Wajah Buruk Pendidikan di Sultra di Puncak HUT RI ke-80: Siswa Dikeroyok hingga Kritis

Sultranesia
2 Min Baca
Wajah Buruk Pendidikan di Sultra di Puncak HUT RI ke-80: Siswa Dikeroyok hingga Kritis
ANR, siswa SMAN 12 Kendari, ditemukan tergeletak berlumuran darah akibat dikeroyok oleh siswa diduga dari sekolah lain. Foto: Dok. Istimewa.

Kendari - Perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia di Sulawesi Tenggara (Sultra) seharusnya menjadi momentum kebanggaan, namun justru tercoreng insiden tragis.

Seorang siswa SMAN 12 Kendari berinisial ANR ditemukan bersimbah darah usai menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok pelajar diduga dari sekolah lain, pafa Minggu (17/8) siang, di Jalan Budi Utomo, Kecamatan Wuawua, Kendari.

Polisi telah mengamankan 11 siswa yang diduga sebagai pelaku. Korban, yang kritis akibat luka parah di kepala, harus menjalani operasi di RSUD Bahteramas.

Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka, bahkan turun langsung menjenguk dan menanggung biaya pengobatan korban.

Namun, di balik perhatian publik pada kasus ini, muncul pertanyaan besar: bagaimana wajah pendidikan Sultra bisa sedemikian rapuh hingga melahirkan aksi brutal antarpelajar.

Fakta ini menampar keras wajah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra. Alih-alih membanggakan prestasi siswa, Sultra kembali jadi sorotan karena kasus tawuran dan kekerasan pelajar.

Ironisnya, masalah ini bukan peristiwa tunggal, melainkan berulang hampir setiap tahun tanpa solusi tuntas.

Pendidikan semestinya menjadi ruang pembentukan karakter, bukan arena subur bagi kekerasan. Namun, lemahnya pengawasan sekolah, minimnya program pembinaan mental, hingga absennya strategi pencegahan yang sistematis membuat sekolah-sekolah di Sultra kerap gagal mendidik siswa dengan nilai moral dan kemanusiaan.

Dinas Dikbud Sultra dinilai terlalu sibuk pada urusan administratif dan proyek seremonial ketimbang fokus pada isu fundamental: bagaimana membentuk budaya sekolah yang aman, humanis, dan mendidik.

Tawuran, perundungan, dan bahkan kasus kriminal pelajar seakan dianggap “musim tahunan” tanpa evaluasi mendalam.

Jika Dinas Pendidikan hanya bereaksi setiap ada kasus besar, tanpa program nyata yang mencegah akar masalah, maka insiden seperti pengeroyokan ANR akan terus berulang. Pendidikan di Sultra membutuhkan reformasi serius, bukan sekadar janji manis.

Di momen peringatan HUT RI ke-80, ketika bangsa lain membicarakan inovasi pendidikan dan lompatan teknologi, Sultra justru dipaksa menunduk karena berita duka dari jalanan.

Sebuah ironi yang menegaskan: pendidikan di Sultra sedang sakit, dan Dinas Pendidikan tak boleh lagi menutup mata.


EDITORIAL

Berita BerikutnyaPolisi Tahan 11 Pelaku Pengeroyokan Siswa SMA di Kendari, Korban Kritis
Bagikan:

Baca Juga