Oknum LBH Sultra Diduga Pungli Bantuan Hukum, Negara Bayar tapi Masyarakat Dipalak


Kendari - Program bantuan hukum gratis bagi masyarakat kurang mampu kembali tercoreng. Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kemenkum) Sulawesi Tenggara (Sultra) menemukan sejumlah oknum lembaga bantuan hukum (LBH) terakreditasi yang diduga masih meminta bayaran kepada penerima bantuan hukum.
Kepala Subbidang Penyuluhan Hukum, Bantuan Hukum, dan JDIH, Lukman M Saada, mengungkapkan praktik tersebut terungkap dari hasil monitoring dan evaluasi tahun 2024.
“Dalam proses verifikasi itu ditemukan fakta dan bukti yang menunjukkan ada beberapa lembaga bantuan hukum yang sesungguhnya keluar dari koridor. Ternyata ada yang meminta atas nama oknum dana pada penerima bantuan hukum dalam proses perkara di peradilan,” ujar Lukman usai penyuluhan hukum kepada 150 WBP di Rutan Kelas IIA Kendari, Senin (25/8).
Tak hanya itu, Kemenkum juga menemukan adanya LBH yang sekadar mencatut nama dalam pendampingan hukum.
“Ada juga kasus yang kita temukan, katanya didampingi oleh salah satu LBH. Tapi kenyataannya, menurut informasi yang kita himpun, jangankan didampingi di peradilan, kenal dengan pengacaranya pun saja tidak pernah,” tegasnya.
Padahal, sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, seluruh biaya pendampingan telah ditanggung negara.
“Proses pembiayaan dari mulai dalam proses sampai pada putusan peradilan itu negara yang membiayai. Larangan itu mutlak, tidak boleh ada permintaan dana terkait pendampingan hukum,” kata Lukman.
Ia menegaskan, hasil evaluasi akan menjadi dasar menentukan nasib akreditasi LBH di Sultra.
“Tiga tahun sekali kita lakukan verifikasi ulang. Apakah memang LBH yang ada masih layak memperoleh status terakreditasi atau tidak. Kalau tidak, bisa saja statusnya dicabut, dan kita buka peluang bagi LBH baru yang memenuhi syarat,” tandasnya.
Saat ini tercatat ada 20 LBH yang terakreditasi di Bumi Anoa, tersebar di berbagai kabupaten dan kota.
Editor: Redaksi
Berita BerikutnyaTelan Anggaran Rp 3 M, Diresmikan Gubernur ASR, Terminal Lacaria Kolut Sepi
Baca Juga
Dua Jurnalis Jadi Terlapor Usai Liput Demo, AJI Desak Kapolresta Kendari Dicopot
Kendari – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Sulawesi Tenggara (Sultra) mendesak Kapolresta Kendari Kombes Pol. Safi’i Nafsikin dan Kasat Reskrim Kompol Welliwanto Malau…
Sudah Disegel dan Didenda Rp590 Juta, Dua Galangan Kapal di Konsel Diduga Masih Beroperasi
Kendari – Dua galangan kapal di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), kembali disorot setelah diduga masih beroperasi meski telah disegel dan dikenai denda administratif total Rp590…
Pekerja Mundur, Progres Lambat, Proyek RSUD Muna Barat Rp158,3 Miliar Disorot KSP
Muna Barat – Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muna Barat, Sulawesi Tenggara, senilai Rp158,3 miliar menghadapi persoalan serius. Progres pekerjaan fisik yang diperkirakan belum mencapai 25 persen,…
KUHP Baru Perluas Peran PK, IPKEMINDO Sultra Siapkan Strategi
Kendari – Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru memperluas peran Pembimbing Kemasyarakatan (PK) dalam sistem peradilan pidana. Ikatan Pembimbing Kemasyarakatan Indonesia (IPKEMINDO) Sulawesi Tenggara (Sultra) menyiapkan penguatan…
Ombudsman: Ridwan Badallah Banyak Sebar Ujaran Kebencian di TikTok
Kendari – Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara (Sultra), Ridwan Badallah, disorot Ombudsman RI Perwakilan Sultra setelah ditemukan banyak ujaran kebencian dalam konten TikTok pribadinya, @eRBe#bersuara. Ujaran tersebut tidak…
Ruksamin Menang Sengketa Mesin Crusher, Jalil Siapkan Perlawanan di Pengadilan Tinggi
Kendari – Sengketa kepemilikan satu unit mesin crusher antara mantan Bupati Konawe Utara (Konut), Ruksamin, dan Jalil berlanjut ke tingkat banding. Kuasa hukum Jalil, Imam Rifaldi memastikan pihaknya…







