Restorasi Meiji dan Film Wiji Thukul


Patta Nasrah saat menyampaikan pandangannya di Diskusi Film "Istirahatlah Kata-Kata" Kendari
Foto by KHDR


Oleh : Patta Nasrah

Film yang bercerita tentang pelarian Wiji Thukul ini berjudul ISTIRAHATLAH KATA KATA. Sebuah Film yang pernah memperoleh beberapa penghargaan di beberapa festival film nasional, tahun lalu. Jangan berharap suguhan spektakuler dari seorang Thukul. Misalnya orasinya mengumpul ribuan lautan manusia menjadi people power. Anda akan kecewa jika berharap sesuatu yang teramat besar seperti itu! Thukul adalah seorang simbol masyarakat marginal yang melawan pemerintahan yang teramat kuat di masa itu.

Pemerintahan yang didukung dwifungsi ABRI sebagai penyangga konsep pembangunan dengan Trilogi Pembangunan. Stabilitas adalah mutlak adanya dalam menjalankan trilogi pembangunan.

Puisi Thukul yang dianggap bernada provokatif pun tak ditemukan pada karyanya yang dipublikasi melalui buletin stensilan yang pembacanya sangat terbatas. Bahasanya sangat sederhana. Dengan bahasa yang lugas dan denotatif. Tak seperti WS Rendra atau Sutardji yang konotatif dan multi interpretasi.

Sesungguhnya kalau kita berharap sebuah eksploitasi emosi tentang penindasan fisik, kita akan sangat kecewa. Apalagi kita ingin tau soal aksi pergerakan yang memobilisasi people power yang dipimpin oleh seorang demonstran. Seperti layaknya sebuah film dokumenter yang sering dibuat. Adegan itu sama sekali tidak ditemukan dalam film ini.

Film Istirahatlah Kata Kata sangat datar. Tiga puluh menit pertama sungguh sangat membosankan. Tak ada suspen atau kejutan sama sekali yang dapat membuat mata kita terbelalak. Bahkan teman yang duduk di kursi depan bersama saya, sempat tertidur. Begitu pula teman yang hampir sebaya dengan saya meninggalkan pemutan film untuk merokok dan berdiskusi di luar ruang pertunjukan film.
Menjadi teringat Restorasi Meiji di Jepang. Setelah kejatuhan Shogun dan kekaisaran memimpin Jepang. Mereka merevisi sejarahnya. Sejarah kelam yang banyak mewarnai pembunuhan oleh para samurai, dihilangkan dalam buku sejarah politik dan sosial Bangsa Jepang. Mereka tak mau mengeksploitasi sisi kelam peradabannya lalu di wariskan kepada generasi penerus bangsa Jepang. Orang Jepang lebih mengutamakan kampanye nilai-nilai luhur bangsanya. Seperti kesetiaan para samurai hingga akhir hayat. Memilih harakiri dari pada menyerah pada lawan. Etos dan nilai positif bangsanya yang terus di-blow up. Kebrutalan masa lalunya hanya diketahui dari film Hollywood.

Istirahatlah Kata Kata tidak mampu mengeksposisi secara baik alasan pelarian Wiji Thukul. Sehingga orang yang tidak hidup di masa Orde Baru sangat susah untuk trans menemukan suasana kebatinan masyarakat Indonesia di masa itu.

Mungkin alasan dewan juri memberi penghargaan terhadap film ini adalah adanya tawaran pembuatan film dokumenter yang berbeda dengan film Arifin C Noer, Penghianatan G 30 S PKI yang mengeksploitasi kekerasan dan kebiadaban. Konsekwensinya, film ini tak layak diputar di bioskop kapitalis yang profit oriented!

Militansi dan idealisme penggiat perlawanan kaum tertindas dan marginal sangat sukar diukur dengan nilai yang bersifat kapitalistik. Film ini kampanye semiotika bagi kaum proletariat.
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar