Smelter Raksasa Bahan Baku Baterai EV Mulai Beroperasi di Sulawesi Tenggara!

Sultranesia
2 Min Baca
Smelter Raksasa Bahan Baku Baterai EV Mulai Beroperasi di Sulawesi Tenggara!
Ilustrasi baterai EV. Foto: Dok. Shutterstock.

Kendari - Kabar besar datang dari sektor industri nikel dan ekosistem kendaraan listrik di Sulawesi Tenggara (Sultra). PT Vale Indonesia Tbk menjadwalkan operasional atau startup proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) raksasa di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, pada Agustus 2026 ini.

Proyek tersebut ditargetkan menjadi salah satu tulang punggung dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.

Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah, memaparkan kesiapan proyek yang berlokasi di kawasan Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) tersebut.

Ia menegaskan, rencana operasional smelter HPAL ini merupakan salah satu upaya perusahaan dalam mendukung program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah.

"Nah jika tidak ada halang melintang bulan Agustus ini siap untuk di-startup. Ini adalah cikal bakal integrated ecosystem baterai, salah satu ekosistem baterai yang ada di Indonesia," kata Budiawansyah dalam acara Grand Seminar HIPMI di Jakarta, Kamis, dilansir dari CNBC Indonesia, Senin (10/8).

Proyek HPAL di Pomalaa tersebut memiliki kapasitas produksi mencapai 120 kiloton atau hampir dua kali lipat dari kapasitas operasional Vale saat ini.

Produk antara yang dihasilkan berupa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yang menjadi salah satu bahan baku utama untuk industri baterai kendaraan listrik.

"Jadi di kawasan industri IPIP, Indonesia Pomalaa Industrial Park, which is industrial itu hadir karena adanya angkor plan yaitu kerjasama antara Vale, Huayou sebagai technological providers dan juga Ford Motor," ujarnya.

Budiawansyah menjelaskan, kolaborasi strategis antara Vale, Ford dan Huayou tersebut dirancang sebagai industri jangkar yang nantinya diharapkan dapat menarik investasi lanjutan di sektor hilir.

Kawasan tersebut juga disiapkan untuk menampung investor yang akan mengolah produk antara MHP menjadi prekursor hingga katoda baterai.

"Jadi di sini memang sudah didesain sebagai angkor industrinya dan juga sebagai sampai kepada prekursor dan katoda nanti banyak beberapa investor-investor yang akan datang," tambahnya.

Melalui proyek HPAL tersebut, PT Vale Indonesia berkomitmen memperkuat industri nikel Indonesia agar tidak hanya berhenti pada pengolahan di sektor hulu.

Perusahaan juga fokus memastikan rantai pasok dari kegiatan pertambangan hingga produksi material baterai dapat berjalan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Sebagai informasi, High Pressure Acid Leaching (HPAL) merupakan teknologi pengolahan bijih nikel yang dapat menghasilkan bahan baku untuk industri baterai kendaraan listrik.

Proyek HPAL yang digarap PT Vale Indonesia sejatinya berada di tiga provinsi, yakni Pomalaa di Sulawesi Tenggara, Morowali di Sulawesi Tengah, dan Sorowako di Sulawesi Selatan.

Khusus proyek smelter HPAL di Pomalaa, nilai investasinya mencapai US$4,5 miliar atau sekitar Rp80,6 triliun dengan asumsi kurs Rp17.911 per US$.

Smelter tersebut ditargetkan mampu memproduksi 120 ribu ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun.

Proyek raksasa ini juga melibatkan perusahaan otomotif asal Amerika Serikat (AS), Ford Motor Co., serta perusahaan asal China, Zhejiang Huayou Cobalt.

Dengan beroperasinya smelter HPAL Pomalaa, kawasan industri di Kolaka diharapkan menjadi salah satu bagian penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik, sekaligus memperkuat hilirisasi nikel di Indonesia.


Editor: Redaksi

Berita BerikutnyaPolda Sultra Tangkap Pengedar 1,8 Kg Sabu dan 79 Butir Ekstasi di Perumahan Kendari
Bagikan:

Baca Juga