Petobo, Bencana Alam, dan Rindu Seorang Anak


Oleh: Prayuda Said

Saya bekerja sebagai konselor adiksi di Balai Rehabilitasi Narkotika milik negara di Makassar. Di sini, setiap konselor adiksi menangani 7 hingga 9 orang klien residen. Residen ini adalah pasien yang dirawat di dalam balai rehabilitasi. Residen kami berasal dari berbagai daerah di Indonesia dari Sumatra hingga Papua.

Salah satu daerah yang terbanyak mengirimkan residen, adalah Sulawesi Tengah, khususnya Palu. Kami juga merasakan kehilangan yang besar ketika gempa bumi dan tsunami menyerang Palu dan sekitarnya pada Jumat, 28 September 2018. Banyak mantan residen kami yang hingga kini belum ada kabarnya. Komunikasi terus dilakukan untuk menghubungi keluarga maupun mantan residen yang berasal dari Palu dan sekitarnya. Signal seluler yang timbul tenggelam bukan halangan bagi kami untuk berusaha mencari kabar dari orang–orang tersebut. Doa dan harapan agar kabar baik yang datang kepada kami.

Rasa kehilangan yang lebih besar dirasakan oleh residen yang masih dirawat di dalam balai rehabilitasi. Mereka tidak dapat mendampingi keluarga ketika bencana datang. Seorang klien saya adalah salah satunya. Ketika gempa terjadi di Jumat malam, saya berusaha untuk menghubungi keluarganya. Tapi hingga Sabtu pagi saya belum mendapatkan kabar. Oleh karena itu, saya datang menemui klien saya untuk menenangkannya. Sambil terus berharap kabar dari keluarganya akan segera datang. Kami bercerita dari pagi hingga menjelang sore. Mulai dari rumahnya, adiknya, orang tuanya, hingga beberapa ekor kambing peliharaannya. Ia memang senang memelihara hewan ternak. Tapi hingga saya beranjak pulang belum ada kabar dari keluarganya.

Pagi ini saya datang ke kantor lebih awal untuk menemui klien saya. Saya datang tepat saat ia sedang menuju ke ruang makan untuk melaksanakan sarapan. Ketika saya terlihat, ia langsung berlari dan memeluk saya. Katanya pagi ini ia melihat berita di televisi bahwa rumah beserta kampungnya ditenggelamkan oleh lumpur di daerah Petobo. Ini adalah tangis yang paling pilu yang pernah diperlihatkan seorang residen kepada saya. Saya hanya berusaha untuk menenangkannya dan memberikan motivasi positif. Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan. Baru kali ini saya mengalami kesulitan berbicara di hadapan klien saya.

Klien saya ini masih berumur 15 tahun. Datang ke balai rehabilitasi untuk memperbaiki diri setelah menjadi korban penyalahgunaan narkotika. Karena jarak Palu - Makassar yang cukup jauh, ia belum pernah bertemu lagi dengan orang tuanya sejak masuk menjalani rehabilitasi pada Juli lalu. Pada saat ia diberikan kesempatan untuk menelepon orang tuanya, beberapa kali kata rindu diucapkannya. Orang tuanya juga berjanji untuk datang menjenguknya pada pertengahan Oktober. Tapi manusia benar hanya mampu merencanakan. Hari ini ia melihat segala harapan dan motivasinya ditenggelamkan oleh lumpur akibat bencana yang melanda kampungnya. Seluruh keluarganya pun belum ada yang memberi kabar padanya. Ia menghadapi tekanan yang sangat berat.

Sebenarnya menjadi korban penyalahgunaan narkotika dan menjalani rehabilitasi di usia 15 tahun seperti klien saya itu saja sudah cukup berat membebani kondisi emosionalnya. Apalagi ditambah dengan musibah yang harus dialami olehnya. Tapi kami belum menyerah untuk terus menjalin kontak dengan keluarga klien saya ini. Oleh karena itu, jika ada teman yang berada di Palu dan dekat dengan daerah Petobo, kami mohon agar dapat membantu mencarikan kabar keluarga klien saya ini. Bantu saya untuk membantu pemulihan klien saya. Untuk mengobati rindunya pada keluarga.


*Kontak penulis +6285242111187
Share on Google Plus

About SULTRANESIA TV

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Posting Komentar