Kartini Pengecut Emansipasi?

Oleh : LM Ryfains Tuani


Saat kita mendengar kata emansipasi, maka yang terbesit adalah nama Raden Ajeng Kartini yang ditetapkan sebagai Pahlwan Nasional pejuang Emansipasi Wanita. Begitu mulianya wanita asal Jepara ini, hingga hari kelahiranya menjadi hari besar diantara deretan tanggal penting dalam lembaran kalender. Alasanya sederhana, Kartini perempuan pribumi yang hidup dimasa tekanan kolonial, memiliki semangat untuk menjadi wanita yang haknya sama dengan lelaki dibidang pendidikan.

Bagi Kartini, perempuan tidak hanya untuk dinikahi dan patuh kepada sang suami atau menjadi wanita penghibur dimasa cengkraman kolonial di kota Jepara. Pemikiran itulah yang pada akhirnya mendorong beliau untuk mendirikan Sekolah Wanita pada 1903 di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Perjuanganya kemudian terus berlanjut, hingga impian untuk melanjutkan studi di Eropa dengan semangat pendidikan agar bisa membebaskan wanita dari jeratan derajat yang sama dengan kaum lelaki. Namun perjuangannya harus pupus seiring berubahnya status Kartini menjadi istri Adipati Rembang. Kartini lebih memilih patuh pada suami demi harmonisnya keluarga. Perjuangan emansipasinya lalu menjadi kabur.

Bisa jadi, pemerintah memiliki alasan lain kenapa Kartini harus mendapatkan lencana Pawhlawan Emansipasi, walaupun hakekatnya, emansipasi memiliki arti lain, begitupula Pahlawan. Mungkin saat itu, penafsiran emansipasi tidak sama dengan hari ini. Hari ini, emansipasi adalah tentang persamaan 3 unsur hak yang meliputi HAK POLITIK, HAK EKONOMI, dan HAK PENDIDIKAN. Pada tafsiran ini Kartini ada di pendidikan. Mungkin, kala itu juga tafsirannya mencakup Pendidikan Politik atau Ekonomi. Yang pokok, dimasa Kartini, pendidikan yang dimaksud tidak diuraikan dalam sejarah, pendidikan apa yang dimaksud. Dari uraian singkat ini, saya menjadi bingung dimana landasanya Kartini dikatakan Pahlawan ditengah perjuangan yang tidak selesai?

Justru Kartini meninggal pada masa dirinya kembali tunduk pada Lelaki (SUAMI) dimasa perjuanganya. Dan Kartini hanya meninggalkan doktrin kesamaan Hak Perempuan dan Laki- Laki yang penjabaranya belum selesai. Alhasil, gambaran emansipasi tersirat dalam Film RCTI yang berjudul DUNIA TERBALIK. Atas realita ini tentu harapan saya emansipasi dapat ditinjau ulang oleh Pemerintah, mengingat emansipasi juga adalah faktor pengoyak harmonisnya sebuah keluarga.

Terima kasih
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar