Omzet Pedagang Pasar Torobulu Turun Drastis Sejak PT WIN Berhenti Beroperasi

Sultranesia
2 Min Baca
Omzet Pedagang Pasar Torobulu Turun Drastis Sejak PT WIN Berhenti Beroperasi
Kondisi Pasar Torobulu Kabupaten Konawe. Foto: Dok. Istimewa.

Kendari - Berhentinya aktivitas operasional PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) tidak hanya berdampak pada kegiatan perusahaan, tetapi juga ikut memengaruhi perputaran ekonomi masyarakat di sekitar Pasar Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan.

Sejumlah pedagang mengaku mengalami penurunan pendapatan cukup signifikan sejak aktivitas PT WIN berhenti beroperasi. Salah satunya Wa Oba, pedagang nasi kuning asal Dusun I, Desa Wonuakongga, Kecamatan Laeya.

Wa Oba mengaku pendapatannya turun hingga sekitar 50 persen dibandingkan saat aktivitas PT WIN masih berjalan. Menurutnya, keberadaan perusahaan sebelumnya turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat, terutama pedagang dan pelaku usaha kecil di sekitar Pasar Torobulu.

Ia mengatakan, ketika aktivitas pertambangan PT WIN masih berlangsung, pendapatan dari berjualan nasi kuning dalam satu kali aktivitas pasar bisa mencapai lebih dari Rp1 juta.

“Dampaknya sangat terasa, terutama pada perekonomian. Semenjak ada tambang, alhamdulillah hasil jualan kita dalam satu pasar minimal Rp1 juta lebih,” ujar Wa Oba.

Namun, kondisi tersebut berubah setelah aktivitas PT WIN berhenti. Pendapatan yang diperolehnya kini diperkirakan hanya sekitar separuh dari sebelumnya.

“Turun drastis, kira-kira 50 persen,” kata dia, Senin (24/8/2026).

Wa Oba menuturkan, penurunan aktivitas ekonomi juga dirasakan pedagang lainnya di sekitar Pasar Torobulu. Tidak hanya pedagang makanan, para pedagang kaki lima dan pelaku usaha lainnya turut merasakan berkurangnya pembeli.

“Bukan saja saya, semua penjual dan pedagang kaki lima sangat terbantu dengan adanya PT WIN,” ungkapnya.

Menurut Wa Oba, turunnya pendapatan tersebut ikut berdampak pada kondisi ekonomi keluarganya. Dengan empat orang anak yang masih membutuhkan biaya pendidikan serta kebutuhan sehari-hari, ia mengaku harus lebih berhemat.

“Sekarang kebutuhan sehari-hari sangat terbatas,” tuturnya.

Dampak berhentinya aktivitas PT WIN juga dirasakan keluarganya setelah sang suami yang sebelumnya bekerja sebagai operator penyiram di perusahaan tersebut tidak lagi memiliki pekerjaan tetap.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, suaminya kini harus mencari pekerjaan serabutan. Saat tidak mendapatkan pekerjaan lain, ia memilih melaut atau menggali batu.

“Suami sekarang cari kerja kecil-kecilan. Kalau tidak melaut, ya gali batu,” jelasnya.

Di tengah kondisi tersebut, Wa Oba berharap aktivitas PT WIN dapat kembali berjalan. Ia menilai beroperasinya perusahaan sebelumnya memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

“Harapan saya semoga PT WIN masuk kembali dan beroperasi kembali. Karena adanya PT WIN bagus, perekonomian kita mencukupi. Sangat membantu,” pungkasnya.


Editor: Muh Fajar

Berita BerikutnyaJangan Salahkan El Nino, Praktisi Kehutanan Ungkap Penyebab Karhutla Terus Terjadi di Indonesia
Bagikan:

Baca Juga