sulit tercipta adalah sinergitas seluruh perangkat yang ada baik milik negara, swasta maupun civil sociaty.

Sebenarnya, jika keseriusan tertancap kuat pada stakeholders; pengambil keputusan dan kebijakan dinegara ini, hal itu menjadi mudah untuk membentuk sinergitas, kolaborasi dan jejaring untuk melakukan pencegahan serta menghancurkan Teror Koruptor. Semoga dibulan Ramadhan, bulan penuh rahmat, hidayah dan sangat bersejarah bagi umat manusia dan juga penuh sejarah bagi Bangsa Indonesia. Lahir keseriusan, komitmen dan konsistensi segenap perangkat negara beserta Rakyat Indonesia.

*penulis merupakan salah satu penggagas Kendari Kreatif  

Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar