Belajar dari Pembangunan Tiongkok, Data Desa Presisi Jadi Fondasi Transformasi

Sultranesia
3 Min Baca
Belajar dari Pembangunan Tiongkok, Data Desa Presisi Jadi Fondasi Transformasi
Prof Tang Lixia dari China Agricultural University (CAU) dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA) IPB University, Prof Dr Sofyan Sjaf. Foto: Dok. Istimewa.

Bogor - Data Desa Presisi (DDP) yang dipadukan dengan partisipasi masyarakat, pengetahuan perguruan tinggi, serta pembelajaran dari pengalaman pembangunan global dinilai dapat menjadi fondasi penting bagi transformasi Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

Hal tersebut mengemuka dalam Public Lecture bertajuk Pembelajaran dan Keberhasilan Pembangunan Perdesaan di Tiongkok untuk Pemberdayaan Masyarakat Desa Ciangsana yang digelar Pemerintah Desa Ciangsana, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Prof Tang Lixia dari China Agricultural University (CAU) dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA) IPB University, Prof Dr Sofyan Sjaf.

Public Lecture ini diikuti perangkat desa, BPD, LPM, ketua RT dan RW, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, hingga berbagai elemen masyarakat.

Prof. Sofyan mengatakan, pembangunan desa membutuhkan kemampuan menghubungkan informasi lokal dengan pengetahuan yang lebih luas. Pengalaman pembangunan perdesaan di Tiongkok, kata dia, dapat menjadi bahan refleksi untuk memperkuat pembangunan di Desa Ciangsana.

Namun, pengalaman tersebut tidak harus ditiru mentah-mentah.

“Belajar dari pengalaman negara lain bukan berarti kita harus menyalin model pembangunan mereka. Yang jauh lebih penting adalah memahami prosesnya, menemukan prinsip-prinsip yang relevan, kemudian mengadaptasinya sesuai kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan sumber daya yang dimiliki desa kita sendiri,” ujar Prof. Sofyan.

Menurutnya, proses adaptasi akan semakin kuat jika desa memiliki basis data yang akurat. Dalam hal ini, Desa Ciangsana dinilai telah memiliki modal penting melalui Data Desa Presisi yang dibangun melalui kerja sama dengan IPB University.

DDP menyediakan informasi untuk membaca kondisi sosial dan spasial masyarakat, mengenali potensi ekonomi, mengetahui kelompok masyarakat, memetakan kebutuhan, hingga merumuskan program pembangunan agar lebih tepat sasaran.

“Pembangunan desa tidak boleh dimulai hanya dari asumsi. Desa harus mengetahui siapa warganya, di mana mereka berada, apa kondisi sosial ekonominya, apa sumber daya yang dimiliki, serta persoalan apa yang benar-benar mereka hadapi. Karena itu, data bukan sekadar kebutuhan administratif, tetapi instrumen bagi masyarakat desa untuk menentukan masa depannya,” tegasnya.

Data Desa Presisi dibangun melalui pendekatan bottom-up yang menggabungkan sensus, teknologi digital, data spasial, dan partisipasi masyarakat. Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses produksi pengetahuan mengenai desanya sendiri.

Meski demikian, Prof. Sofyan menegaskan bahwa data bukanlah tujuan akhir. Data harus diolah menjadi pengetahuan yang kemudian diterjemahkan ke dalam perencanaan dan tindakan kolektif.

Dalam proses tersebut, perguruan tinggi dapat berperan sebagai mitra strategis bagi desa.

“Perguruan tinggi tidak cukup hanya datang ke desa untuk melakukan penelitian. Pengetahuan harus dipertautkan dengan masyarakat dan mampu membantu desa memecahkan persoalan nyata. Ketika pengetahuan akademik bertemu dengan pengetahuan lokal masyarakat, data yang presisi, dan kepemimpinan desa yang kuat, di situlah peluang transformasi desa menjadi jauh lebih besar,” jelas Prof. Sofyan.

Ia juga menilai jejaring internasional, termasuk China Agricultural University, dapat memperkaya proses pembelajaran bagi Desa Ciangsana.

Tiongkok memiliki pengalaman dalam penguatan ekonomi lokal, pembangunan infrastruktur, pemanfaatan teknologi, peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan, serta pengembangan usaha berbasis sumber daya wilayah.

Pengalaman tersebut dapat menjadi referensi untuk memperluas cara pandang masyarakat dan pemerintah Desa Ciangsana dalam mengembangkan potensi wilayahnya.

Namun, Prof. Sofyan mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari seberapa banyak infrastruktur fisik yang dibangun.

Keberhasilan yang lebih substantif harus terlihat dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat, terbukanya kesempatan ekonomi, meningkatnya kualitas sumber daya manusia, kuatnya kelembagaan, terjaganya lingkungan, serta semakin besarnya kemampuan masyarakat dalam menentukan arah kehidupannya.

“Tujuan akhirnya bukan membangun desa yang sekadar terlihat maju secara fisik. Kita ingin membangun masyarakat desa yang berdaya, mampu mengelola sumber dayanya, memiliki kapasitas untuk mengambil keputusan, dan memperoleh manfaat nyata dari proses pembangunan,” katanya.

Karena itu, ia berharap Public Lecture tersebut menjadi pintu masuk menuju tahapan pembangunan yang lebih konkret di Desa Ciangsana.

Data Desa Presisi dapat dimanfaatkan untuk menentukan sektor prioritas, mengidentifikasi kelompok sasaran, menemukan potensi ekonomi, merancang peningkatan sumber daya manusia, serta mengembangkan berbagai inovasi desa.

Kolaborasi antara Pemerintah Desa Ciangsana, masyarakat, FISEMA IPB University, IPB University, dan China Agricultural University diharapkan dapat berkembang menjadi ruang pembelajaran yang berkelanjutan.

“Pertautkan inovasi bersama orang desa akan membawa perubahan substantif bagi masa depan desa dan negeri kita. Desa harus memiliki data, pengetahuan, dan kemampuan untuk merancang masa depannya sendiri. Tugas perguruan tinggi adalah berjalan bersama masyarakat dalam proses tersebut,” pungkasnya. Rilis.


Editor: Redaksi

Berita BerikutnyaDua Titik Api di Kolaka Timur Menyala, Puluhan Hektare Lahan Sawit Terbakar!
Bagikan:

Baca Juga