Panen Raya di Tengah Kekeringan, Pemkot Kendari Perkuat Dukungan Pertanian Amohalo

Sultranesia
3 Min Baca
Panen Raya di Tengah Kekeringan, Pemkot Kendari Perkuat Dukungan Pertanian Amohalo
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, saat menghadiri panen padi musim tanam kedua 2026 di kawasan persawahan Amohalo, Senin (28/9/2026). Foto: Dok. Istimewa.

Kendari - Di tengah ancaman kekeringan, hamparan sawah Amohalo di Kelurahan Baruga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, masih mampu menghasilkan padi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota Kendari. Kawasan persawahan yang berada di tengah wilayah perkotaan itu dinilai memiliki peran penting dalam menopang ketahanan pangan daerah.

Hal itu disampaikan Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, saat menghadiri panen padi musim tanam kedua 2026 di kawasan persawahan Amohalo, Senin (28/9/2026).

Panen kali ini berlangsung di lahan seluas 9 hektare. Kepala Dinas Pertanian Kota Kendari, Imran Ismail, menyebut kawasan persawahan Amohalo memiliki luas panen sekitar 330 hektare.

Namun, musim tanam kedua tahun ini tidak berjalan mudah. Kekeringan melanda sekitar 320 hektare lahan pertanian.

Dari luasan tersebut, sekitar 200 hektare mengalami kekeringan ringan, 40 hektare terdampak kekeringan sedang, dan 32 hektare masuk kategori berat. Sementara lahan yang dilaporkan gagal panen mencapai 10 hektare.

Di tengah kondisi tersebut, dukungan pengairan menjadi salah satu langkah untuk mempertahankan produksi pertanian.

Balai Wilayah Sungai Sulawesi Tenggara sebelumnya membantu dengan menyiapkan mobil pompa air selama sekitar satu pekan untuk mengambil air dari sumber di Sungai Wanggu.

Wali Kota Kendari Siska Karina Imran mengatakan, kondisi kekeringan yang dihadapi petani tidak boleh mematahkan semangat untuk mengembangkan potensi pertanian di Kota Kendari.

“Ini bukan menjadi penggugur semangat kita untuk tetap bangkit dalam mengupayakan apa yang menjadi potensi, terutama potensi pertanian kita di Kota Kendari,” ujar Siska.

Menurutnya, keberadaan kawasan persawahan Amohalo merupakan potensi yang harus dipertahankan. Terlebih, lahan pertanian yang berada di tengah kawasan perkotaan menjadi salah satu kekuatan dalam mendukung ketahanan pangan.

Siska berharap lahan sekitar 320 hektare di kawasan tersebut dapat dimaksimalkan untuk meningkatkan produksi pangan. Pasalnya, kebutuhan beras masyarakat Kota Kendari hingga kini masih membutuhkan pasokan dari luar daerah.

Tak hanya mengandalkan bantuan alat dan infrastruktur, Pemkot Kendari juga membuka akses permodalan bagi petani.

Kelompok tani yang membutuhkan modal usaha, kata Siska, dapat difasilitasi melalui skema pembiayaan tanpa bunga dan tanpa agunan.

Pemkot Kendari juga mendorong agar fasilitas penggilingan padi yang telah direvitalisasi dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Dengan adanya penggilingan tersebut, petani diharapkan tidak perlu lagi membawa gabah keluar wilayah untuk menjalani proses pengolahan.

“Kenapa tidak kita manfaatkan penggilingan tersebut karena sudah ada, kemarin sudah direvitalisasi, sudah diperbaiki. Tahun ini harus bisa,” katanya.

Pemanfaatan fasilitas penggilingan lokal dinilai dapat menekan biaya mobilisasi sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil panen petani.

Persoalan air juga menjadi perhatian pemerintah. Pemkot Kendari sebelumnya telah mengalokasikan biaya tidak terduga untuk pembangunan sumur dan mesin pompa guna mendukung kebutuhan pengairan kawasan pertanian.

Siska meminta seluruh potensi tersebut dimanfaatkan secara optimal. Ia juga menginstruksikan Dinas Pertanian menyiapkan perencanaan program secara matang agar kebutuhan petani dan kawasan persawahan dapat masuk dalam agenda pembangunan 2027.

Sementara itu, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tenggara, Kamri Alwi, mengatakan Kota Kendari masuk dalam target program pertanian modern dengan luasan sekitar 340 hektare.

Kamri memperkenalkan sistem tanam rapat yang sebelumnya telah diuji coba di Kolaka Timur. Dalam uji coba tersebut, produktivitas sejumlah lahan disebut mampu mencapai 8 hingga 12,7 ton per hektare.

Menurutnya, masih terdapat peluang dukungan untuk pembangunan infrastruktur pertanian, mulai dari jaringan irigasi tersier, sumur bor, jaringan irigasi air tanah, normalisasi saluran hingga pembangunan embung.

Tak hanya soal produksi, sektor pascapanen juga menjadi perhatian. Kamri mendorong penggunaan mesin pengering atau dryer untuk mempercepat proses pengeringan gabah sekaligus menjaga kualitas beras.

Pasalnya, penanganan gabah yang terlambat setelah panen dapat memengaruhi kualitas beras yang dihasilkan.

Dalam kesempatan tersebut, Dinas Pertanian Kota Kendari juga menyerahkan bantuan alat mesin pertanian kepada sejumlah kelompok tani.

Bantuan itu terdiri dari tiga unit combine harvester, dua unit traktor roda dua dan tiga unit pompa air.

Dengan dukungan pengairan, alat mesin pertanian, akses permodalan hingga fasilitas pengolahan pascapanen, Pemkot Kendari berharap kawasan persawahan Amohalo tidak sekadar bertahan menghadapi kekeringan.

Lebih dari itu, Amohalo diharapkan terus berkembang menjadi salah satu kawasan pertanian penting yang mampu menopang kebutuhan pangan masyarakat Kota Kendari.


Editor: Muh Fajar

Berita BerikutnyaFajar Ishak Buka-bukaan Soal Anggaran KPID Sultra: 12 Bulan Kerja, Anggaran Cuma Cukup 5 Bulan
Bagikan:

Baca Juga