Review Event INDIELOGIS Vol. 3: Pada Suatu Ketika "Sastra Bernada"

Para Penampil dan Tim di balik layar INDIELOGIS Vol.3 "Sastra Bernada"
Foto: Frans Patandungan

Berawal dari pertemuan pada pekan ke tiga Januari 2018 dengan beberapa anggota Rumah Andakara di salah satu cafe di kota Kendari, tawaran ide dari Rumah Andakara untuk membuat sebuah acara keren yang berhubungan dengan sastra dan nada akhirnya kami sepakati untuk digelar. Sembari menikmati gepulan asap rokok, menyeruput kopi, dan menyicip pisang goreng keju, obrolan yang tengah berlangsung sekitar dua jam langsung disambar oleh celetukan dari Topan Megabayu (salah satu member Rumah Andakara & frontmen kelompok musikalisasi VIBRA) yang kurang lebih seperti ini, “Jadi, tema acara ini nanti adalah Pada 'Suatu Ketika Sastra Bernada'… hmm, keren toh!”. Terkesan ngelantur…. tetapi kami semua mengamini. Kami setuju dengan apa yang Topan katakan.

Meeting SULTRANESIA X Rumah Andakara
Foto: Doc. Rumah Andakara

Sebelum pertemuan di atas berlangsung, malam malam sebelumnya, gagasan dasar tentang rencana acara ini telah diracik mentah oleh Rumah Andakara sebelum ditawarkan pada SULTRANESIA untuk turut berkolaborasi membumikannya. Kemudian mulai dimatangkan bersama-sama. Pertemuan di sebuah cafe tersebut dihadiri oleh Wa Ode Nur Iman (Ketua Rumah Andakara), Dolken Al-Fath (senior UK Seni), Topan Megabayu (Frontmen VIBRA), Riqar Manaba (Frontmen Dersana), Askar Baiduri (Munational – Direktur INDIELOGIS), Yosy (Istana Dsain), Ucok (Founder Di-Rijek), dan saya sendiri sebagai bagian dari keluarga SULTRANESIA. Dan jadilah Indielogis Vol.3 Rumah Andakara X SULTRANESIA disertai dengan meeting maraton dihari-hari berikutnya. 

Bagi kami SULTRANESIA, Pada Suatu Ketika "Sastra Bernada" sebenarnya adalah lanjutan dari Indielogis Vol.1 (bedah buku Merbabu – Mohammed Sabeq X Musik) dan Indielogis Vol.2 (Diskusi, Nobar Film X Musik). Bagi Rumah Andakara, “Sastra Bernada” merupakan event pemanasan sebelum mereka menggelar Konser Sastra ke dua yang rencananya bakal dilangsungkan usai pertengahan tahun 2018. Mengapa pihak sultranesia.com ikut ambil andil dalam event ini?, melalui program INDIELOGIS, SULTRANESIA akan turut iuran keringan pada kegiatan-kegiatan seni di Sulawesi Tenggara yang gerakannya ditempuh melalui jalan indiependent, ataupun peristiwa tersebut mendukung laju gerakan indiependent.


***
Para penikmat "Sastra Bernada"
Foto: Frans Patandungan

Pada Suatu Ketika “Sastra Bernada” akhirnya kejadian! Sekitar 250 penonton memenuhi venue yang berlokasi di Spazia, Coutry CafĂ© Citraland Kendari. Dipandu oleh MC berbahaya Inal Thora, acara diawali oleh Musikalisasi Puisi dari Katalis dan solocoustic dari Dolken Al-Fath. Selanjutnya, saya sendiri, Gusman Nasiru, Al Galih, Aurel, Aulia, Marwan dan Raya Pilby, Sari Handayani, Ode Sendranto, Waode Nur Iman masing-masing ambil bagian mewarnai lautan puisi malam itu yang kemudian diselip-selip oleh pembacaan Cerpen dari Deasy Tirayoh, Pembacaan Dongeng oleh Widya, Puisi Monolog Iwan Arab X Eva, serta Musikalisasi Puisi dari Dersana dan Vibra.

Iwan Ghibran X Eva
Foto: Frans Patandungan

Spechles lah! Hingga saya tak bisa menceritakan satu per satu dtail-dtail nikmatnya perkawinan sastra dan nada yang disuguhkan oleh para talent penampil malam itu. Bahwa tak ada sebuah peristiwa yang tak bisa dijadikan puisi dan lagu, itu Yes! tapi tak semua sajian seni bisa diceritakan. Sebab, kata-kata, terkadang tidak semengerti dengan perasaan hati.

Inal Thora
MC berbahaya yang berhasil menjahit benang sastra dan nada menjadi sebuah sajian rakyat yang mengalir .
Foto: Selvi Ariani Amir

Sebagai salah satu orang yang terlibat sekaligus menjadi penonton dalam acara ini, saya hanya merasakan ketidaksadaran waktu berlalu hingga jam 11 malam. Sangat jarang acara seperti ini berlangsung di Kendari. Yang saya lihat dari acara ini adalah usaha para pegiat seni yang ada di kota Kendari menampilkan sesuatu yang berbeda dan memperkenalkan lebih luas sastra dan nada itu sendiri. Dan menurut saya sih acara ini memang keren dan cukup berbeda. Ketimbang memoloti seminar, konser musik mainstream bin cemen yang begitu-begitu saja; terlebih, debat-debat seputar seni tanpa solusi di sosial media.

Pesan toleransi lewat nada dari DERSANA
Foto: Frans Patandungan

Dan terakhir. Sebagai salah satu anak manusia yang mulai mencintai dunia literasi, saya berharap acara-acara seperti ini selalu ada. Agar hatiku, dan juga hati tanpa dampingan hati yang berkeliaran di luar sana, punya hiburan alternatif yang berkualitas sebagai bekal untuk menemukan pendamping hati. Hehehe ;)

Musikalisasi Puisi VIBRA
Foto: Frans Patandungan


Pembacaan Puisi dari Wa Ode Nur Iman 

Tua muda setara dalam kesenian
Foto: Selvi Ariani Amir
Kelompok Musikalisasi Puisi KATALIS
Foto : Frans Patandungan
Penampilan solo Dolken
Foto: Frans Patandungan
Pembacaan Puisi dari Yusuf I.W
Foto: Frans Patandungan
Pembacaan Fiksi Mini oleh Deasy Tirayoh x Topan Megabayu
Foto: Frans Patandungan



Al Galih
Foto : Frans Patandungan

Ode Sendranto
Foto: Frans Patandungan

Author: Yusuf I.W
Editor & Layout: Riqar Manaba
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar