Forum Ekonomi Regional Sulawesi 2026 Siap Digelar di Kendari, Hadirkan Menteri hingga Tokoh Nasional

Sultranesia
4 Min Baca
Forum Ekonomi Regional Sulawesi 2026 Siap Digelar di Kendari, Hadirkan Menteri hingga Tokoh Nasional
Masjid Al Alam Kendari. Foto: Dok. Sultranesia.com.

Kendari - Universitas Islam Negeri (UIN) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), siap menjadi tuan rumah Forum Ekonomi Regional (FER) Sulawesi Kendari 2026 yang akan digelar Rabu, 26 Agustus 2026, di Amphitheater UIN Kendari.

Forum ini menjadi ruang dialog strategis bagi pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, dan masyarakat untuk merumuskan kebijakan serta solusi konkret bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan di kawasan timur Indonesia.

Mengusung tema Ekoteologi: Mewujudkan Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Ekoteologi, FER Sulawesi Kendari 2026 akan membahas bagaimana nilai spiritual, ilmu pengetahuan, serta aksi nyata dapat dipadukan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.

Pemilihan tema tersebut tidak terlepas dari kondisi Sultra yang dikenal sebagai salah satu daerah dengan kekayaan sumber daya alam, khususnya sektor pertambangan nikel.

Sultra tercatat memiliki cadangan bijih nikel mencapai 1,68 miliar ton dengan sumber daya sebesar 6,26 miliar ton. Pusat pengolahan nikel terintegrasi yang tersebar di Pomalaa, Morosi, dan Konawe juga menjadikan daerah ini sebagai salah satu pilar pertumbuhan industri logam dasar nasional.

Namun, di balik potensi ekonomi tersebut, terdapat tantangan ekologis yang perlu mendapat perhatian serius. Sultra tercatat mengalami deforestasi hingga 3.565,8 hektare serta menghadapi dampak limpasan sedimen (run-off) ke wilayah pesisir.

Kondisi inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar pentingnya dialog lintas sektor untuk mencari titik keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pemanfaatan sumber daya alam, dan kelestarian lingkungan.

FER Sulawesi Kendari 2026 diselenggarakan UIN Kendari bersama Kabar Grup Indonesia (KGI).

Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, dijadwalkan hadir sebagai keynote speaker. Forum ini juga menghadirkan sejumlah tokoh nasional, daerah, akademisi, serta pelaku usaha sebagai strategic speakers dan panelis.

Di antaranya Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Dadan Kusdiana, Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, CEO KGI Upi Asmaradhana, serta Rektor UIN Kendari, Husain Insawan.

Selain itu, sejumlah narasumber dari berbagai sektor juga akan hadir dalam sesi panel discussion. Mereka antara lain Anggota DPR RI dari Dapil Sulawesi Tenggara, Wali Kota Kendari, Bupati Buton Selatan, HIPMI Sulawesi Tenggara, praktisi industri pertambangan, Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Direktur Utama PT Vale Indonesia Tbk, serta Direktur Utama PT Indonesia Huabao Industrial Park (IHIP).

Forum tersebut akan berlangsung dalam dua sesi diskusi dengan perspektif yang berbeda namun saling melengkapi.

Diskusi I akan membahas penguatan fondasi kebijakan lokal, ekonomi regional, serta keterlibatan dunia usaha dan media.

Sesi ini menghadirkan Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, pakar ekonomi Abdul Rahman Farisi, Ketua Umum BPD HIPMI Sulawesi Tenggara Triawan Rizbar Taha, Direktur HRD PT Trio Kencana Syahrir, serta dosen dan praktisi media, Mahdar.

Sementara Diskusi II akan memperluas pembahasan pada aspek sosiologis, regulasi nasional, instrumen moneter, hingga literasi masyarakat.

Sesi ini diisi Bupati Buton Selatan, Muhammad Adios, pakar sosiologi Universitas Hasanuddin, Sawedi Muhammad, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara Edwin Permadi, Anggota DPD RI asal Sulawesi Tenggara periode 2024-2029, La Ode Umar Bonte, serta dosen dan pegiat literasi, Rivi Handayani.

