Bendungan Terbesar Ketiga di Indonesia Siap Dibangun di Sultra, Telan Anggaran Rp9,8 Triliun

Sultranesia
2 Min Baca
Bendungan Terbesar Ketiga di Indonesia Siap Dibangun di Sultra, Telan Anggaran Rp9,8 Triliun
Desain Bendungan Pelosika. Foto: Dok. Kementerian PU.

Kendari - Sulawesi Tenggara (Sultra) bakal memiliki bendungan terbesar di wilayahnya. Bendungan Pelosika di Kabupaten Konawe disiapkan menjadi salah satu proyek infrastruktur sumber daya air terbesar di Indonesia dengan nilai pembangunan mencapai sekitar Rp9,8 triliun.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memasukkan pembangunan Bendungan Pelosika dalam target pembangunan infrastruktur baru bidang Sumber Daya Air periode 2025-2029.

Jika terealisasi sesuai rencana, Bendungan Pelosika akan menjadi bendungan terbesar ketiga di Indonesia setelah Bendungan Jatiluhur dan Jatigede.

Pembangunan bendungan tersebut ditargetkan berlangsung pada 2026-2030. Saat ini, proyek Bendungan Pelosika berada dalam tahap pemrograman dan siap memasuki proses lelang.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, pembangunan bendungan harus berjalan selaras dengan pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi. Hal itu agar air yang ditampung dapat dimanfaatkan secara maksimal, terutama untuk mendukung sektor pertanian.

“Suplai air yang berkelanjutan menjadi kunci peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani,” kata Dody dilansir dari website resmi Kementerian PU, Kamis (24/9).

Bendungan Pelosika dirancang memiliki total kapasitas tampung mencapai 1,117 miliar meter kubik, dengan tampungan efektif sebesar 808 juta meter kubik.

Luas genangan bendungan mencapai 5.451,56 hektare, sedangkan luas daerah tangkapan air mencapai 2.780,93 kilometer persegi.

Dari sisi pertanian, keberadaan Bendungan Pelosika akan mendukung layanan irigasi seluas 20.458 hektare. Luasan tersebut terdiri dari 12.678 hektare daerah irigasi fungsional dan 7.780 hektare daerah irigasi potensial.

Dukungan pasokan air tersebut diharapkan mampu meningkatkan indeks pertanaman dari 220 persen menjadi 300 persen.

Artinya, lahan pertanian yang selama ini berpotensi ditanami dua kali dalam setahun diharapkan bisa meningkat menjadi tiga kali tanam dalam setahun.

Tak hanya untuk pertanian, Bendungan Pelosika juga disiapkan sebagai sumber penyediaan air baku bagi masyarakat Kabupaten Konawe.

Kapasitas penyediaan air baku mencapai 750 liter per detik. Air tersebut nantinya dapat diolah melalui instalasi pengolahan air (IPA) dan disalurkan melalui jaringan perpipaan untuk memenuhi kebutuhan air bersih sekitar 540.000 jiwa.

Bendungan ini juga memiliki fungsi pengendalian banjir. Keberadaannya diproyeksikan mampu mengurangi wilayah yang berisiko terdampak banjir dari 19.330 hektare menjadi 6.301 hektare.

Wilayah yang masuk dalam cakupan pengendalian banjir tersebut meliputi 10 kecamatan di Kabupaten Konawe, yakni Asinua, Abuki, Lambuya, Uepai, Unaaha, Konawe, Anggaberi, Wawotobi, Wonggeduku, dan Pondidaha.

Selain ketahanan pangan dan air serta pengendalian banjir, Bendungan Pelosika juga dirancang untuk mendukung pengembangan energi.

Proyek tersebut akan mendukung Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 40 megawatt (MW) serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 261,12 MW.

Secara teknis, Bendungan Pelosika menggunakan tipe urugan inti clay dengan tinggi mencapai 63 meter.

Elevasi puncak bendungan berada di 121 meter, dengan panjang puncak total 404,26 meter dan lebar puncak 15 meter.

Untuk menunjang keamanan konstruksi, bendungan tersebut dilengkapi pelimpah utama tipe ogee dan pelimpah darurat tipe broad-crest.


Editor: Denyi Risman

Berita BerikutnyaBenarkah Harga BBM Subsidi Naik 26 September 2026, Ini Penjelasan Pertamina
Bagikan:

Baca Juga