Mengenal SP3 Kepolisian dan SKP2 Kejaksaan


Oleh: Hendro Nilopo
Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah SP3 atau Surat Perintah Penghentian Penyidikan oleh Kepolisian dan SKP2 atau Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan oleh Kejaksaan.
Baik SP3 maupun SKP2 merupakan hak dan kewenangan institusi kepolisian dan kejaksaan yang diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
Adapun beberapa aturan lainnya yang berkaitan dengan SP3 dan SKP2 diatur dalam UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia dan UU Nomor 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.
Sebagai bahan pembelajaran bersama, untuk menambah pengetahuan kita bersama, maka penulis akan mencoba menguraikan apa yang dimaksud dengan SP3 Kepolisian dan apa yang dimaksud dengan SKP2 Kejaksaan beserta beberapa aturan atau legal standing yang berhubungan dengan SP3 dan SKP2.
SP3 Kepolisian
SP3 atau Surat Perintah Penghentian Penyidikan merupakan surat pemberitahuan dari penyidik kepolisian kepada jaksa penuntut umum (JPU) bahwa suatu perkara yang sedang ditangani dihentikan penyidikannya.
Adapun alasan diterbitkannya SP3 Kepolisian ada 3 hal: Pertama, karena penyidik tidak memiliki 2 alat bukti yang sah sebagaimana tertuang dalam Pasal 184 ayat 1 UU Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Oleh karena tidak memiliki cukup bukti maka kepolisian dapat menerbitkan SP3 sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 109 Ayat 2 undang-undang yang sama.
Kedua, karena yang dilakukan oleh seorang tersangka bukan merupakan tindak pidana. Hal itu didasarkan pada proses penyelidikan, penyidikan dan gelar perkara termaksud meminta klarifikasi dari pelapor dan terlapor oleh seorang penyidik.
Ketiga, karena alasan demi hukum. Suatu perkara dinyatakan batal demi hukum apabila memenuhi ketentuan seperti, seseorang tidak dapat dituntut 2 kali dalam perkara yang sama. Seseorang meninggal dunia sebagaimana diatur dalam Pasal 77 KUHP. Status kasus Kadaluwarsa sebagaimana diatur dalam Pasal 70 KUHP
SKP2 Kejaksaan
SKP2 atau Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan oleh Kejaksaan diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dan UU Nomor 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.
Berdasarkan Pasal 140 KUHAP, bahwa penuntut umum dapat menghentikan penuntutan dengan 2 alasan yakni apabila barang bukti tidak cukup atau perbuatan yang disangka bukan merupakan tindak pidana.
Artinya bahwa, meskipun suatu berkas perkara telah dinyatakan lengkap atau P21, penuntut umum tetap dapat menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) jika memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 140 KUHAP dan Pasal 32 (c) UU Nomor 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan Republik Indonesia
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa penghentian suatu perkara tindak pidana tidak hanya berlaku pada tahap penyidikan kepolisian saja tetapi juga pada tahap penuntutan kejaksaan.
Dasar Hukum:
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan Republik Indonesia
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Kepolisian Republik Indonesia.
*) Penulis adalah mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Jayabaya, Jakarta.
Berita BerikutnyaPj Bupati Harap Pemungutan Pajak di Mubar Meningkat Tahun Depan
Baca Juga
Di Balik Asap Sumatera dan Kalimantan: Pasar Global, Keuntungan, dan Tanggung Jawab Negara
Oleh: Ridwan Dhani Wirianata Setiap kali kebakaran hutan melanda Sumatera dan Kalimantan, perhatian publik biasanya tertuju pada kepulan asap dan upaya pemadaman. Namun, ada pertanyaan mendasar: mengapa kebakaran…
Nikel Kabaena dan Ujian Akuntabilitas Pemerintah Daerah
Oleh: Karno Kendaraan listrik kerap dipromosikan sebagai solusi utama dalam mengatasi krisis iklim global. Namun, di balik ambisi dunia mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, terdapat lonjakan kebutuhan…
Menakar Konstruksi Hukum Penambangan di Pulau-pulau Kecil Berdasarkan UU Nomor 27/2007
Oleh: Dr Jamal Aslan, SH, MH Hakikat penguasaan negara atas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya sebagaimana termaktub dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar…
Ketika Masa Lalu Pencalonan Kembali Disoal: Kepastian Hukum Vs Keadilan Substantif dalam PHPU
Oleh: Dr. Jamal Aslan, S.H., M.H Sebagai praktisi dan akademisi hukum yang berpegang pada prinsip negara hukum, momentum gugatan yang diajukan oleh Prof Denny Indrayana beserta para pemohon…
Kemerdekaan, Politik Kehadiran, dan Cinta
Oleh: Jaelani, S.IP., M.Si SETIAP kali bulan Agustus menyapa, ruang-ruang publik kita dipenuhi oleh warna merah putih, kibaran bendera, serta gaung pekik "Merdeka!" yang menggema dari pinggiran desa…
Sindrom Nimby Sampah di Kota Kendari
Oleh: Ishak Bafadal Sampah merupakan masalah bagi semua kota. Setiap hari kita selalu dihadapkan dengan persoalan sampah, yang seolah menjadi masalah yang tak terpecahkan. Salah satu penyebab persoalan…