Melalui forum ini, penyelenggara berharap pembahasan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dapat melahirkan aksi nyata dalam mengubah nilai-nilai spiritual dan keagamaan menjadi gerakan pelestarian lingkungan yang inklusif dan berkelanjutan.

Sulawesi Tenggara diharapkan mampu memperkuat posisinya sebagai salah satu pelopor gerakan ekoteologi dan pengelolaan sumber daya alam yang berkeadaban di kawasan timur Indonesia.

Lebih jauh, forum ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menjadikan Indonesia sebagai contoh dalam mengintegrasikan nilai keimanan, kearifan lokal, serta kebijakan publik untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.

Penyelenggaraan FER Sulawesi Kendari 2026 mendapat dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak, di antaranya Kementerian Agama RI, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kota Kendari, Pemerintah Kabupaten Buton Selatan, serta UIN Kendari.

Dukungan juga datang dari Bank Indonesia (BI), Athaya, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Tenggara, PT Trio Kencana, Kaukus Timur Indonesia, dan HIPMI Sulawesi Tenggara.

Sejumlah media juga terlibat sebagai media partner untuk menyebarluaskan informasi sekaligus mengawal publikasi kegiatan.

Media partner tersebut antara lain KabarIndonesia, KabarBursa, Kabar Makassar, MCNnewsultra.id, Sultranesia.com, Lajur.co, Zonasultra.id, Panjikendari.com, Detiksultra, Sultraline.id, Kendarinesia, Lenterasultra.com, Tegas.co, Teramedia.id, Inilahsultra.com, Kendari Merdeka, Kilas Sultra, Bumisultra.com, Sultrakini.com, Bentaratimur.com, Sultratop.com, serta Serambi Muslim.

FER merupakan rangkaian forum ekonomi regional yang sebelumnya telah digelar di sejumlah wilayah Indonesia.

Rangkaian tersebut dimulai dari FER Kalimantan di Pontianak pada Oktober 2025, FER Indonesia Timur di Makassar pada 24 Desember 2025, FER Jakarta pada awal 2026, FER Sumatera di Palembang pada 20 April 2026, FER Jawa di Yogyakarta pada 4 Juni 2026, serta FER Jawa Barat pada 23 Juni 2026.

Setiap pelaksanaan FER mengangkat tema yang disesuaikan dengan karakteristik dan potensi masing-masing wilayah.

FER Kalimantan mengangkat penguatan konektivitas ekonomi dan potensi investasi lintas wilayah di kawasan Borneo.

FER Indonesia Timur membahas kapitalisasi ekonomi biru, potensi kelautan, dan Transmigrasi 4.0 sebagai pilar kekuatan ekonomi Indonesia Timur.

Sementara FER Jakarta berfokus pada penguatan pusat pertumbuhan dan keuangan di kawasan megapolitan Jakarta.

FER Sumatera mengangkat pengembangan ekosistem dan industri halal berbasis ekonomi syariah, sedangkan FER Jawa membahas penguatan kebijakan wajib halal dan literasi keuangan syariah.

Adapun FER Jawa Barat mengangkat pembangunan ekonomi digital yang berbasis pada budaya, kearifan lokal, dan pengembangan Kawasan Rebana.

Kini, giliran Sulawesi Tenggara menjadi tuan rumah. FER Sulawesi Kendari 2026 diharapkan mampu mempertemukan kepentingan ekonomi dan lingkungan dalam satu ruang dialog, sekaligus mendorong lahirnya gagasan dan kebijakan yang lebih berkelanjutan bagi masa depan Sultra dan kawasan timur Indonesia. Rls.


Editor: Redaksi

Berita BerikutnyaTak Ada Lagi Pemutihan Pajak Kendaraan di Sultra, Pemprov Hanya Beri Diskon 5 Persen
Bagikan:

Baca Juga