Ekspor Sultra Naik 23,13 Persen, Tiongkok Serap 95,30 Persen


Kendari – Nilai ekspor Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Agustus 2026 mencapai US$342,86 juta, meningkat 23,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat US$278,46 juta.
Data tersebut berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra yang dipublikasikan pada Kamis (1/10/2026). Dalam rilis itu disebutkan, kenaikan nilai ekspor terjadi di tengah volume ekspor yang relatif stabil.
Pada Agustus 2026, volume ekspor Sultra tercatat 206,98 ribu ton, hanya meningkat 0,36 persen dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 206,23 ribu ton.
Dari sisi komoditas, besi dan baja menjadi salah satu penopang utama ekspor Sultra. Nilai ekspor komoditas tersebut pada Agustus 2026 mencapai US$335,46 juta, meningkat US$63,38 juta atau 23,29 persen dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar US$272,08 juta.
Kinerja ekspor Sultra sepanjang Januari-Agustus 2026 juga masih didominasi sektor industri pengolahan. Nilainya mencapai US$2.654,03 juta atau 99,82 persen dari total ekspor, naik 9,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$2.422,43 juta.
Pasar Tiongkok menjadi tujuan utama ekspor Sultra. Sepanjang Januari-Agustus 2026, nilai ekspor ke negara tersebut mencapai US$2.533,80 juta atau 95,30 persen dari total ekspor Sultra.
Besarnya porsi Tiongkok menunjukkan konsentrasi pasar ekspor Sultra masih sangat kuat pada satu negara tujuan. Kondisi tersebut berjalan seiring dengan dominasi sektor industri pengolahan dalam struktur ekspor daerah.
Sementara itu, dari sisi impor, Sultra mencatat nilai US$318,86 juta pada Agustus 2026. Angka tersebut melonjak 212,78 persen dibandingkan Agustus 2025.
Kenaikan impor terutama didorong golongan mesin-mesin dan pesawat mekanik yang nilainya mencapai US$64,68 juta. Dibandingkan Agustus 2025, nilai impor golongan barang tersebut meningkat signifikan sebesar 926,37 persen.
Sepanjang Januari-Agustus 2026, tiga negara menjadi pemasok utama barang impor Sultra, yakni Tiongkok sebesar US$1.494,38 juta, Singapura US$547,09 juta, dan Malaysia US$248,59 juta.
Berdasarkan golongan penggunaan barang, impor Sultra masih didominasi bahan baku dan penolong. Kontribusinya mencapai 57,56 persen dengan nilai US$1.515,80 juta.
Meski impor melonjak tajam, perdagangan Sultra pada Agustus 2026 masih mencatat surplus sebesar US$24,00 juta karena nilai ekspor tetap lebih tinggi dibandingkan impor.
Editor: Denyi Risman
Berita BerikutnyaLa Ode Burhanudin Danai Rompon Ban Bekas untuk Nelayan Muna Barat, Targetnya Hentikan Alat Tangkap Ilegal
Baca Juga
BBM Masuk 3 Kali Sepekan, Warga Buton Selatan Kesulitan, Harga Eceran Rp25 Ribu
Buton Selatan – Penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di SPBU Kompak Desa Masiri, Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan, milik CV AI Faroq, dikeluhkan masyarakat. Meski pasokan disebut…
Bupati Muna Barat Soroti Telur Murah dari Sulsel, Peternak Terancam
Muna Barat – Bupati Muna Barat, La Ode Darwin, menyoroti persaingan harga telur dari Sulawesi Selatan (Sulsel) yang dinilai menghambat penjualan hasil peternakan ayam petelur lokal. Harga telur…
KKP Bidik 169 Lokasi KNMP di Sultra, Ini Syarat Lolos Penilaian
Kendari – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan 169 calon lokasi pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk tahun 2027. Namun, seluruh lokasi tersebut…
DPRD Muna Barat Siapkan Ranperda Ekonomi Kreatif, Ini Deretan Fasilitas yang Dibidik
Muna Barat – DPRD Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara, mulai membahas rancangan peraturan daerah (Ranperda) tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif yang memuat sejumlah dukungan bagi pelaku usaha, mulai dari…
Geram Barcode Mobil Dipakai Orang Lain Beli Pertalite, Warga Kendari Minta SPBU Cari Pelakunya
Kendari – Warga Kota Kendari, Atika Harli, geram setelah barcode kendaraan miliknya kembali digunakan orang lain untuk membeli BBM subsidi di SPBU THR di Jalan Budi Utomo, Kelurahan…
Bupati Muna Barat Ajukan Revitalisasi Pelabuhan Pajala dan Subsidi Tondasi-Torobulu ke Kemenhub
Muna Barat – Bupati Muna Barat La Ode Darwin membawa persoalan konektivitas transportasi daerah ke Kementerian Perhubungan RI melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Rabu (30/9/2026). Dalam audiensi tersebut,…







