Menu MBG yang Buat Puluhan Siswa di Konawe Keracunan Mengandung Bakteri E.Coli

Sultranesia
2 Min Baca
Menu MBG yang Buat Puluhan Siswa di Konawe Keracunan Mengandung Bakteri E.Coli
Seorang siswi muntah-muntah di RSUD Konawe diduga keracunan usai santap menu MBG. Foto: Dok. Istimewa.

Kendari - Terungkap sudah hasil pemeriksaan laboratorium terkait dugaan keracunan yang dialami puluhan siswa SMAN 20 Konawe setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe melalui Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) menemukan adanya kontaminasi bakteri E-coli pada sampel makanan yang diambil dari SMAN 20 Konawe.

Hasil uji laboratorium tersebut dirilis setelah Dinkes Konawe memeriksa dua sampel makanan yang disajikan oleh dapur SPPG Tongauna-Asao pada Kamis, 25 September 2026.

Dari dua sampel yang diperiksa, satu diambil dari dapur SPPG Tongauna-Asao dan satu lainnya dari makanan yang telah sampai di SMAN 20 Konawe.

Hasilnya, sampel makanan dari dapur SPPG Tongauna-Asao dinyatakan nol bakteri atau steril. Sementara sampel makanan yang diambil dari sekolah ditemukan mengandung bakteri coliform dan E-coli.

Kepala Dinas Kesehatan Konawe, Yones, menjelaskan pada kuah bakso ditemukan 3.500 bakteri coliform dan 150 bakteri E-coli. Sedangkan pada pentol bakso ditemukan 3.000 bakteri coliform dan 140 bakteri E-coli.

"Dua sampel makanan yang diuji, satu dari dapur SPPG Tongauna-Asao, satu dari sekolah. Hasilnya sampel makanan dari dapur SPPG Tongauna-Asao 0 bakteri," kata Yones dilansir dari Muarasultra.

"Sedangkan sampel makanan dari sekolah ditemukan 3.500 bakteri coliform, 150 E-coli di kuah bakso, kemudian 3.000 bakteri coliform, 140 bakteri E-coli dari pentol bakso," imbuhnya.

Menurut Yones, kontaminasi bakteri tersebut diduga menjadi penyebab munculnya sejumlah gejala yang dialami siswa SMAN 20 Konawe setelah mengonsumsi menu MBG.

Ia menjelaskan, siswa yang memiliki daya tahan tubuh lebih lemah dapat langsung mengalami reaksi setelah mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi bakteri. Gejalanya antara lain alergi, gatal, mual, pusing dan keluhan lainnya.

Yones juga menduga kontaminasi makanan bisa terjadi setelah makanan meninggalkan dapur SPPG Tongauna-Asao dan dalam proses pengantaran hingga sampai ke sekolah.

Pasalnya, pada wadah makanan yang diantarkan oleh SPPG tidak tercantum label maupun batas waktu konsumsi makanan.

"Mungkin makanan ini terpapar saat diantar, karena di sekolah kan ada ruangan tempat makanan ini disimpan. Mungkin saja terpapar sinar matahari, kelembaban ruangan atau sudah lewat waktu konsumsinya," jelasnya.

Yones menyebut kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena gejala serupa tidak dialami oleh siswa SMP, SD maupun balita yang juga menerima program MBG.

Atas temuan tersebut, Yones meminta seluruh SPPG yang berada di Kabupaten Konawe untuk benar-benar menerapkan standar operasional prosedur (SOP) sesuai petunjuk Badan Gizi Nasional (BGN).

Ia menegaskan, kejadian serupa tidak boleh kembali terulang dan harus menjadi bahan evaluasi bagi pihak SPPG maupun seluruh jajaran terkait.

"Kita tidak inginkan hal seperti ini terulang. Oleh karena itu saya meminta agar pihak SPPG maupun BGN agar SOP benar-benar dilaksanakan. Apapun hasilnya, pihak SPPG harus bertanggung jawab dan ini menjadi evaluasi bagi pihak SPPG beserta seluruh jajaran di dalamnya," tegas Yones.


Editor: Denyi Risman

Berita BerikutnyaPendapatan Daerah Sultra Ditarget Naik Jadi Rp4,56 Triliun dalam Perubahan APBD 2026
Bagikan:

Baca Juga